Sugali

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Sabtu, 04 Desember 2021 – 17:50 WIB
Presiden Joko Widodo. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - Anda yang cukup senior pasti ingat kepada ‘’Sugali’’, atau setidaknya mengenal sebutan ‘’Gali’’. Kedua-duanya sangat populer pada 1980-an.

Gali adalah sebutan untuk preman, sedangkan Sugali adalah judul lagu yang dipopulerkan oleh Iwan Fals ketika itu.

BACA JUGA: Jokowi Melarang Polisi Sowan ke Ormas, Kombes Zulpan Merespons Begini

Sugali adalah lagu tentang seorang lelaki yang sering keluar masuk bui, jadi buronan polisi. Sugali menjadi preman jalanan yang ditakuti orang karena tidak segan menyiksa dan membunuh. Setiap hari pekerjaannya merampok dan menodong, kemudian mabuk di lokalisasi pelacuran.

Sugali kebal peluru dan tidak mempan ditebas senjata. Dar der dor suara senapan, Sugali anggap suara petasan, tetap asyik berjoget sambil mabuk dan ditemani pelacur sampai pagi. Begitu Iwan Fals menggambarkan sosok Sugali.

BACA JUGA: Di Depan Kapolri dan Luhut, Jokowi Minta Pengkritik Jangan Dihukum

Namun, akhirnya Sugali sang bromocorah sampai juga pada ajalnya. Nasib nahas pada hari ‘’pengapesan’’ membuat ilmu kebalnya luntur. Butiran peluru menembus dadanya pada malam nahas itu. Sugali ambruk meregang nyawa diterjang puluhan timah panas.

Kisah Sugali adalah perburuan terhadap preman dan bramacorah pada era 1980 sampai 1984. Sugali adalah ‘’Gali’’ atau gabungan anak liar, sebutan preman waktu itu.

BACA JUGA: Preman

Mereka ditenggarai sebagai pengacau keamanan dalam masyarakat. Para gali beroperasi secara perorangan dan berkelompok, melakukan kejahatan kriminal terorganisasi atau organized crime.

Presiden Soeharto menjadi galau oleh ulah para gali. Operasi pengamanan standar yang dilakukan oleh polisi tidak membuat para gali jera. Malah sebaliknya, para polisi ketika itu lebih memilih jalan aman dan bersahabat dengan kelompok gali.

Soeharto kemudian memerintahkan alat negara untuk memberikan shock teraphy terhadap para gali. Pada awal 1984 mulai terjadi pembunuhan misterius terhadap para gali. Satu per satu ditemukan tewas dengan beberapa luka tembak di badan.

Mayatnya dimasukkan ke dalam karung dan dicampakkan di pinggir jalan. Sering juga ditemukan uang Rp 10.000 di dekat karung untuk biaya pemakaman.

Operasi pembunuhan misterius ini dikenal sebagai ‘’Petrus’’. Ratusan hingga ribuan orang menjadi korban tembak mati tanpa prosedur pengadilan. Sebagian besar korban adalah mereka yang mempunyai tato.

Akibatnya, orang-orang yang memiliki tato pada waktu itu terpaksa menghilangkan tatonya dengan segala cara, dari disetrika sampai disiram air keras. Yang lain memilih bersembunyi ke luar daerah agar tidak diketahui jejaknya, menunggu sampai keadaan aman.

Kabar yang beredar ketika itu menyebutkan ada seorang bos gali yang terpaksa lari ke luar negeri. Isu yang beredar si bos gali mengungsi ke Afrika dengan alasan untuk liburan sambil berburu. Padahal, menurut kabar, dia mengungsi untuk menghindari petrus.

Tidak ada proses hukum, penangkapan, penyidikan, maupun peradilan. Seseorang yang dicurigai sebagai gali ditangkap kemudian ditembak pada malam hari lalu mayatnya dibuang ke tanah lapang, pasar, sawah, dan pinggir jalan.

Mobil jenis Jeep pun berubah menjadi kendaraan malaikat maut yang mengerikan bagi para gali. Kehadirannya mendatangnkan teror. Lintang pukang gali menyelamatkan diri ketika mengetahui mobil itu melintas, karena petrus selalu menjemput korbannya dengan kendaraan jenis ini.

Protes internasional pun bermunculan. Amnesti Internasional menyebut tidak kurang dari 5.000 orang menjadi korban dan mendesak operasi dihentikan.

Presiden Soeharto mengakui bahwa operasi petrus adalah shock teraphy untuk memberantas premanisme yang sudah menjalar luas.

Premanisme tidak pernah benar-benar hilang. Pada masa-masa awal reformasi premanisme meluas lagi dan membuat resah masyarakat. Dua puluh tahun setelah operasi petrus, perburuan terhadap preman kembali dilakukan meskipun tidak memakai cara-cara petrus.

Setiap hari selalu muncul berita mengenai polisi yang menangkap orang-orang yang disangka sebagai preman. Ciri-ciri target mereka tidak berbeda dengan sasaran petrus, kebanyakan mereka yang memiliki tato di badan.

Kampanye perang terhadap preman dikumandangkan. Di setiap pojok kota terlihat spanduk besar yang mengimbau untuk segera menghubungi polisi jika masyarakat diganggu preman.

Preman kembali kocar-kacir. Terminal, pasar, dan tempat umum yang biasa dijadikan tempat mangkal preman disisir oleh petugas kepolisian.

Terminologi preman sebenarnya tidak ada dalam istilah hukum. Sebagaimana gali, preman merupakan bahasa pasaran. Konotasinya adalah seseorang yang hidup bebas, tidak memiliki pekerjaan, suka menebarkan teror, suka memeras, dan sejumlah stereotipe lainnya. Biasanya mereka menggunakan atribut tato.

Akibat tak jelasnya pengertian itu, razia preman yang dilancarkan polisi pun menjaring banyak korban yang sebenarnya bukan preman. Seseorang yang tidak memiliki kartu penduduk dan pengangguran pun dapat digolongkan sebagai preman.

Mereka ditangkap ketika kedapatan berada di tempat umum hanya karena ada tato di tubuhnya. Polisi juga tak jarang menangkap gelandangan dan pengemis yang berkeliaran di tempat-tempat umum.

Sejarah selalu berputar dan berulang. Sekarang ini keresahan terhadap gali dan preman merebak lagi. Jambret dan penodongan merajalela sampai masuk ke kampung-kampung. Pemalakan terjadi di jalan, di terminal, dan di pelabuhan.

Presiden Jokowi pun gerah. Ia memerintahkan Kapolri untuk melakukan operasi pembersihan preman. Operasi perburuan preman pun berlangsung di mana-mana.

Namun, operasi yang dilakukan terkesan hanya sporadis, dan tidak benar-benar dilakukan dengan strategi yang terukur.

Kelompok preman masih tetap tumbuh subur dan tetap beroperasi dengan aman. Malah banyak kelompok preman yang berlindung di balik organisasi kemasyarakatan, dan menjalankan aksi kriminal secara terorganisasi. Belakangan ini makin sering terjadi tawuran terbuka antara kelompok preman yang berebut lahan pengamanan.

Jokowi makin gerah. Ia marah karena menengarai banyak pimpinan polisi yang malah sering sowan kepada pimpinan organisasi yang suka bikin onar. Praktik ini bukan hal baru. Di banyak daerah hal ini sudah menjadi praktik yang umum.

Merebaknya premanisme tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab negara. Premanisme lahir antara lain karena faktor kemiskinan. Kondisi ekonomi yang sulit dan lahan pekerjaan yang makin sempit menjadi lahan subur lahirnya premanisme.

Kebijakan ekonomi yang fokus pada develompentalisme--dengan mengutamakan pembangunan fisik berupa infrastruktur--berpotensi menimbulkan kelas miskin yang terstruktur.

Mereka adalah kalangan bawah yang tidak mendapatkan akses terhadap pendidikan dan kemudian mengalami kesulitan memeroleh pekerjaan. Hal ini terjadi secara turun-temurun dan terstruktur menjadi kemiskinan struktural.

Pembangunan hanya dinikmati oleh kalangan elite terbatas. Ada distribusi yang tidak adil dalam pembagian kue pembangunan. Masyarakat yang sebenarnya menjadi sasaran pembangunan mendapat jatah yang minim.

Lapangan pekerjaan formal makin sulit. Akibatnya banyak yang harus memenuhi kebutuhan hidup dengan segala cara. Jadi gelandangan dan pengemis pun dilakoni. Yang punya nyali besar memilih menjadi preman.

Keberadaan mereka memang kerap mengganggu masyarakat. Di terminal bus mereka melakukan pungutan liar terhadap sopir-sopir. Kalau pungli tidak diberi akan berpengaruh terhadap keselamatan sopir dan kendaraannya yang melewati terminal.

Di pasar, para preman mengutip pungutan liar dari lapak-lapak kaki lima. Tidak jarang mereka main kasar dengan menganiaya dan merusak lapak kalau pungli ditolak. Di tempat-tempat perbelanjaan dan hiburan mereka menjadi penjaga keamanan. Tidak jarang mereka harus bersaing dengan kelompok preman lain yang ingin merebut lahan pengamanan.

Lepas dari kejahatan yang mereka lakukan, negara harus hadir bertanggung jawab, karena negara punya andil besar dalam persoalan ini. Operasi penangkapan preman bukanlah jalan keluar yang bisa mengatasi masalah secara permanen.

Selama masalah utamanya tidak teratasi, maka fenomena premanisme akan terus muncul, dan Sugali-Sugali baru akan terus lahir. (*)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur : Adek
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler