Target Vaksinasi 181,5 Juta Jiwa, Pemerintah Siapkan 426 Juta Dosis

Selasa, 12 Januari 2021 – 23:19 WIB
Vaksin Sinovac disimpan di Bio Farma Bandung Foto: ANTARA/HO-Biro Pers Setpres

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa target vaksinasi Covid-19 di Indonesia adalah 181,5 juta jiwa.

Angka itu diperoleh berdasar jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 269,6 juta jiwa.

BACA JUGA: 15 Juta Dosis Bahan Baku Vaksin Covid-19 Tiba di Indonesia

Dari jumlah itu, yang berusia 18 tahun ke atas sebanyak 188,7 juta jiwa. Selain itu, pihaknya mengeluarkan orang yang masuk daftar ekslusi untuk divaksin seperti ibu hamil, pemilik komorbid berat, yang dan pernah terpapar Covid-19. Jumlahnya, mencapai sekitar 7 juta.

"Sehingga target vaksinasi 181 juta orang," kata Budi saat rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (12/1).

BACA JUGA: Setelah Vaksin Kantongi EUA dan Sertifikasi Halal, Masyarakat Punya Harapan Baru

Budi menjelaskan bahwa kebutuhan vaksin Covid-19 di Indonesia mencapai 426 juta dosis. Dia lantas menjelaskan dari mana angka 426 juta dosis tersebut.

Mantan wakil menteri BUMN itu mengatakan bahwa jumlah penduduk Indonesia mencapai 269,6 juta jiwa, sebanyak 188,7 juta di antarnya berusia 18 tahun ke atas. Menurut Budi, masing-masing orang membutuhkan dua dosis vaksin.

BACA JUGA: Tampang ES, Pemuda yang Siap Perang Menolak Vaksin Covid-19

Dia menambahkan dengan memasukkan buffer, atau wastage rate 15 persen, serta asumsi efficacy rate 60 persen, maka keluarlah angka 426 juta dosis vaksin.

"Jadi, 426 juta dosis yang harus kami datangkan untuk vaksinasi ke 181 juta jiwa," ujar Budi.

Ia menjelaskan tahap pertama akan diberikan kepada 1,48 juta tenaga kesehatan seluruh Indonesia.

Dia berharap vaksinasi tahap pertama itu sudah bisa dimulai pekan ini, dan selesai akhir Februari 2020.

Menurut Budi, tahapan di seluruh dunia pun sama. "Kenapa tenaga kesehatan, karena kriteria orang berisiko tinggi untuk terpapar. Karena tenaga kerja kesehatan selalu terpapar pasien Covid-19, mereka yang diberikan pertama kali," katanya.

Budi menjelaskan untuk vaksinasi tahap kedua, dibagi menjadi dua A dan dua B.

Menurut dia, dua A akan diberikan kepada 17,4 juta petugas publik setelah nakes. Petugas publik, kata dia, adalah orang yang dalam tugas sehari-harinya bertemu dengan banyak orang.

Nah, kata Budi, ini agak berbeda dengan negara lain. Sebab, ada sebagian besar negara lain menaruh lanjut usia dulu, baru petugas publik yang harus divaksinasi.

"Dengan reason yang sama tadi, bukan alasan ekonomi, bukan alasan politik, bukan alasan sosial, tetapi lebih ke alasan kemanusiaan. Karena orang-orang lansia ini adalah orang yang kritikal, kemungkinan kalau kena meninggalnya tinggi, sehingga diprioritaskan duluan," katanya.

Nah, di Indonesia lansia ditaruh di dua B. Menurut dia, hal ini mengingat vaksin Sinovac yang ada di Indonesia, itu uji klinisnya baru sampai pada usia 59 tahun.

"Kami harapkan kalau vaksin Pfizer, dan AstraZaneca datang di Bulan April, itu adalah vaksin yang memang sudah uji klinisnya digunakan untuk di atas (usia) 60 tahun," katanya.

Budi menjelaskan, vaksinasi untuk petugas publik dan lansia itu akan dimulai sekitar Maret atau April 2021. (boy/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler