Sri Mulyani Pantau PHK Besar-Besaran di Industri Garmen, Serius, nih!

Kamis, 03 November 2022 – 19:22 WIB
Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengaku memantau isu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang masif di industri garmen tekstil dan dampaknya ke perekonomian. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengaku memantau isu pemutusan hubungan kerja (PHK) yang masif di industri garmen dan tekstil berikut dampaknya ke perekonomian.

Bendahara negara itu mengaku sedang melakukan pemantauan tersebut bersama dengan kementerian/lembaga (K/L) lainnya.

BACA JUGA: Sri Mulyani Berbagi Kabar Membahagiakan soal APBN

"Kami akan monitor fenomena PHK tersebut secara spesifik bersama K/L yang lain," kata Menkeu Sri Mulyani dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (3/11).

Menurut Sri Mulyani, sebetulnya sektor tekstil masih menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, bahkan memberikan kontribusi terhadap kinerja ekspor.

BACA JUGA: Jangan Terlalu Khawatir soal Resesi Ekonomi, Simak nih Penjelasan Bu Sri Mulyani

Dia membeberkan ekspor pakaian jadi dan aksesori dengan kode HS61 masih tumbuh pada September 2022 sebesar 19,4 persen.

Adapun ekspor pakaian jadi dan aksesori non-rajutan dengan kode HS62  tumbuh 37,5 persen.

BACA JUGA: Sri Mulyani jangan Hanya Jago Mengajukan Utang Baru, tetapi Harus Andal Melakukan Renegosiasi

Selain itu, ekspor produk tekstil lainnya, seperti alas kaki dengan kode HS64 juga masih tumbuh 41,1 persen pada periode sama. Hal itu menandakan produksi di industri garmen tekstil tidak mengalami gangguan berarti.

"Kami juga terus mendorong LPEI (Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, red) sebagai SMV (special mission vehicle) Kemenkeu untuk mendorong diversifikasi destinasi ekspor. Di sisi lain terus melihat kemampuan untuk menjaga risiko dari perlambatan ekonomi negara maju," kata Sri Mulyani.

Eks Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menduga yang terjadi adalah perusahaan melakukan realokasi pabrik seiring dengan membaiknya kondisi infrastruktur di tempat lain di Indonesia.

Atau, kata Sri Mulyani, karena pengusaha ingin mencari kawasan dengan upah buruh yang lebih baik.

"Dengan infrastruktur yang makin baik dan terhubung, maka terjadi realokasi pabrik untuk mencari kondisi yang relatif kondusif dari upah. Kami akan perhatikan detail fenomena realokasi posisi manufaktur Indonesia, dari daerah yang upahnya tinggi ke rendah," katanya.

Perkumpulan Pengusaha Produk Tekstil Jawa Barat (PPPTJB) sebelumnya menyatakan akan terjadi dampak negatif dari konflik geopolitik di Ukraina, salah satunya adalah PHK yang masif dan penutupan pabrik garmen tekstil.

PPPTJB mencatat dari 124 perusahaan di Jawa Barat, terdapat 64.165 pekerja yang sudah menjadi korban PHK, serta 18 perusahaan terpaksa ditutup karena tidak mampu lagi bertahan di tengah situasi sulit tersebut. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler