Terapis Hebat Ini Bikin Si Dia Tersenyum

Selasa, 23 Februari 2016 – 22:20 WIB
ILUSTRASI. FOTO: Pixabay.com

jpnn.com - MANADO – Mendampingi anak berkebutuhan khusus atau autis bukanlah perkara mudah. Sang guru dituntut harus banyak cara untuk menghadapi mereka.

Sang guru atau tenaga terafis memerlukan kesabaran yang tinggi. Ia bekerja dengan hati. Tidak boleh marah namun bisa tegas menjadi kunci menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus. Itulah syarat menjadi pendidik di Autis Center yang terletak di Jalan Rike Manado. 

BACA JUGA: Ampel Ditata dengan Konsep Maroko Style

Autis atau orang berkebutuhan khusus ini memang perlu mendapat perhatian lebih. Autis Center Manado sebagai tempat rehabilitasi orang-orang berkebutuhan khusus menyediakan pelayanan dan fasilitas lengkap untuk membantu mereka.

Gedung bertingkat dua tersebut, hingga kini telah menampung 16 orang kategori dewasa sampai anak-anak untuk diterapi. Sedangkan yang sementara konsultasi ada 36 orang. Tenaga terapis berjumlah tujuh orang. Terdiri dari fisioterapi, terapi wicara, okupasi terapi, terapi perilaku, dokter, dan psikolog.

BACA JUGA: Detoks Rahim Berbahaya Bagi Kesehatan Wanita

Penanganan terapi pun tidak sembarangan, harus ada pemeriksaan dokter dan psikologis, baru masuk ke terapi.

“Karena lewat pemeriksaan, anak dapat diterapi sesuai dengan hasil. Contohnya jika anak tersebut hanya mengalami gangguan pada motorik perasa atau tidak mau disentuh, akan diterapi sesuai kebutuhan,” ungkap Novita Bara, salah satu tenaga terapis, seperti dilansir Manado Post (Grup JPNN) kemarin.

BACA JUGA: Daftar Makanan yang Bisa Tingkatkan Imunitas

Saat melihat-lihat ruangan yang ada, terdapat salah satu anak memasuki tempat Autis Center. Anak berumur empat tahun tersebut terganggu bagian saraf motoriknya, dalam hal sentuhan.

Dia tidak mau disentuh, sehingga ketika dia masuk bersama dengan orang tuanya, tenaga terapis segera memberi salam. Tapi anak ini tidak sepenuhnya merespons dengan baik.

Kemudian sang Terapis mengajak anak untuk masuk ke ruangan sensorik fisioterapi. Dengan dipenuhi peralatan warna-warni bagaikan pelangi, merah, biru,kuning, hijau. Di situ ada tiga tenaga terapis yang menangani. Anak tersebut merengek-rengek ketika si terapis memegang tangan dan kaki, namun dengan penuh kesabaran si terapis tersebut mencari cara agar anak itu berhenti menangis.

Seperti memeluk dan mengajak bermain dengan bola warna biru, anak tersebut senang dan dengan senyum melompat-lompat. Terapi dilanjutkan dengan memijat bagian kaki, dan melatih pendengaran dan fokus jika diajak bicara. Sesekali ibu terapis memanggil nama sang anak, dan berkata lompat…lompat….

Anak itu pun mengikuti. Kemudian ada alat yang bentuk seperti sikat pakaian, yang digunakan merangsang motorik perasa atau sentuhan, itu diletakkan dibagian punggung sang anak. Kemudian dengan lembut digerakkan dari atas ke bawah, sampai anak tersebut dapat merasakan.

Dengan terdiam anak tersebut menikmati sentuhan, selanjutnya terapi dibagian kaki, melatih keseimbangan, dengan berdiri pada alat berbentuk bulat dengan bahan-bahan yang timbul. Disitu kaki dapat merasakan sentuhan.

Selanjutnya anak tersebut dinaikan ke bola merah ukuran besar, sambil ibu terapis memegang sang anak, dengan senyuman ia bermain dengan bola tersebut. Dan sudah selang dua bulan berjalan ini, anak tersebut sudah menunjukkan perkembangan, sudah bisa merespons walaupun terkadang harus tergantung mood sang anak.(manado post/fri/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bahaya Terlalu Banyak Gunakan Media Sosial


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler