Suku Pedalaman Baduy Menyambut Pemilu

Tolak Atribut Parpol, Ikut Siapa pun yang Menang

Rabu, 01 April 2009 – 08:04 WIB
Foto: Tomy C Gutomo/Jawa Pos

Pemilihan umum 9 April nanti dihelat di seluruh pelosok negeriTermasuk di perkampungan adat terasing, Baduy

BACA JUGA: Mereka yang Kehilangan Orang-Orang Terkasih di Situ Gintung (3-Habis)

Meski demikian, tidak mudah meminta masyarakat yang masih menjunjung tinggi ajaran Sunda Wiwitan itu untuk menggunakan hak pilihnya.

TOMY C
GUTOMO, Lebak


---

BELASAN pria berbaju hitam mengenakan romal (ikat kepala) batik berwarna biru Selasa (31/3) siang berkumpul di sosoro (teras depan) rumah jaro (kepala desa) Kanekes, desa tempat suku Baduy tinggal

BACA JUGA: Mereka yang Kehilangan Orang-Orang Terkasih di Situ Gintung (2)

Mereka duduk melingkar memperhatikan selembar kertas yang ukurannya lebih besar daripada koran


Mereka berlatih mencontreng surat suara Pemilu 2009

BACA JUGA: Mereka yang Kehilangan Keluarga di Situ Gintung (1)

Tim dari kementerian komunikasi dan informatika yang dipimpin staf khusus Menkominfo Sukemi mengajari masyarakat Baduy tentang cara memilih yang benar pada Pemilu 2009.

Itu bukan sosialisasi pertama bagi masyarakat BaduySudah lebih dari tiga kali mereka mendapatkan pelajaran mencontrengYakni, dari Pemprov Banten, KPU Banten, dan terakhir dari Kementerian Kominfo.

"Kami ingin masyarakat pedalaman seperti Baduy juga menyadari pentingnya memberikan suara dalam pemilu," kata Sukemi di sela-sela sosialisasi pemilu di Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Lebak, Banten, kemarin

Maklum, pemilu bagi masyarakat Baduy tidaklah pentingSiapa pun pemenang pemilu tidak akan ada manfaatnya bagi masyarakat BaduySebab, kepercayaan adat mereka melarang penggunaan listrik, kendaraan, sekolah, bantuan raskin (beras untuk rakyat miskin), dan pembangunan jalanMasyarakat Baduy memilih melestarikan alam dan menolak segala bentuk modernisasi.

Jaro Daenah, kepala desa Kanekes, mengatakan, di desanya terdapat 6 ribu jiwaPada Pemilu 2004, hanya 100-an yang datang ke TPSItu pun penduduk Baduy Luar"Yang Baduy Dalam tidak melaksanakan (tidak memilih, Red)," kata Daenah.

Baduy terletak 173 km dari Jakarta atau 75 km dari RangkasbitungMeski tak terlalu jauh, perjalanan dari Rangkasbitung bisa memakan waktu 2,5 jamSebab, jalan yang dilalui berupa tanjakan, tikungan, dan berlubangKendaraan tak bisa masuk ke BaduyPemberhentian terakhir adalah Ciboleger, Desa Bojong Menteng, yang berbatasan langsung dengan Kanekes.

Untuk menuju Baduy Dalam, harus berjalan kaki lagi sekitar 15 km dan memakan waktu sekitar 1,5-2 jam melalui jalan berbukit dan menyeberang sungai

Sepanjang perjalanan dari Rangkasbitung ke Ciboleger dipenuhi atribut partaiTapi, begitu masuk ke Baduy yang berada di kaki gunung Kendeng, tak satu pun bendera parpol atau foto caleg yang terpasangDinding rumah sasak beratap ijuk itu bersih dari pesan politikBegitu juga pepohonan di kampung BaduyKalaupun ada suasana pemilu, itu hanya di rumah Kades atau jaroDi dinding sosoro Jaro Daenah, tertempel poster dari KPU yang berisi 44 tanda gambar dan nomor peserta Pemilu 2009 serta spanduk Sukseskan Pemilu juga dari KPU.

Dengan kondisi seperti itu, praktis masyarakat Baduy tak banyak mengenal calegBaik caleg DPR, DPRD provinsi, DPRD kabupaten, maupun DPDHampir tak ada caleg yang datangMungkin para caleg bingung apa yang bisa dijanjikan untuk warga Baduy.

Jaro Daenah optimistis, pemilih pada pemilu kali ini meningkatIndikasinya, kata Daenah, pada pilkada gubernur tahun lalu, jumlah pemilih naik menjadi 800 orang"Mudah-mudahan pemilu ini naik lagi yang milih," katanya.

Daenah mengakui, mengajak masyarakat Baduy Dalam yang berjumlah sekitar 1.000 orang untuk ikut pemilu memang agak susahSebab, masyarakt Baduy Dalam lebih kental menjaga tradisiPerebutan kekuasaan bukanlah tradisi BaduyApalagi meminta mereka berjalan menuruni bukit hingga 15 km hanya untuk mencontrengBaduy Dalam berada di tiga kampung di antara 59 kampung BaduyYakni, Cikartawana, Cibeo, dan Cikeusik.

Mereka berbeda dengan masyarakat Baduy Luar yang sudah banyak berbaur dengan masyarakat di luarBahkan, sebagian penduduk Baduy Luar punya handphone, meski untuk charge baterainya harus menumpang di desa tetangga

Sebagian warga Baduy Luar juga mengaku sudah memiliki pilihan mantap dalam pemilu nantiAmir Syafrudin, 29, mengaku sudah menetapkan pilihan pada satu partaiNamun, dia belum punya pilihan caleg"Prinsip kami lunang, milu (ikut, Red) yang menangSiapa pun yang menang, Baduy mengakui," katanya.

Menurut Amir, pada Pemilu 2004, yang menang di Baduy adalah Partai GolkarPada Pilpres 2004, masyarakat Baduy lebih banyak memilih SBY.

Masyarakat Baduy tidak mengenyam pendidikan formal di sekolahMereka menganggap, sekolah membuat orang jadi pintarAkibatnya, setelah pintar, mereka akan memintari (membohongi) orang lain seperti orang kotaMeski tidak sekolah, mereka tidak buta huruf"Jadi, kalau urusan mencontreng tidak masalahKami bisa membaca dan menulis," kata Marsadi, sekretaris PPS (panitia pemungutan suara) Baduy.

Soal pemilih perempuan, juga mulai ada kesadaran dari kaum ibuArsih, 28, telah mengajak ibu-ibu di Baduy untuk memilih"Tapi, kami belum kenal caleg-calegnya," ujar perempuan yang sehari-hari menenun kain itu(nw)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kisah Pilu dari jebolnya Tanggul Situ Gintung


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler