Survei IPO: 41 Persen Publik Tak Puas dengan Kinerja Jokowi, 53 persen Merasa Ekonomi Memburuk

Minggu, 12 Maret 2023 – 01:00 WIB
Survei Indonesia Political Opinion (IPO) menemukan terdapat 41 persen publik yang tak puas dengan kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ilustrasi Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Survei Indonesia Political Opinion (IPO) menemukan terdapat 41 persen publik yang tak puas dengan kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Hal itu berdasarkan survei IPO periode 1-7 Maret 2023.

BACA JUGA: Panen Padi Didampingi Mentan SYL, Pak Jokowi: Saya Lihat Ada Perbedaan

"Sebanyak 41 persen responden menjawab tidak puas, 43 persen menjawab puas, 9 persen menjawab sangat puas, 5 persen menjawab sangat tidak puas, dan 2 persen menjawab tidak tahu," kata Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah merilis hasil surveinya yang bertajuk Persepsi atas KinerjaPemerintah dan Konstelasi Politik Nasional Menuju 2024, Sabtu (11/3).

Menurut Dedi, berdasarkan jawaban responden, hal yang mempengaruhi kepuasan publik atas kinerja Jokowi yaitu 42,5 persen memberikan bantuan sosial, 21,4 persen pembangunan infrastruktur, 4,2 persen merakyat dan sederhana, 1,7 persen berhasil mengurangi kemiskinan, 1,1 persen mengendalikan harga kebutuhan pokok, 1,1 persen menjaga keamanan nasional, 1 persen penegakan hukum, 1 persen pemberantasan korupsi.

BACA JUGA: Gibran bin Jokowi Dikabarkan Sowan kepada SBY, Syahrial Demokrat Merespons Begini

"Sementara hal-hal lainnya hanya mendapatkan respons responden di angka 0,2 sampai 0,9 persen," kata Dedi.

Sebanyak 53 persen, lanjut Dedi, responden juga menjawab kondisi ekonomi nasional saat ini dalam keadaan buruk, hanya 37 persen yang menjawab baik. Kemudian 6 persen menjawab tidak tahu, 3 persen menjawab sangat buruk, dan hanya 1 persen yang menjawab sangat baik.

BACA JUGA: Mau Tahu Menu Makan Siang Presiden Jokowi Hari Ini? Nyam

Dedi melanjutkan persepsi publik atas kondisi ekonomi nasional yang buruk ini cenderung meningkat dibandingkan dengan hasil survei serupa yang dilakukan IPO pada 19-24 Oktober 2022 yang hanya sebesar 42 persen, naik sebesar 11 poin.

Namun, berbeda halnya dengan yang menyatakan baik, terjadi peningkatan dari 31 persen menjadi 37 persen, naik 6 poin. Demikian pun responden yang menyatakan tidak tahu, menurun dari 18 persen (survei 2022) menjadi 6 persen.

"Sangat baik menurun dari 7 persen menjadi 3 persen," tambah Dedi.

Sementara pada isu politik, pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin mendapatkan penilaian positif, karena responden menilai 42 persen kondisi saat ini baik.

Hal ini berbeda dengan survei sebelumnya yang hanya 31 persen responden menyatakan hal serupa. Penilaian buruk atas kondisi politik juga menurun, dari 32 persen pada survei sebelumnya, menjadi 27 persen pada Maret ini. Namun, responden yang menjawab tidak tahu meningkat, dari 19 persen menjadi 26 persen.

Penilaian publik atas kondisi sosial dan keamanan nasional pun menurun, dari 57 persen yang menyatakan baik, menjadi 56 persen. Dari 21 persen yang menyatakan buruk, menjadi 31 persen.

Namun, kata Dedi, Jokowi mendapatkan penilaian positif pada aspek penegakan hukum. Terjadi kenaikan penjualan Baik dari responden, 36 persen (survei Oktober 2022) menjadi 47 persen pada kali ini. Senada, penilaian buruk pun menurun dari 53 persen menjadi 41 persen.

Kemudian, pada lembaga-lembaga penegakan hukum, penilaian terhadap institusi kepolisian menurun, dari 36 persen responden yang menyatakan percaya, menjadi 28 persen.

Dari 41 persen yang menyatakan tidak percaya, menjadi 51 persen. Hal serupa terjadi pada Komisi Pemberantasan Korupsi, yaitu dari 42 persen yang menyatakan percaya, menjadi 41 persen. Dari 36 persen yang menyatakan tidak percaya, menjadi 37 persen.

Tingkat ketidakpercayaan publik juga menurun, dari 32 persen menjadi 24 persen. Hal serupa terjadi pada Kejaksaan Agung yang tingkat kepercayaan publiknya meningkat dari 40 persen, menjadi 51 persen, dengan tingkat ketikdapercayaan yang menurun dari 29 persen menjadi 18 persen.

Survei nasional IPO ini dilakukan secara tatap muka dengan 1.200 responden.

Pada tahap awal, IPO terlebih dulu menentukan sejumlah desa untuk menjadi sampel. Pada setiap desa akan dipilih secara acak menggunakan random kish grid paper sejumlah 5 RT, pada setiap RT dipilih dua keluarga, dan setiap keluarga akan dipilih satu responden dengan pembagian laki-laki untuk kuesioner bernomor ganjil, perempuan untuk bernomor kuesioner genap. Total responden laki-laki dan perempuan pada pembagian 50:50 persen.

Selanjutnya, pada tiap-tiap proses pemilihan selalu menggunakan alat bantu berupa lembar acak.

Survei ini memiliki margin of error 2,90 persen dengan tingkat akurasi data 95 persen. Setting pengambilan sampel menggunakan teknik multistage random sampling (MRS) atau pengambilan sampel bertingkat. (tan/jpnn)

Yuk, Simak Juga Video ini!

BACA ARTIKEL LAINNYA... Dampingi Pak Jokowi Saat Panen Raya Padi di Ngawi, Mentan SYL: Jangan Terlalu Lama


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler