Tambang Freeport di Papua Diramal Akan Jadi Kota Hantu

Minggu, 29 November 2015 – 08:13 WIB
Ilustrasi emas. Foto: Dok.JPNN.com.

jpnn.com - MULANYA, orang-orang Freeport mengira kandungan tembaga di Papua akan habis dalam waktu 10 tahun. Lalu tempat itu akan jadi kota hantu. Ternyata…

Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network

BACA JUGA: Presiden Soeharto Memberinya Nama Tembagapura

Ini cerita periode awal, ketika PT Freeport mulai merambah alam Papua.

Ngeri-ngeri Sedap

BACA JUGA: Oh, Dari Sini Toh Modal Awal Freeport Masuk ke Indonesia...

Berkendara dari pantai ke Ertsberg--kawasan tambang Freeport--ngeri-ngeri sedap. 

Biar sudah sering bolak-balik melintasi jalan itu, tetap saja tegang dan berdebar-debar.

BACA JUGA: Ini Freeport, Bung...

Mobil-mobil pengangkut tembaga bekerja nonstop. Dalam sehari mondar-mandir 432 kali.

"Saya sering pergi bersama mereka. Kami berangkat Subuh, jadi masih mengantuk," tulis Julius Tahija, dalam otobiografinya bertajuk Julius Tahija

"Ada air terjun yang menakjubkan, pegunungan yang berkelok-kelok, dan tebing tajam sedalam ratusan meter," kenangnya.

Meski terkantuk, sepanjang perjalanan tak ada pekerja yang bisa tidur. Bukan karena menyaksikan pemandangan yang indah, melainkan medan yang mendebarkan.

Bahkan, menurut Tahija, tak sedikit yang bertaruh nyawa. 

Suatu kali, satu penggal jalan tiba-tiba lenyap karena longsor. Di kali yang lain, sebuah traktor dan supirnya masuk ke jurang.

Suatu kali rem truk tiba-tiba blong. Pengemudi loncat dan selamat, tetapi truknya masuk jurang bersama dua orang perawat yang duduk di dalamnya.

"Makanya ada peraturan yang melarang penumpang bicara dengan supir," papar Tahija.

Jalur Trem

Jika jalur mobil ngeri-ngeri sedap, apalagi naik trem. 

"Tempat yang paling mengerikan dari daerah itu adalah jalan trem. Tempat ini pernah mengalami kecelakaan serius," tulis Tahija. 

Pernah sebuah trem listrik yang membawa 75 penambang macet di tengah jalan. 

Para ahli reparasi pun naik tambang untuk memeriksa. Ternyata ada bantalan poros yang remuk.

Dalam waktu yang lumayan lama dan mendebarkan, kerusakan akhirnya bisa diperbaiki. 

Para buruh tambang yang terperangkap di situ, sebagaimana dikisahkan Tahija, berdiri bergandengan tangan selama 19 jam.

"Ketika dalam keadaan susah seperti Freeport pada tahun-tahun pertama, semua teman biasanya menghilang. Tetapi bagi saya yang penting adalah tanggungjawab," Tahija bernostalgia.

Kota Hantu 

Merujuk cerita Julius Tahija, orang-orang Freeport mulanya memperkirakan kandungan tembaga di sana akan habis dalam waktu 10 tahun. 

Setelah itu, tempat itu akan jadi kota hantu.

"Untuk menghindari hal itu, pada tahun 1970-an, kami mulai mengadakan eksplorasi baru," tulisnya.

Para ahli geologi diterbangkan dengan helikopter ke lembah-lembah untuk mengambil sampel.

"Sebuah lembah menarik perhatian kami," kenang Tahija. "Mengapa rumput tumbuh di atas daerah pepohonan, tetapi tidak di tempat lain? Adanya rumput berarti tanah di situ mengandung besi, tembaga, atau mineral yang mengandung nutrisi."

Para ahli itu pun menyimpulkan, alam biasanya bersifat simetris. Mineral dalam tanah mengikuti pola seperti lingkaran pada batang kayu.

"Kami mengintensifkan eksplorasi, bahkan sampai menghabiskan anggaran 15 juta dolar untuk menggali jalur horizontal dari jalan masuk tambang," paparnya.

Pada 1976, para ahli geologi menemukan bijih tembaga di gunung lain yang secara spontan dinamai Ertsberg Timur. 

Letaknya kira-kira 1.000 meter dari Ertsberg yang ditemukan Jean Jacques Dozy.

(baca: Dalam Catatan Perjalanan Pendaki Inilah, Freeport Menemukan Peta Harta Karun Papua)

Ternyata lapisan itu bukan lapisan tunggal, tetapi merupakan bagian wilayah mineral yang melebar ke gunung-gunung di sekitarnya. 

Pada 1980-an ditemukan lebih banyak lagi bijih tembaga. Dan kandungan mineral lain yang terkandung bersamanya; EMAS. 

Pada awal 1990, perusahaan itu telah mengumpulkan dana dan menginvestasikan tambahan dana kira-kira satu miliar dolar dari investasi pertama.

Dan…alih-alih menjadi kota hantu, "pada 30 Desember 1991 Kontrak Karya (KK) Freeport kembali diperbaharui," dilansir dari buku Sejarah Pertambangan dan Energi Indonesia

Selain berlaku untuk wilayah baru seluas  2,6 juta hektar (Blok B, Gunung Rumput) juga meliputi sebagian wilayah KK generasi I (Blok A, Ertsberg) seluas 10 ribu hektar yang sudah pada tahap produksi.

Tak Cak Rata

Kini, gunung-gunung yang menyimpan harta karun tanah Papua itu tak lagi menjulang menggapai awan. Tetapi menjurang ke perut bumi.

Entah sudah berapa banyak sebenarnya, emas Papua dikeruk Freeport. Yang pasti sedari awal hingga pertengahan 2014, Indonesia hanya kebagian 1 persen.

Sejak kuartal III 2014, persentase jatah untuk Indonesia naik sedikit; emas 3,75 persen, perak 3,25 persen, tembaga 4 persen. 

Caknya tak rata, kawan… (wow/jpnn)

(baca: Ingat Freeport, Ingat Julius Tahija)

(baca: Sebelum Para Eksekutif Freeport Datang...)

(baca: Dalam Catatan Perjalanan Pendaki Inilah, Freeport Menemukan Peta Harta Karun Papua)

(baca: Ini Freeport, Bung...)

(baca: Oh...Dari Sini Toh Modal Awal Freeport Masuk ke Indonesia)

(baca: Karena Inilah, Presiden Soeharto Menamai Freeport Tembagapura)

 

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Dalam Catatan Perjalanan Pendaki Inilah, Freeport Menemukan Peta Harta Karun Papua


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler