Tekan Impor, Petrokimia Gresik Gandeng SBRC IPB Produksi Surfaktan

Rabu, 11 Maret 2020 – 13:41 WIB
Kerja sama Petrokimia Gresik dengan SBRC IPB. Foto: dok pribadi for jpnn

jpnn.com, JAKARTA - Upaya menekan impor, Petrokimia Gresik, menggandeng Surfactant Bioenergy Research Centre Institut Pertanian Bogor (SBRC IPB), di Gresik, melakukan uji coba mini plant untuk memproduksi Surfaktan.

Surfaktan merupakan molekul yang memiliki gugus hidrofilik (suka air) dan lipofilik (suka minyak/lemak), sehingga dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari air dan minyak.

BACA JUGA: Petrokimia Gresik Dukung Kebutuhan Pupuk Demplot Padi di Sultra

Selain sektor industri dan farmasi, surfaktan juga digunakan untuk keperluan eksplorasi minyak bumi.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Rahmad Pribadi, menjelaskan bahwa selama ini produksi minyak bumi di Indonesia masih menggunakan metode primer (disedot dengan pompa) dan sekunder (didorong dengan air).

BACA JUGA: Ikhtiar Petrokimia Gresik Dorong Milenial Terjun ke Dunia Pertanian

"Adapun pemanfaatan surfaktan termasuk metode tersier atau Enhanced Oil Recovery," ujar Rahmad.

Melalui kerja sama itu, surfaktan karya anak bangsa itu diharapkan bisa menjadi alternatif terbaik berbanding produk impor.

BACA JUGA: Kementan-IPB Bangun Pertanian Berbasis Sains dan Teknologi

Diberi nama Surfaktan Merah Putih, ini diklaim memiliki beberapa keunggulan, di antaranya mampu menurunkan tegangan permukaan yang lebih baik, dan memiliki harga jual kompetitif dibandingkan dengan produk impor sejenis.

Secara teknis, surfaktan akan dinjeksikan ke dalam bumi. Sumur minyak bumi yang tersumbat atau minyak bumi yang masih menempel di bebatuan akan terlepas dan lebih mudah disedot dengan pompa.

Jadi, surfaktan mampu meningkatkan produktivitas sumur minyak bumi, bahkan mampu mengeluarkan minyak mentah dari lapangan atau sumur minyak tua yang sudah tidak berproduksi lagi.

"Produk ini sangat ditunggu dan diharapkan oleh pelaku industri minyak dan gas di Indonesia," sambung Rahmad.

Dalam memproduksi Surfaktan Merah Putih, kata Rahmad, dibutuhkan bahan baku methyl ester yang disulfonasi menggunakan gas SO3, sehingga pasokan gas SO3 dengan kualitas dan kuantitas yang stabil sangatlah diperlukan dalam produksi tersebut.

"Hal inilah yang melatarbelakangi kerja sama ini, di mana Petrokimia Gresik akan menyuplai gas SO3 dari pabrik Asam Sulfat dan membeli bahan baku methyl ester yang diproduksi oleh SBRC IPB di Gunung Putri, Bogor," jelas Rahmad.

Adapun pemasaran produk Surfaktan Merah Putih akan dilakukan oleh Petrokimia Gresik bersama-sama dengan SBRC IPB, beserta dukungan marketing dan technical assistance dari Komunitas Migas Indonesia (KMI).

Rahmad menyatakan, kerja sama ini sejalan dengan program transformasi bisnis Petrokimia Gresik yang salah satu sasarannya adalah diversifikasi produk untuk meningkatkan revenue  dan profitabilitas.

Petrokimia Gresik tidak hanya memproduksi pupuk saja, melainkan juga produk non-pupuk yang dapat meningkatkan utilisasi aset dan profit perusahaan.

"Uji coba ini merupakan salah satu alternatif pemanfaatan aset pabrik asam sulfat Petrokimia Gresik," imbuh Rahmad. (mg8/jpnn)


Redaktur & Reporter : Rasyid Ridha

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler