Soegeng Soejono, 48 Tahun Jadi 'Orang Terbuang' di Republik Ceko

Sempat Jadi Dosen, Kontrak Habis, lalu Kerja Serabutan

Sabtu, 29 Oktober 2011 – 00:09 WIB
Soegeng Soejono dengan kameranya saat menjadi pemandu bagi warga Indonesia di Praha. Foto : Arief Santosa/Jawa Pos

jpnn.com, PRAHA - Soegeng Soejono, satu di antara segelintir orang Indonesia yang masih tersisa di tanah pengasingan, Republik CekoMeski begitu, di usia senjanya, dia ingin mengabdikan tenaga dan pikiran untuk "tanah air"-nya

BACA JUGA: Soekarno, Pangeran Diponegoro, Soedirman dan Teuku Umar pun Nikah Bareng

Berikut laporan wartawan Jawa Pos ARIEF SANTOSA yang menemui Soejono di Praha belum lama ini.

=====================

SIANG itu, 15 Oktober, rombongan Jawa Pos Group yang baru saja mengikuti Kongres Koran Sedunia di Wina, Austria, sudah ditunggu sejumlah staf KBRI di Praha

Tempatnya bukan di kantor KBRI, melainkan di sebuah taman di sentra ibu kota Republik Ceko itu.
   
Taman tersebut begitu ramai

BACA JUGA: Waspada, Isu Bangkitnya PKI Bakal Muncul Lagi

Ribuan wisatawan dari berbagai negara hilir-mudik menikmati suasana pusat perbelanjaan suvenir ala Malioboro, Jogja, tersebut.
   
Meski begitu, pertemuan informal antara staf KBRI Praha dan rombongan Jawa Pos Group di taman kota itu berlangsung gayeng dan akrab
"Hati-hati, dompet, tas, dan kameraDi sini banyak copetTidak hanya di Indonesia yang ada copetnya," ujar Guntur, salah seorang staf KBRI Praha, mengingatkan.
   
Guntur lalu mengenalkan tiga laki-laki tua yang akan menjadi pemandu rombonganMereka adalah Soegeng Soejono, Siswantono, dan Anwar PurnamaMereka bukan staf KBRI, tapi tiga kakek-kakek itu memang  sering "dimanfaatkan" tenaganya untuk menjadi guide orang Indonesia yang berkunjung ke Ceko.
   
"Bapak-bapak ini yang akan mendampingi rombonganBeliau sudah berpengalaman," ujar Guntur.
   
Tiga orang itu memang asli IndonesiaHanya, mereka sudah puluhan tahun "terdampar" di Republik CekoBahkan, sudah menjadi warga negara itu.

Mereka adalah para pelajar yang dulu dikirim pemerintah Soekarno pada 1960-an untuk belajar di EropaNamun, akhirnya mereka tidak bisa kembali karena dituduh komunis oleh pemerintah Orde Baru pimpinan Soeharto.
   
"Kami ini orang-orang terbuangKami sangat kecewa pada pemerintahan Soeharto yang sewenang-wenang dan asal tuduhKami dibilang anggota PKI," ungkap Soejono mewakili dua temannya.
   
Meski usianya sudah menginjak 73 tahun, Soejono tampak masih gesit dan sehatLogat dan gaya bicara bahasa Indonesianya juga tidak berubah menjadi kebarat-baratanBahkan, terdengar njawani.
   
"Lha saya ini asli Madiun, tapi dibesarkan di Jogja dan MagelangSaya lulusan SMA Pendowo, Magelang, 1958," aku laki-laki berpostur kecil dengan  guratan wajah ramah itu.
   
Begitu lulus SMA, Soejono memang tidak langsung melanjutkan kuliahOrang tuanya tidak mempunyai biayaBaru pada 1963 dia berkesempatan menempuh pendidikan di perguruan tinggiDia dikirim oleh pemerintahan Soekarno untuk melanjutkan studi di Republik Ceko.
   
"Saya masih ingat, saya meninggalkan Indonesia pada 10 September 1963Sejak itu tidak pernah kembali ke IndonesiaJadi, sudah 48 tahun lebih saya tinggal di Ceko," jelasnya.
   
Di negara sosialis itu, Soejono belajar filsafat di Charles UniversityTapi, belum sempat merampungkan kuliah, di tanah air pecah revolusi berdarah, Gerakan 30 September 1965 yang konon didalangi Partai Komunis Indonesia (PKI)Sejumlah jenderal dibunuhNama Presiden Soekarno dibawa-bawaLalu terjadi "kudeta"Soeharto naik.
   
Kondisi inilah yang akhirnya membawa ketidakpastian bagi sebagian mahasiswa yang sedang menempuh studi di luar negeri, terutama di negara-negara Eropa TimurSebab, mereka dianggap berhaluan "kiri" dan PKIAkibatnya, mereka tidak berani pulang ke tanah air.
   
"Kalau pulang, berarti setor nyawaKalau tidak dibunuh, ya masuk bui," ujar ayah dua anak itu.
   
Dia menyebut beberapa kawannya yang akhirnya tewas begitu tiba di IndonesiaBeberapa lainnya dibuang ke Pulau Buru bersama sastrawan Pramoedya Ananta Toer"Tapi, ada juga yang selamatBahkan, menjadi menteri dan pejabat di era Orba maupun setelah itu," lanjut Soejono tanpa bersedia menyebut nama-nama itu.
   
Menurut dia, dari 100 mahasiswa yang dikirim pemerintah Soekarno ke Eropa Timur, akhirnya tinggal sekitar 30 orang yang memilih tidak pulang ke tanah air, termasuk Soejono"Orang-orang terbuang" itu kemudian melakukan perlawanan terhadap pemerintahan SoehartoMereka antipati terhadap rezim Orba yang mereka nilai zalim dan sewenang-wenang.
   
Selain filsafat, Soejono mempelajari pedagogik dan psikologi anak di kampus yang samaKelak, tiga ilmu itu dia manfaatkan untuk mengajar di almamaternya"Saya sepuluh tahun mengajar di Charles UniversityTerutama mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia kepada para mahasiswa Ceko."
   
Di Charles University memang terdapat Indonesian StudiesBahkan, sampai sekarang program itu masih dipertahankan.
   
Soejono mesti membanting tulang untuk bertahan hidup di negeri orangItu sebabnya, selain mengajar, dia bekerja sambilan di perpustakaan Kota PrahaDia kembali bekerja ekstra lagi setelah kontraknya mengajar dan menunggu perpustakaan habis.
   
"Saya kemudian jadi buruh serabutanKhususnya untuk menangani kegiatan pameran-pameran," tambahnya.
   
Hal itu harus dilakukan karena Soejono sudah menjadi warga Ceko dan beristri perempuan setempat bernama Barunka Soejonova (Barunka istri Soejono, Red)Dari perkawinan gado-gado itu, mereka dikaruniai dua anak laki-laki: Yan Soejono dan Igor Soejono.

Kini kedua anak Soejono sudah mentas dan telah memberinya dua cucuYan bekerja di perusahaan ekspedisi, sedangkan Igor berprofesi sebagai geologSeptember lalu, Igor mencatatkan diri sebagai "orang Indonesia" pertama yang menginjakkan kaki di Benua Antartika.
   
Bersama lembaga penelitiannya, dia menjadi salah seorang anggota tim riset geologi di Kutub Selatan itu selama sebulan.  "Dia begitu bangga menjadi orang Indonesia pertama di Antartika," kata Soejono.
   
Namun, kebanggaan anaknya itu dibantah Soejono sendiriDia bilang, "TidakKamu bukan orang Indonesia pertama yang ke AntartikaKamu itu orang Ceko yang blasteran Indonesia."
   
Era reformasi yang sukses menggulingkan rezim Orba rupanya memberi angin segar bagi "orang-orang terbuang" seperti Soejono csBahkan, ketika menteri hukum dan HAM dijabat Yusril Ihza Mahendra, ada upaya untuk "memaafkan" orang-orang terbuang yang selama ini tinggal di luar negeriTapi, kebijakan itu dianggap Soejono dkk sebagai penghinaan.
   
"Lho, kenapa kami harus menerima pengampunan? Wong kami tidak bersalahSalah kami itu apa?" ungkap Soejono suatu hari ketika wacana pengampunan bagi "orang-orang terbuang" itu ditanyakan wartawan BBC London yang mewawancarainya.
   
Dia juga menolak ganti rugi material yang ditawarkan pemerintah Indonesia"Kami tidak perlu dikasihani, wong kami di sini senang-senang kokKami tidak butuh itu," tukasnya.
   
Menurut Soejono, yang layak mendapat ganti rugi adalah para pejuang yang kemudian justru dituduh PKI lalu diasingkan di Pulau BuruNama mereka layak direhabilitasi dan mendapatkan ganti rugi atas "hukuman" yang semestinya tidak mereka jalani.
   
Kini, di masa tuanya, Soejono cs berusaha untuk tetap berkarya sekecil apa punTerutama bagi tanah kelahirannyaKarena itu, dia bersemangat ketika diberi kepercayaan KBRI untuk mendampingi warga Indonesia yang berkunjung ke CekoDengan kamera SLR yang digantung di lehernya, Soejono akan menemani tamunya ke objek-objek wisata Kota Praha.
   
"Kalau di Jogja, kawasan ini seperti MalioboroPusat jualan suvenirTuris selalu ke sini untuk berbelanja," tandas Soejono yang dua tahun lalu sempat mendampingi duta seni Ceko tampil di Surabaya atas prakarsa budayawan yang pengusaha Henky Kurniadi(c2/kum)


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Ceko   KBRI   Soekarno   PKI  

Terpopuler