Terkendala Upah, Industri Tekstil Melemah

Rabu, 19 Juli 2017 – 10:38 WIB
Ilustrasi industri tekstil. Foto: Jawa Pos.Com/JPNN

jpnn.com, SURABAYA - Tiga perusahaan tekstil di Jawa Timur merumahkan tiga ribu pekerjanya pada tahun ini.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jatim Sherlina Kawilarang menyatakan, tiga perusahaan tersebut memilih tutup atau memindahkan pabriknya ke daerah lain.

BACA JUGA: Jatim Provinsi dengan Jumlah Penduduk Miskin Terbanyak

”Kontribusi industri tekstil Jatim ke nasional pun hanya sedikit. Paling banyak hanya sepuluh persen. Kontribusi yang tinggi berasal dari Jabar dan Jateng,” tutur Sherlina, Selasa (18/7).

Industri padat karya saat ini lebih suka masuk ke Jawa Tengah lantaran upah minumum kotanya masih rendah.

BACA JUGA: Kapasitas Produksi Industri Pengolahan Naik Tipis

Selain itu, pembangunan jalan tol di Jawa Tengah sangat pesat sehingga mampu menekan ongkos logistik.

”Saat ini, mengirim barang dari Jawa Barat ke Jawa Timur biayanya USD 500, sama dengan mengirim barang dari Jawa Timur ke Busan di Korea Selatan,” ungkapnya.

BACA JUGA: Pasang Listrik Lebih Mudah, Cukup Lewat Website

Waktu pengiriman dengan truk juga cukup panjang, sekitar 4–5 hari.

Ongkos logistik berkontribusi 10–15 persen dari total biaya.

Karena itu, API berharap kontribusi biaya logistik dapat ditekan menjadi lima persen.

Untuk mencegah pemutusan hubungan kerja secara masal, pemerintah diharapkan memberikan insentif berupa diskon tarif listrik dan diskon tarif pajak penghasilan (PPh).

Diskon pajak penghasilan untuk pekerja menjadi 2,5 persen yang bersifat final dinilai tidak berdampak.

Alasannya, perusahaan penerima insentif harus memiliki minimal dua ribu karyawan.

Sedangkan di Jatim hanya sekitar lima persen perusahaan tekstil yang memiliki karyawan di atas 1.000 orang.

Meski demikian, ekspor tekstil asal Jatim masih mampu menorehkan kinerja positif dengan pertumbuhan 1–3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan itu belum mencapai target pertumbuhan lima persen pada tahun ini.

”Permintaan global memang naik, tetapi harga hancur. Sebab, industri tekstil di Tiongkok saat ini semakin efisien dan semuanya tidak bisa bersaing melawan Tiongkok. Mau tidak mau harus mengikuti harga di Tiongkok,” tutur Sherlina.

Saat ini, Tiongkok menguasai pasar tekstil dunia dengan pasokan 50 persen dari total kebutuhan tekstil.

 Industri juga mewaspadai rencana Tiongkok membangun pelabuhan di Gwadar, Pakistan.

Pelabuhan tersebut diproyeksi memangkas waktu ekspor Tiongkok ke Timur Tengah hingga dua minggu. (vir/c21/noe)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Naik 4,1 Persen, Penggunaan TCash Sudah Memuaskan


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler