Sikap Tegas Taufik Basari MPR Soal Pancasila Sebagai Dasar dan Ideologi Negara

Minggu, 01 November 2020 – 13:54 WIB
Ketua Fraksi Partai Nasdem MPR RI Taufik Basari SH, S.Hum, LL.M saat memberikan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di hadapan masyarakat Desa Setu, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan Provinsi Banten, Sabtu (31/10). Foto: Humas MPR RI

jpnn.com, TANGSEL - Ketua Fraksi Partai Nasdem MPR RI Taufik Basari SH, S.Hum, LL.M mengingatkan, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdiri di atas kesepakatan, yang dibangun secara bersama oleh seluruh golongan dan kelompok masyarakat yang ada saat itu. Oleh karena itu, kesepahaman bersama, tersebut harus senantiasa dipupuk suburkan agar langgeng, tidak gampang dirusak oleh siapapun. 

“Kesepakatan mendirikan NKRI, ini harus didukung oleh seluruh rakyat Indonesia, tak terkecuali generasi muda. Bahkan, generasi muda harus mampu menjadi agen keutuhan NKRI dengan selalu mempererat persatuan dan kesatuan juga menghalau masuknya Ideologi yang bertentangan dengan Pancasila," kata Taufik Basari.

BACA JUGA: Peringati Hari Sumpah Pemuda, Semua Pihak Diminta Kawal Tegaknya Pancasila

Pernyataan itu disampaikan Taufik Basari saat memberikan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di hadapan masyarakat Desa Setu, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan Provinsi Banten. Sosialisasi Empat Pilar, itu terselenggara berkat kerja sama MPR dengan Komunitas Merah Putih Perumahan Puri Serpong 1, Tangsel.

Acara tersebut berlangsung di kompleks perumahan Puri Serpong 1 Tangsel Sabtu (31/10). Tema yang dibahas pada acara itu adalah Implementasi Nilai-nilai Pancasila Untuk Restorasi Indonesia.

BACA JUGA: Hutan Tak Terawat Kini Jadi Desa Wisata Pancasila, Diresmikan oleh Ketua MPR

Sebelum merdeka, kata Taufik, Indonesia berbentuk suku-suku bangsa, kelompok masyarakat dan kerajaan. Kelompok-kelompok komunitas masyarakat, itu hidup secara bersama dengan peran masing-masing.

Lalu, datanglah utusan dagang dari Belanda. Semula, niat mereka hanyalah untuk berdagang, tapi kemudian memonopoli perdagangan dan melakukan penjajahan.

BACA JUGA: Gubernur Nurdin Umumkan Kenaikan UMP Sulawesi Selatan, Berlaku Mulai 1 Januari 2021

“Hidup di bawah penjajahan itu ternyata tidak nyaman. Karena itu tumbuhlah kesadaran untuk melepaskan diri dari belenggu penjajah. Namun, perjuangan mereka melepaskan diri dari penjajahan selalu gagal lantaran perjuangan yang dilakukan bersifat sektoral," kata Taufik menambahkan.

Setelah berkali-kali gagal, maka timbullah kesadaran kolektif, mereka berjuang bukan untuk kelompoknya sendiri-sendiri, tetapi untuk kepentingan bersama. Kesadaran kolektif para pendiri bangsa, ini muncul bersamaan dengan lahirnya politik etik yang digagas pemerintah Belanda. Salah satu kesadaran kolektif, itu muncul dalam bentuk Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Sumpah Pemuda melihat bahwa keberagaman suku bangsa, bahasa, adat istiadat, agama, dan ras yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kekayaan. Perbedaan yang dimiliki bangsa Indonesia harus dijaga dan dilestarikan. Karena keberagaman, itu bukan untuk memecah belah, tapi untuk mempersatukan.

“Sejak itu muncullah kebesaran jiwa dikalangan para pendiri bangsa untuk saling berkorban demi kepentingan yang lebih besar,” kata Taufik lagi.

Salah satu bukti pengorbanan dan kesepakatan yang ditunjukkan para pendiri bangsa adalah diterimanya Pancasila sebagai dasar dan ideologi bangsa Indonesia. Pancasila yang lepas dari tujuh kata dalam Piagam Jakarta, seperti yang ditemukan saat ini, merupakan bentuk pengorbanan yang harus terus ditumbuh kembangkan dan selalu dilestarikan  di bumi Indonesia.

Pancasila hasil pengorbanan dan kesepakatan besar para pendiri bangsa, itu tidak boleh diganti dengan ideologi dan dasar negara apapun.(ikl/jpnn)

Yuk, Simak Juga Video ini!


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler