Strategi Pemprov Jatim Genjot Investasi Sektor Manufaktur

Rabu, 10 Juli 2019 – 05:16 WIB
Ilustrasi kawasan industri. Foto: Yudhi Dwi Anggoro/Radar Gresik/JPNN

jpnn.com, SURABAYA - Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus berusaha mewadahi kebutuhan investasi di bidang manufaktur dalam beberapa tahun ke depan.

Salah satu caranya ialah dengan mendorong pengembangan area kawasan industri (KI) di beberapa wilayah.

BACA JUGA: Strategi Pemprov Kalsel Genjot Investasi

Sampai saat ini luas potensi lahan kawasan industri di Jatim mencapai 31.784 hektare.

BACA JUGA: Kontribusi Pajak UMKM Belum Signifikan

BACA JUGA: Kawasan Industri di Jatim Masih Sangat Menjanjikan

Kepala Bidang Pengembangan Industri dan Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim Saiful Jasin mengatakan, dari luas potensi lahan tersebut hingga sekarang total KI yang existing sekitar 4.097 ha.

”Artinya, peluang untuk lebih mengembangkan KI masih cukup besar,” ujarnya. Jika diperinci, kawasan existing tersebut, antara lain, Java Integrated Industrial Port Estate (JIIPE) dengan luas 1.761 ha.

BACA JUGA: Hambatan Utama Industri Alas Kaki

Lalu, Kawasan Industri Gresik (KIG) 140 ha, Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) 248 ha, Sidoarjo Industrial Estate Brebek 87 ha, Ngoro Industrial Park (NIP) 500 ha, Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER) 534 ha, dan Safe N Lock Eco Industrial Park 307 ha.

Kawasan industri yang tengah digarap dan ditawarkan saat ini di antaranya berada di Gresik, yaitu KI Agroindustri Gresik Utara 4.300 ha dan KI Salt Laka 285 ha.

Kemudian, di Jombang ada Kawasan Industri Ploso seluas 800 ha serta Kawasan Industri Mojokerto 10 ribu ha.

Selanjutnya, di Tuban ada ekspansi pengembang PT Kawasan Industri Gresik seluas 300 ha, di Lamongan ada Kawasan Industri Maritim 400 ha, dan di Banyuwangi ada Kawasan Industri Wongsorejo (KIW) 480 ha.

”Untuk investasi manufaktur yang sekarang dibutuhkan Jatim adalah industri pengolahan barang modal, komponen, dan bahan penolong. Sebab, selama ini impor bahan baku di Jatim masih sangat tinggi,” kata Saiful.

Menurut dia, potensi daerah yang cocok untuk pengembangan industri bahan baku adalah Surabaya, Malang, Kediri, Gresik, dan Mojokerto.

Sementara itu, industri berbasis agro seperti pengolahan daging dan susu lebih cocok dibangun di Pasuruan, Malang, Sumenep, Bangkalan, Pamekasan, Tulungagung, Blitar, Batu, Kediri, dan Probolinggo.

Karena itu, pihaknya berkomitmen akan terus menyediakan KI, terutama di luar ring 1 yang memiliki UMK lebih rendah. Jadi, diharapkan produk yang dihasilkan bisa memiliki daya saing. (car/agf/c25/oki)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Industri Manufaktur Kalah dari Vietnam, Pengusaha Minta Kemudahan Regulasi


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler