Syahrul Yasin Limpo: Membangun Sektor Pertanian dengan Strategi TSM

Selasa, 06 Agustus 2019 – 08:28 WIB
Syahrul Yasin Limpo. Foto: Ist/dok.JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Mantan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo (SYL) mendorong agar Indonesia membangun sektor pertanian secara terstruktur, sistematis dan masif (TSM). Menurut Syahrul, terminologi TSM tidak hanya disematkan untuk isu politik elektoral, tetapi juga bisa diterapkan dalam membangun dan mengelola pertanian Indonesia.

“Istilah TSM tidak hanya populer dikaitkan dengan isu politik belakang ini. Tetapi kita bisa terapkan itu dalam membangun sektor pertanian khususnya dalam menjaga ketahanan pangan bagi penduduk negeri ini,” ujar Syahrul di Jakarta, Senin (5/8).

BACA JUGA: Innalillahi, Pak Ichsan Yasin Limpo Meninggal Dunia

Syahrul mengaku pembangunan pertanian TSM bukanlah hanya sebatas ide yang diutarakannya. Namun, dia telah menerapkan hal tersebut ketika menjadi pemimpin di Sulawesi Selatan.

BACA JUGA: Sektor Pertanian Gemilang di Tangan Menteri Amran Selama Ini

BACA JUGA: Syahrul Yasin Limpo: Saya Selalu Pegang Teguh Empat Nilai Ini Saat Pimpin Sulsel

"Bagi pemerintah Sumsel, tidak ada pilihan lain untuk memajukan sektor pertanian selain dengan cara TSM karena produk pertanian menyangkut hayat hidup orang banyak dan di situlah negara hadir, menjalankan amanah untuk mensejahterakan rakyatnya," tanda dia.

Syahrul pun menjelaskan upaya mendorong sektor pertanian dengan cara TSM. Terstruktur, kata dia, karena pemerintah Sulawesi Selatan harus menggerakkan semua potensi secara berjenjang dari pusat hingga ke daerah untuk memberikan pelayanan yang terbaik demi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

BACA JUGA: Sektor Pertanian Gemilang di Tangan Menteri Amran Selama Ini

Tak mengherankan, lanjut Syahrul, bila Pemda Sulsel dikenal paling sering bernegosiasi dengan pemerintah pusat untuk meminta pembangunan sarana dan prasarana pertanian guna menopang kepentingan nasional.

“Untuk menjadikan Sulsel sebagai lumbung beras nasional, Sulsel butuh investasi pemerintah dalam bentuk pembangunan bendungan, saluran irigasi, embung, pembenihan, penyediaan pasokan pupuk yang terjamin volumennya dan sebagainya. Maka tidak ada cara lain untuk mempercepat Sulsel menjadi lumbung pangan nasional kecuali melalui pendekatan terstruktur," terang yahrul.

Sistematis, kata Syahrul, terkait upaya Sulsel menyusun pengembangan sektor pertanian  dari perencanaan jangka pendek, menengah hingga panjang. Pemerintah Sulsel, tutur dia, memiliki zonasi atau perwilayah komoditas sebagai bagian dari rencana jangka panjang termasuk pembangunan infrastrukturnya. 

“Tetapi, pada saat yang sama kita juga responsif terhadap kebutuhan pasar sehingga secara jangka menengah kita meresponnya dengan pemilihan komoditas tertentu yang dibutuhkan pasar. Sementara dalam perencanaan jangka pendek kita juga merencanakan pada tataran mikro mengenai jenis tanaman, jenis benih waktu tanam yang sesuai dengan kondisi cuaca. Sulsel didukung oleh ribuan tenaga lapangan di bidang pertanian yang menjalankan tugas sebagai penyuluh dan pendamping," jelas dia.

Sementara masif, lanjut Syahrul, terkait semua program pertanian pemerintah di Sulsel tidak hanya sekadar program pemerintah, tetapi semua program diturunkan ke bawah menjadi gerakan rakyat yang sifatnya masif. Pembangunan pertanian, kata dia, dilakukan secara merata di seluruh wilayah Sulsel. 

"Komoditasnya meliputi segala jenis tanaman pangan dan hortikultural, komoditas perkebunan, ternak besar, kecil hingga unggas, perikanan air tawar, payau hingga budidaya laut termasuk berbagai jenis rumput laut,” ungkap dia.

Selain itu, kata Syahrul, semua kepala daerah yang meliputi Wali Kota dan Bupati menjadi garda terdepan mengomando gerakan yang didukung oleh seluruh jajaran aparatnya. Karena itu, menurut dia, seluruh kepala daerah di Sulsel fasih mengartikulasikan pembangunan pertanian karena pertanian menjadi salah satu hal yang berpengaruh secara politis.

"Pengalaman di Sulsel ini tentunya bisa diterapkan untuk konteks Indonesia yang merupakan negara agraris dengan mendorong sektor pertanian secara TSM demi memperkuat ketahanan pangan kita yang tentunya tujuan akhirnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia," kata Syahrul.

Pengalaman Syahrul di pemerintahan memang tidak diragukan lagi. Bahkan, dia menjadi kepala daerah berangkat dari bawah, mulai dari kepala desa, camat, bupati, wakil gubernur hingga gubernur. 

Puncaknya, ketika Syahrul menjadi Gubernur Sulawesi Selatan selama dua periode dari tahun 2008 hingga 2018. Sebelumnya, dia menjadi wakil gubernur Sulsel pada periode 2003-2008. Syahrul juga pernah menjabat bupati Gowa selama dua periode dari tahun 1994 hingga 2002.

Tahun pertama menjadi Gubernur, Syahrul bersama wakilnya Agus Arifin Nu’mang menargetkan peningkatan posisi Sulawesi Selatan sebagai provinsi penyangga beras untuk kebutuhan nasional. Target produksi padi pada 2008 sebanyak 4.042.471 ton gabah kering giling (GKG) yang didukung luas lahan sekitar 792.641 ha dengan tingkat produktivitas 51,00 kuintal/ha.

Sementara target tanam padi untuk musim tanam 2009 seluas 868.411 ha dengan sasaran produksi 5.084.323 ton GKG dengan produktivitas 58,55 kwintal/ha.

Pada tahun 2009, pergerakan ekonomi Sulawesi Selatan mengalami pertumbuhan sekitar 7.8 persen. Hal ini dipicu dengan pertumbuhan produksi jagung sehingga Syahrul mengatakan akan melakukan terobosan di tengah krisis global dengan melayani kebutuhan ekspor ke Malaysia dan Filipina, menyusul pengiriman yang sudah dilakukan sekitar 8 ribu ton ke Filipina, Maret 2009.(fri/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kalahkan Putri Mantan Gubernur Sulsel, Muhammad Rapsel Ali ke Senayan


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler