Tambang Pasir Ilegal Beroperasi, Bukit di Batam Makin Gundul

Kamis, 09 Agustus 2018 – 03:29 WIB
Penambang pasir ilegal masih beraktifitas mengambil pasir menggunakan mesin dompeng cara disedot lalu memasukkan ke dalam lori di Tembesi, Sagulung, Senin (6/8). Foto: F Dalil Harahap/Batam Pos

jpnn.com, BATAM - Penambangan pasir darat secara ilegal masih saja terus beroperasi di dekat Dam Tembesi kembali beroperasi.

Padahal Direktorat Pengamanan Badan Pengusahaan (Ditpam BP) Batam sudah pernah menertibkan tambang liar itu sebanyak dua kali.

BACA JUGA: Polisi: Kaki Bayi Putus Lantaran Dilahirkan Paksa Ibunya

Penertiban terakhir sebulan yang lalu namun itu tak merubah apapun. Aktifitas illegal itu malah kian marak seperti kebal hukum.

Camat Sagulung Reza Khadafi kembali angkat suara. Dia berharap agar ada tindakan tegas dari pihak yang berwenang sehingga kerusakan lokasi tangkapan air itu tidak bertambah parah.

BACA JUGA: Kemenperin Berencana Buka Kawasan Industri Halal di Batam

Alat berat dikerahkan untuk mengali pasir ilegal yang merusak lingkungan di Tembesi, Sagulung, Jumat (8/7). F Dalil Harahap/Batam Pos

BACA JUGA: KPU Pastikan Coret 18 Bacaleg Batam

“Sudah rusak parah lingkungan di sana. Jangan diperparah pagi. Ini harus ada tindakan yang tegas,” ujar Reza, Selasa (7/8).

Menindak lanjuti persoalan itu Reza mengaku pihaknya akan kembali menyurati instansi pemerintah terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam dan Ditpam BP Batam agar aktifitas itu segera dihentikan.

“Kami akan komunikasikan lagi karena penertiban-penertiban sebelumnya tak ada efek,” katanya.

Penghentian aktifitas tambang pasir itu diakui Reza sangat diperlukan untuk menjaga lingkungan tangkapan air ataupun pemukiman warga di sekitarnya.

Jika aktifitas itu dibiarka maka dam Tembesi yang menjadi cadangan air warga Batam akan kembali dangkal sebab tanah sisa limbah dari aktifitas tambang dibuang ke lokasi dam.

Mesin menyedot pasir dan mobil mengangkut pasir dari galian pasir ilegal di Tembesi, Sagulung, Jumat (8/7). F dalil Harahap/Batam Pos

Begitu juga dengan lingkungan perbukitan di lokasi tambang terancam punah sebab akan dikeruk habis oleh para penambang.

“Banyak dampaknya. Kalau ada kajian lingkungan melalui amdal mungkin ada solusinya,” tutur Reza.

Masyarakat sekitar juga berharap yang sama. Aktifitas tambang pasir yang sudah lama berlangsung itu harus segera dihentikan sebab merusak lingkungan.

“Setiap hari mereka kerja. Lama-lama rata semua bukit ini sampai ke jalan raya sana,” tutur Erwin, warga Tembesi.

Pantauan di lapangan, aktifitas tambang pasir darat itu terus berlanjut sampai siang kemarin. Puluhan truk pengangkut pasir keluar masuk ke lokasi tambang.

Para pekerja dengan beberapa unit mesin penyedot pasir juga selalu ramai di lokasi tambang. Pasir hasil tambang diantar ke berbagai toko material bangunan yang ada di kota Batam. Informasi yang didapat pasir darat tersebut dijual Rp 800 ribu pertruk roda enam. (eja)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ibu Pembuang Bayi di Tempat Sampah Itu Terancam 9 Tahun Bui


Redaktur & Reporter : Budi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler