Sosok GKR Mangkubumi di Mata Anak-anak Sultan HB X Lainnya

Penyuka Tempe Busuk Itu Dianggap Sosok Pemberi Solusi

Sabtu, 09 Mei 2015 – 13:19 WIB
GKR Pambayun (kanan) yang telah dinobatkan sebagai Putri Mahkota Keraton Jogjakarta. Foto: Radar Jogja/JPNN

jpnn.com - GUSTI Kanjeng Ratu (GKR) Pambayun telah dinobatkan sebagai Putri Mahkota Keraton Jogjakarta. Hal itu ditetapkan dalam acara Dawuhraja pada Selasa (5/5) lalu.

Dalam penobatan itu, gelar putri pertama Sultan Hamengku Bawono X itu berganti menjadi Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi. Banyak yang meyakini, diberikannya gelar tersebut menandakan bahwa Pambayun yang akan menjadi pewaris tahta Keraton Jogjakarta selanjutnya. Bagaimana sosok perempuan yang juga istri dari KPH Wironegoro itu ?

BACA JUGA: Jembatan Kutai Kartanegara yang Sebentar Lagi Hidup Kembali

 

RIZAL SETYO NUGROHO/HERU PRATOMO, JOGJA

BACA JUGA: Kisah Menegangkan Evakuasi WNI di Yaman, tak berani Jawab SMS Istri

 

Dalam prosesi Dawuhraja, seperti dijelaskan oleh Sri Sultan Hamengku Bawono X, awalnya GKR Pembayun duduk berjejer bersama-sama dengan adik-adiknya yang lain. Kemudian, HB X meminta Pembayun maju di depan HB X dan dibacakan dari Dawuhraja itu.

BACA JUGA: Perjuangan Tim Kemenlu Mengevakuasi WNI dari Konflik Yaman

“Setelah saya menetapkan, dia berhak dipersilakan duduk di Watu Gilang,” terang Sultan HB X di Dalem Wironegaran, Jumat (7/5).

Dari situ bisa disimbolkan bahwa HB X menunjuk putri pertamanya itu sebagai penerusnya. Ada pun di mata adik-adiknya, GKR Mangkubumi adalah sosok yang bijaksana dan hati-hati dalam bertindak. Selain itu, juga memiliki sisi humor.

“Dia sosok yang tegas, tipikalnya bicara seperlunya saja. Namun jika adik-adiknya mempunyai masalah, dia selalu memiliki solusi,” ujar GKR Bendara dilansir Radar Jogja (Grup JPNN.com), Sabtu (9/5).

Namun putri bungsu Sultan HB X itu mengaku tidak banyak memiliki kenangan waktu kecil bersama kakak sulungnya itu. Sebab saat dia baru mulai masuk sekolah dasar, kakak sulungnya sudah mulai masuk SMA.

“Kami berjarak 14 tahun. Setelah sama-sama agak besar, kakak saya itu dikirim ke luar negeri. Baru mulai dekat saat saya mau masuk kuliah. Kami ngobrol dan saya minta pertimbangan waktu mau memilih jurusan. Saya minta bantuan baiknya seperti apa. Dan dia selalu dapat memberikan solusi,” terangnya.

Meski keluarga keraton, ternyata untuk urusan kuliner, perempuan yang sebelum menikah bernama Gusti Raden Ajeng Nurmalitasari itu, penyuka tempe busuk. Kegemaran kulinernya itu biasanya dilakukan jika akhir pekan bersama adik-adiknya.

“Kuliner dia sukanya olahan makan tempe bosok (busuk) dimasak. Hari Minggu tidak bisa diganggu gugat. Biasanya dengan anak dan suami pergi makan ke mal, atau kalau long weeken biasanya kumpul masak-masak di keraton,” ungkap GKR Bendoro yang sebelumnya bernama Gusti Raden Ajeng Nurastuti Wijareni itu.

Dengan dinobatkannya GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi, sebagai adik dia mendoakan kakaknya dapat menerima dawuh sebaik-baiknya.

“Semoga tetap amanah,” ungkapnya.

Sementara itu, GKR Pembayun setelah dinobatkan sebagai Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram, masih belum mau terbuka dengan awak media.

Namun ketika terus didesak, akhirnya Sang Ratu mau angkat bicara, termasuk penobatan nama barunya menjadi GKR Mangkubumi. Diakuinya dengan perubahan nama tersebut membawa konsekuensi dan tanggung jawab yang lebih berat.

“Dengan nama Mangkubumi ini, punya tanggung jawab yang berat, saya masih menyesuaikan,” terangnya.

Menurut dia, meski namanya berubah, belum ada perubahan tugas di dalam Keraton Jogja. Dirinya masih bertugas untuk membantu GBPH Yudhaningrat di Penghageng Manggala Yudha Kraton Jogja. Tugasnya juga masih sama, yaitu nguri-nguri kebudayaan, serta menjaga makam dan petilasan, tarian Keraton Jogja.

“Tugas baru belum disampaikan,” tandasnya.

Dia berterus terang bahwa dirinya bersama para adik-adiknya masih membutuhkan bantuan dari para Rayi Dalem untuk mengajari dan membimbing dalam tugas-tugasnya di Keraton Jogja.

“Saya masih baru, masih butuh bantuan Romo-romo untuk mengajari,” jelasnya.

Terkait pro kontra setelah keluarnya Sabdaraja dan Dawuhraja, yang juga melibatkan para Pangeran tersebut, GKR Mangkubumi mengaku hal itu wajar. Tetapi dirinya mengatakan hanya menjalankan dawuh dari Allah SWT melalui ayahnya.

“Saya hanya menjalankan dawuh Gusti Allah yang melalui Ngarso Dalem, bapak saya. Saya akan pegang amanah tersebut,” terangnya.

Tugas yang nantinya akan diberikan padanya, GKR Mangkubumi mengaku harus siap menjalankan. Dari nama lengkapnya yang baru merupakan nama besar, punya tugas besar untuk nyengkuyung.

Termasuk untuk menjalin komunikasi dengan Rayi-rayi Dalem, GKR Mangkubumi mengatakan untuk mempersatukan kembali Rayi-rayi dalem tersebut merupakan kewenangan Ngarso Dalem sebagai kakak.

Meskipun begitu, dirinya mengaku masih membutuhkan peran dari om-omnya tersebut, yang disapa para Romo untuk mengajari.

“Saya tetap hormat karena beliau-beliau tetap om-om saya dan adik-adik,” ungkapnya.

GKR Mangkubumi juga mengisahkan saat akan dinobatkan nama baru melalui Dawuhrojo Selasa (5/5), sebelumnya tidak diberitahu. Dirinya hanya diminta untuk nyepak ke Sitihinggil pukul 11.00 WIB. Saat itu dirinya juga hanya menggunakan kebaya biasa.

Di Sitihinggil dirinya juga duduk bersama dengan saudara lainnya. Tapi tiba-tiba diminta HB X untuk maju untuk dinobatkan dan diminta untuk duduk di Watu Gilang.

“Bagi saya dengan duduk di situ beban dan tugas saya bertambah,” terangnya.

Ketika ditanyakan apakah dia nantinya akan menjadi Putri Mahkota Keraton Jogja, GKR Mangkubumi mengatakan hal itu hanya di koran saja. Menurut dia, di dalam Dawuhraja hanya menetapkan pergantian nama. Termasuk ketika ditanya kesiapannya menjadi calon Ratu Keraton Jogja.

 “Ojo gengge mongso pertanyaannya,” kilahnya.

Ketua KNPI DIJ tersebut juga berharap setelah ada penjelasan resmi dari HB X, masyarakat tidak perlu bingung lagi. Masyarakat diharapkan bisa lebih paham dari sebelumnya. Dirinya juga mengulangi perkataan HB X yang menyatakan untuk memahami Sabdaraja dan Dawuhraja tidak bisa dengan pikiran tapi dengan rasa.

“Rasa itu membuat peka, jadi mengerti asal-usul, jadi diri sendiri tahu siapa kita, kalau pikiran ya seperti orang ujian dengan pikir,” terangnya. (*/jko/ONG)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Surga Ikan di Tumbang Malahoi, Kabupaten Gunung Mas, Itu Kini Hilang


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler