Siswa SMK Bisa Buat Mobil

Kamis, 08 Desember 2011 – 09:16 WIB

Tak hanya laptop, siswa SMK kini bisa membuat mobil! SMK Muhammadiyah Borobudur salah satunyaMemanfaatkan bahan impor dari China, produksi mobil yang diberi nama Esemka terus berlangsung.

M RONA ANGGIE, Magelang

SATU alasan positif sumbangan pembaca Radar Cirebon disampaikan ke kompleks perguruan Muhammadiyah Borobudur

BACA JUGA: Bias Gender, Desak Buku SD-SMP Direvisi

SMK Muhammadiyah Borobudur memiliki prestasi gemilang
Sejak 2009, pelajar SMK di sana berhasil memproduksi mobil

BACA JUGA: Dana BOS Naik 43,75 Persen

Produk mereka telah mengikuti banyak pameran otomotif tingkat nasional


“Baru kami SMK yang bisa membuat mobil

BACA JUGA: Pemkot Pilih Pendidikan Bersubsidi

Lainnya, ada SMK di Solo dan Pati,” kata Kepala SMK Muhammadiyah Borobudur, Yitno SPd, menerangkan sekolah lain dekat kabupaten Magelang seperti Jogjakarta dan Semarang belum ada yang coba membuat mobil.

Saat peresmian gedung serbaguna Muhammadiyah, Minggu (5/12), mobil-mobil buatan pelajar dipamerkan di lapangan basket setempatPara undangan, di antaranya Komisaris Utama Radar Cirebon HM Alwi Hamu dan Dirut Radar Cirebon Yanto S Utomo, antusias melihat detil bagian mobil.

Paling menarik perhatian mobil bakery, mobil box terbuka didesain khusus untuk penjualan rotiBahkan mobil ini dilirik serius bos-bos Radar Cirebon Grup, karena bisa dimanfaatkan sebagai kendaraan pendukung siaran TV lokal milik Radar Cirebon Grup yang tersebar di banyak daerah hingga Magelang
Jenis mobil Esemka lainnya, banyak menyerupai mobil sport dari merek ternama seperti Ford Everest, Suzuki New Grand Vitara dan Mitsubishi EstradaAda juga yang sudah beroperasi, dimanfaatkan sebagai mobil ambulance.

Yitno menjelaskan walau banyak yang berminat memesan mobil Esemka, pihaknya hingga kini masih fokus pada pembelajaran perakitan komponen mobil untuk siswa“Belum untuk jual beli,” tegasnya

Sukses produksi mobil di sana, bermula dari rencana kerja Direktorat Pendidikan SMK Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas)SMK Muhammadiyah Borobudur dipilih sebagai salah satu sekolah di Indonesia yang berkesempatan mendapat kiriman impor komponen produksi mobil dari ChinaDua orang guru SMK Muhammadiyah Borobudur kemudian dikirim ke pelatihan perakitan mobil di CikampekDari guru tersebut, ilmu produksi mobil diserap siswa

Bentuk body mobil, dijelaskan Yitno, serupa dengan mobil-mobil produksi China yang ada di jalanan negeri Tirai BambuSMK Muhammadiyah Borobudur menerima potongan body mobil untuk dirakit mengikuti buku petunjukTermasuk perakitan bagian mesinLama produksi satu unit mobil mencapai dua minggu“Kalau di pabrik modern mobil ternama, satu menit bisa jadi tujuh unit mobil,” ujar Yitno membandingkan lama produksi mobil menggunakan sistem manual seperti dilakukan pelajar, dengan sistem pabrikasi.

Mobil Esemka bisa dipakai di jalananNamun pihak sekolah membatasi penggunaannya di sekitar kawasan wisata Borobudur“Kalau mau dipakai muter-muter Borobudur saja bisaTapi kalau ke jalan raya utama, enggak enak sama pak polisiKarena mobil ini belum ada lisensi resmi untuk beroperasi di jalanan umum Indonesia,” terang Kepala SMA Muhammadiyah Umi Khayah Rusiyanah SPdAgar inovasi dan kreasi siswa memproduksi mobil terus berlangsung, Yitno menyebutkan, setelah satu mobil sukses dibuat, diperbolehkan membongkarnya kembali untuk membuat mobil baru

Pada akhirnya, karena minat pelajar pada jurusan otomotif untuk bisa merakit mobil makin tinggi, sekolah mulai merasakan keterbatasan komponen pembuatan mobilUpaya Direktorat Pendidikan SMK Depdiknas mengimpor kembali komponen dari China, terganjal birokrasi adiministrasi  Bea Cukai

Menurut Yitno, pihak Bea Cukai khawatir impor komponen mobil dimanfaatkan untuk menghasilkan mobil illegal alias bodong“Padahal jelas ini untuk kepentingan pelajar kita, eh dipersulit,” tuturnya seraya mengungkapkan lewat proses alot akhirnya komponen impor itu bisa lepas dari tangan Bea Cukai dengan uang pelicin.

Semangat pelajar SMK Muhammadiyah Borobudur memproduksi mobil berkobar hebatKedatangan impor komponen yang baru dimanfaatkan untuk membuat “mahakarya” mobil bis panggung“Belum pernah dengar kan,” tanya Yitno, memancing penasaran“Kita akan buat mobil bis terbuka untuk bisa dijadikan panggung (hiburan, red).”

Digambarkan, jarak rentang antar roda bis sisi kiri dan kanan, sekitar 6-8 meterYitno menunjuk sebuah bangunan besar, depan gedung serbagunaDi sana bengkel SMK, tempat pembuatan bis panggungYitno tak menargetkan kapan produk monumental itu bisa selesaiPada letusan Merapi Oktober 2010 lalu, atap bengkel pernah rubuh di hantam hujan material vulkanik gunung MerapiKini, produk membanggakan akan lahir dari balik bengkel yang telah kembali tegak itu(*)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Lulus SD, Bawa Sertifikat Imunisasi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler