Ternyata ini Penyebab Anak Indonesia Kurang Minat Membaca

Selasa, 20 April 2021 – 20:42 WIB
Kepala Perpusnas RI Syarif Bando (kiri) dalam talk show membahas tentang literasi. Foto Humas Perpusnas RI

jpnn.com, JAKARTA - Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando mengatakan budaya membaca di Indonesia mulai meningkat. Ini bisa dilihat dari keberadaan Perahu Pustaka, Kuda Pustaka, Becak Pustaka, Angkot Pustaka, Mobil Pustaka, dan fasilitas bacaan lainnya yang disambut antusias warga.

"Indonesia hanya kekurangan bahan bacaan, bukan malas membaca," kata Syarif dalam talk show pada Selasa (20/4).

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: Seharusnya Bukan Tanggung Jawab Habib Rizieq, TNI AL Turun Tangan, Kok Bangsa Ini Tambah Dungu?

Dia membeberkan, penduduk Indonesia berdasarkan data BPS kurang lebih 270 juta jiwa. Sementara jumlah bahan bacaan yang Perpusnas data di semua jenis perpustakaan umum (bukan di sekolah, perguruan tinggi, atau di rumah) adalah 22 juta.

Artinya, rasio buku dengan total penduduk belum mencapai  satu buku per orang/tahun (0,098). Berbeda dengan di benua Eropa dan Amerika rata-rata sanggup menghasilkan 20-30 buku per orang setiap tahun. 

BACA JUGA: Para Waria ini Merasa Damai Membaca Alquran di Madrasah Khusus Kaum LGBT

Angka ini, tegas Syarif, cukup menguatkan bahwa orang Indonesia bukan malas membaca, tetapi ketersediaan buku yang kurang.

"Anak-anak tidak membaca buku karena berbagai faktor," ucapnya.

BACA JUGA: Cerita Bu Mega tentang Bung Karno sebagai Kutu Buku dan Poliglot karena Membaca

Pertama, akses mendapatkan buku cukup sulit. Menurutnya, jika masyarakat disodori buku-buku yang sesuai, maka mereka akan sangat senang membaca.

“Faktor kedua bukunya jelek-jelek. Jadi bukan salah orang Indonesia-nya yang malas membaca, tetapi salahkan bukunya yang kebanyakan tidak menarik, bahkan sebagian merusak imajinasi anak,” ungkap Syarif.

Menurutnya, buku terbitan dalam negeri kurang menarik, sehingga ak-anak di daerah lebih memilih buku terbitan atau terjemahan dari luar negeri yang memikat.

Di sinilah kata Syarif, letak kekhawatiran, karena anak-anak bisa terasing dari lingkungannya sendiri.

Dia memaparkan banyak anak di daerah yang lebih tahu soal hewan-hewan di belahan bumi lain ketimbang di lingkungannya. Sebab, mereka kekurangan suplai buku asli terbitan dalam negeri.

“Anak-anak lebih fasih berbicara tentang beruang kutub atau dinosaurus, ketimbang tentang kuda Sumba karena banyak dijumpai di buku-buku terjemahan," ujarnya.

Pada kesempatan sama Subandi Sardjoko, Deputi Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Bappenas mengungkapkan Rencana Pembangunan Jangka Mengah (RPJM) 2020-2024 sudah menempatkan literasi, kreativitas, dan inovasi sebagai pilar penting perwujudan masyarakat Indonesia yang maju dan berdaya saing. 

Bappenas juga mendorong gerakan literasi berbasis iklusi sosial, di mana pengetahuan yang diperoleh dari bahan bacaan bisa langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bappenas juga membuat kebijakan melalui Dana Alokasi Khusus, untuk meningkatkan layanan kualitas bacaan di kabupaten dan provinsi.

“Pemerintah menyiapkan infrastrukturnya, dan mendorong pemanfaatan dana desa sesuai sumber daya di desa itu," tandas Subandi. (esy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler