Suami Istri Duet Maju Pilkada, jadi Perdebatan di Keluarga

Jumat, 01 Desember 2017 – 00:05 WIB
Syamsuar Syam dan istrinya Miss Liza saat mendaftar di KPU Kota Padang, Rabu (29/11) malam. Foto: Riki Chandra/JawaPos.com

jpnn.com - Pasangan suami istri, Syamsuar Syam dan Miss Liza, maju di Pilkada Kota Padang, Sumbar, lewat jalur indepeden.

Syamsuar sebagai bakal calon wali kota, sang istri sebagai bakal calon wakil wali kota.

BACA JUGA: Bondan Winarno, Usai Makan Selalu Bayar, Begini Siasatnya

Almurfi Syofyan -- Lubuaklintah

Kepastian majunya Syamsuar Syam lewat jalur perseorangan diketahui setelah dirinya mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Padang, Rabu, (29/11) malam pukul 23.59 atau satu menit jelang penutupan.

BACA JUGA: Bonek Pesta, Bernyanyi dan Joget Bersama, Cinta Balas Cinta

Kamis, (30/11) pagi, Padang Ekspres (Jawa Pos Group) mengunjungi kediaman Syamsuar Syam - Miss Liza yang berada di Jalan Pinangbaririk, Kelurahan Lubuaklintah, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Kesan sederhana langsung tergambar ketika Padang Ekspres sampai di kediaman pasutri yang maju dalam pilwako Padang 2018 ini.

BACA JUGA: Dampak Siklon Tropis Cempaka, 4 Meninggal termasuk Aurora

Pasalnya, pagi itu saat Padang Ekspres datang, Syamsuar Syam tengah sibuk mencancang pohon Sagu untuk pakan ternaknya.

Syamsuar Syam yang mengisi hari-harinya sebagai peternak sapi selepas pensiun dari TNI 2008 silam itu, mendaftar sebagai calon walikota Padang dari jalur perseorangan dengan membawa 59 ribu kartu tanda penduduk elektronik (KTP-e) sebagai bukti dukungan masyarakat kepada dirinya.

Dia tak pernah menyangka pada akhirnya takdir membawa dia berpasangan dengan sang istri tercinta untuk maju dalam kontestasi Pilwako Padang 2018 mendatang.

"Bukannya, saya tak mau mengajak orang lain untuk berpasangan dengan saya namun justru orang-orang yang tidak mau berpasangan dengan saya," ucapnya.

Apa yang melatarbelakangi dirinya untuk terus maju dari jalur perseorangan dengan menggandeng sang istri?

Syamsuar mengatakan, dirinya tidak mungkin untuk mengecewakan puluhan ribu pendukungnya meski tak ada seorang pun yang mau berpasangan dengannya.

Apalagi menurut, pria yang pernah menjabat sebagai Dandim 0101 Aceh Pidie 1999/2002 itu, dirinya memiliki kapasitas dan latar belakang pendidikan, kepemimpinan serta pengalaman dalam memimpin selama 40 tahun saat aktif bertugas di TNI.

Di sisi lain dengan sistem demokrasi pemilihan langsung seperti sekarang ini, ditegaskannya, banyak pasangan calon yang menghabiskan uang hingga puluhan milyar untuk menjadi pemimpin.

Hal itu menurut dia sudah salah kaprah dari nilai-nilai demokrasi sebenarnya.

"Tujuan saya maju, salah satunya adalah untuk memberikan pendidikan politik kepada warga kota Padang bahwa untuk maju sebagai bakal calon tak perlu untuk menghambur-hamburkan uang," ulasnya sembari menyebut jika dirinya baru menghabiskan uang kurang dari Rp 5 juta hingga sampai di tahap pendaftaran itu.

Pria yang sudah dua kali maju lewat jalur perseorangan di Pilwako Padang, tahun 2008 dan 2013 itu, menyebut, rakyat saat ini tidak bodoh dan sudah cerdas dalam menilai serta memilih saat pilwako.

"Setelah purna tugas di TNI saya masih ingin mengabdi. Bagi saya pengabdian berhenti ketika seorang manusia telah menemui ajalnya," tegas mantan Ketua kerapatan adat nagari (KAN) Pauh IX-Kuranji tersebut.

Ditegaskan pria berpangkat Letnan Kolonel (Purn) itu, dirinya maju ikut kontestasi pilkada untuk memperjuangkan harapan-harapan yang telah ditumpangkan puluhan ribu pendukung setianya.

"Kita mempunyai jargon, Nurani tidak bisa dijual, basamo kito majukan masyarakat Padang," terang Ketua Laskar Merah Putih Sumbar 2017-2022 itu.

Menurut Syamsuar, ketika dirinya menyatakan kembali maju sebagai calon walikota pada pilwako 2018 ini, sempat terjadi perdebatan di kalangan keluarga besarnya.

Bukan karena dirinya yang dilarang maju namun karena dirinya menggandeng istri sebagai bakal calon wakil wali kota.

"Dari awal memang ada perdebatan dari keluarga, namun setelah dijelaskan secara seksama dan alasan logis akhirnya anak dan keluarga besar saya menerima keputusan yang saya ambil," jelas peternak sapi Semintal itu.

Dalam proses pengumpulan KTP-e yang merupakan bukti fisik dukungan awal dari rakyat, diungkapkan Syamsuar jika dirinya mengumpulkan KTP-e sudah sejak tahun 2008.

"Dari tahun 2008 tersebut, Saya, mengumpulkan KTP melalui jaringan peternak Sapi dan dari kedai ke kedai. Saat ini, saya memiliki dukungan KTP-e hingga 300 ribu dan yang saya diserahkan saat mendaftar kemarin sebanyak 59 ribu. Itu sudah melebihi dari syarat maju harus memiliki 41 ribu KTP-e," ungkap mantan Dandim 0311 Pesisir Selatan itu.

Sementara itu, bakal calon wakil walikota Miss Liza menyebut jika dalam menghadapi kontestasi pilwako 2018 nanti, pihaknya beserta tim sudah memiliki visi dan misi serta beberapa program unggulan yang bakal dijadikan skala prioritas saat membangun Padang jika mendapat kepercayaan dari masyarakat Padang.

"Secara fisik masyarakat ingin sejahtera, dari segi infrastruktur, dan perekonomian merupakan prioritas saya kedepan, dan juga membuka lapangan pekerjaan agar berkurangnya pengangguran," jelas istri pertama Syamsuar Syam tersebut.

Untuk kampanye, menurut Miss Liza pihaknya akan tampil beda dibanding calon-calon lainnya. Pasalnya dirinya bertekad untuk tidak menghambur-hamburkan uang hanya untuk memasang baliho ataupun spanduk diruang publik.

"Kami tidak akan memakai baliho dan spanduk dalam kontestasi politik nanti. Karena kita akan memanfaatkan media sosial sebagai sarana kampanye, dan itu bisa menekan biaya kampanye, apalagi saat ini zaman sudah canggih," tutupnya. (***)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Asalkan Masih Bersama-sama, Kabar Buruk pun Tidak Masalah


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler