Survei Capres 2024, M Qodari: Jokowi dan Prabowo Paling Kuat

Selasa, 04 Mei 2021 – 23:46 WIB
Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menyambut gembira atas temuan survei calon Presiden 2024 yang diselenggarakan Litbang Kompas pada April 2021.

Survei tersebut menunjukkan nama Jokowi dan Prabowo memiliki elektabilitas tertinggi dibandingkan nama-nama tokoh lainnya.

BACA JUGA: Qodari: Jokowi Pemenang Drama di Partai Demokrat, Bukan AHY

Kegembiraan Qodari tersebut cukup beralasan, mengingat dia adalah deklarator Jokowi-Prabowo versus kotak kosong di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Menurut Qodari, melalui pertanyaan terbuka yang ditanyakan langsung kepada masyarakat, hasilnya membuktikan bahwa kepemimpinan Republik Indonesia ke depan dalam imajinasi politik masyarakat Indonesia masih pada dua nama yaitu Jokowi dan Prabowo.

BACA JUGA: Capres 2024 Harus Lahir dari Figur Kepala Daerah yang Teruji

“Senang sekali dengan hasil survei ini, karena survei ini membuktikan statement saya, kepercayaan saya, bahwa imajinasi politik masyarakat Indonesia tentang pemimpin Republik itu, yang tepat memimpin Republik ini masih pada dua nama yaitu Pak Jokowi dan Pak Prabowo,” ujar Qodari, Selasa (4/5/2021).

Berdasarkan hasil survei, sebanyak 24 persen masyarakat Indonesia diprediksi akan kembali memilih Joko Widodo untuk menjadi Presiden, disusul Prabowo Subianto sebesar 16,4 persen dan Anies Baswedan 10 persen.

BACA JUGA: PKB Sebut Keputusan MK Soal Syarat Verifikasi Parpol Sangat Bijaksana

Sementara, delapan nama lainnya memiliki elektabilitas di bawah 10 persen yakni Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (7,3 persen), Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama (3,1 persen), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno (3,3 persen).

Mekipun nama Jokowi dan Prabowo di puncak survei, Qodari menjelaskan bahwa konstitusi sekarang, jabatan Presiden dibatasi hanya dua periode saja, akan tetapi kalau diadakan amendemen UUD 1945 presiden diperbolehkan menjabat tiga periode. Qodari menyebut Presiden Jokowi berpeluang terpilih kembali.

“Akan tetapi kalau misalnya bisa diadakan perubahan menjadi 3 periode maka yang akan paling kuat tetap Pak Jokowi,” ungkapnya.

Qodari membayangkan, bila Jokowi dan Prabowo bergabung dengan didukung oleh mayoritas partai politik pada 2024 mendatang, maka kemungkinan besar pasangan ini akan berhadapan dengan kotak kosong dan akan menuai dukungan dari masyarakat yang sangat kuat untuk kepemimpinan nasional.

“Pasangan ini bukan hanya berhadapan kemungkinan besar dengan kotak kosong karena partai-partai kemudian bersikap realistis, tetapi juga kemudian dukungan masyarakat itu akan sangat kuat kepada kepemimpinan nasional, karena memang mereka (Jokowi dan Prabowo) ada di hatinya masyarakat,” beber Qodari.

Qodari menyarankan partai politik harus memperhatikan dan mempertimbangkan siapa yang ada di hati dan kepala masyarakat. Yang mereka inginkan jangan sampai diabaikan. Kalau masyarakat Indonesia menghendaki Jokowi dan Prabowo, maka bukalah pintu perubahan amandemen UUD 1945 untuk memberikan jalan kedua putra terbaik bangsa itu maju.

“Jangan sampai menyodorkan pemimpin dalam Pilpres nanti yang tidak ada dukungannya atau tidak ada di hati masyarakat, nanti dukungannya lemah. Kalau partai politik tidak mengajukan Pak Jokowi, Pak Prabowo, maka ibaratnya partai politik itu kalau menyajikan makanan diatas piring itu makanannya gak enak, mayarakat itu gak suka, kalau gak suka gak akan didukung,” katanya.

Menurut Qodari, hasil survei Litbang Kompas ini harus dijadikan masukan oleh para elite partai mengenai kepemimpinan nasional 2024 yang akan datang.

Survei ini penting sebagai indikator bahwa tetap saja yang paling banyak didukung oleh mayarakat Indonesia adalah Jokowi dan Prabowo.

“Survei ini menguatkan tesis saya bahwa kepemimpinan nasional akan sangat kuat apabila Jokowi dan Prabowo itu bergabung menjadi jadi satu karena beliau berdua ini adalah orang yang paling banyak didukung oleh masyarakat Indonesia. Jadi, secara legal formal kuat tetapi secara sosiologis dan politis juga kuat,” tuntas Qodari.(fri/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler