Slamet Tenang, Lokon Makin Aktif

Selasa, 16 September 2014 – 03:03 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Dua gunung yang sempat mengalami erupsi mulai menunjukkan perbedaan aktivitas. Gunung Slamet di Jawa Tengah menunjukkan penurunan aktivitas, setelah mengalami erupsi pada Jumat (12/9) lalu. Sebaliknya, gunung Lokon di kota Tomohon, Sulawesi Utara, menunjukkan peningkatan aktivitas.

Berdasarkan pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi bencana Geologi (PVMBG), dua hari terakhir tidak tampak asap hitam yang keluar dari kawah. Selain itu, intensitas gempa juga menurun. Hingga kemarin siang, tercatat gempa hembusan terjadi 30 kali tanpa disertai asap.

BACA JUGA: Hukuman Luthfi Hasan Diperberat MA

"Tapi, status Gunung Slamet masih tetap Siaga atau level III. Kondisi saat ini masih dipantau apakah cenderung turun atau hanya fluktuasi saja," terang kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta kemarin.

Jika ternyata hanya fluktuasi, maka aktivitas gunung Slamet bisa naik lagi. Menurut dia, pemda dan masyarakat di sekitar Gunung Slamet saat ini sudah dalam keadaan siaga. Pihaknya hanya sebatas menginformasikan karena semua arahan terkait rencana kontijensi sudah siap dilakukan. Masyarakat umumnya sudah siap dengan kondisi terburuk, meski sebenarnya watak Gunung Slamet tidak seganas Gunung Merapi atau Kelud.

BACA JUGA: Jokowi: Dampak Negatif Pilkada Langsung untuk Pendewasaan Rakyat

Sementara itu, di Sulawesi Utara, gunung Lokon makin aktif. Kemarin, muncul asap putih dengan ketinggian hingga 200 meter. Kemudian, terjadi 19 kali gempa vulkanik dalam, 32 kali gempa vulkanik dangkal, dan 10 kali gempa hembusan. Status gunung tersebut sama seperti Gunung Slamet, yakni Siaga.

Pihaknya meminta masyarakat waspada terhadap potensi letusan mendadak. Jenisnya berupa letusan magmatic yang melontarkan material pijar berukuran lapili (debu) hingga bongkahan. Hujan abu tebal juga berpotensi terjadi, begitu pula dengan luncuran awan panas.

BACA JUGA: SBY Penasaran Pendapat Jokowi soal Mekanisme Pilkada

"Kalau awan panas muncul, akan mengarah ke jalur sungai pasahapen," lanjutnya.

Untuk saat ini, masyarakat sudah diminta untuk tidak beraktivitas di luar radius 2,5 kilometer dari kawah. Selebihnya, rencana kontijensi sedang disusun oleh BNPB dan BPBD setempat dengan melibatkan Pemda. Sehingga, jika sewaktu-waktu terjadi letusan hebat, aparat maupun masyarakat sudah siap. (byu)

BACA ARTIKEL LAINNYA... KAI Desak DPR Segera Ketok Palu RUU Advokat


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler