Ternyata, Ini yang Membuat Pekanbaru Babak Belur (Bagian Kedua, habis)

Rabu, 30 September 2015 – 10:16 WIB
ILUSTRASI. FOTO: JPNN.com

jpnn.com - PEKABARU - Di Indonesia, karena angin timur lebih banyak melewati daratan dan selat-selat yang sempit, maka angin lebih cenderung kering sehingga membuat musim panas di Indonesia. Kondisi di Sumatera, maka angin akan berberak dari selatan Kota Pekanbaru seperti Provinsi Sumatera Selatan, Jambi, Kabupaten Pelalawan menuju utara.

“Kini kondisi itu membuat angin membawa kabut asap dari kebakaran hutan yang terjadi di daerah bagian selatan yaitu Kabupaten Pelalawan, dari Jambi dan Sumatera Selatan menuju pusat Kota Pekanbaru. Itu pola angin timur yang membuat kabut asap menuju kota Pekanbaru yang terjadi sejak mulai Agustus dan September seperti sekarang ini,” ujar Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Pekanbaru, Slamet Riyadi kepada Riau Pos (Grup JPNN.com).

BACA JUGA: Ternyata, Ini yang Membuat Pekanbaru Babak Belur (Bagian Pertama)

Soal penjelasan mengapa kabut asap lebih lama berada di Riau dan bahkan seperti berhenti di Kota Pekanbaru, Slamet Riyadi menjelaskan setelah angin dari arah selatan yang tekanannya lebih kuat menuju utara, maka di bagian daerah Sumatera, angin tersebut melewati garis equator.

Jadi setelah melewati garis equator, karena pengaruh perputaran bumi, maka angin dari selatan itu berbelok ketika melewati daerah Kota Pekanbaru. Seperti sepeda motor di tikungan, maka arah angin melambat sehingga kabut asap seperti berhenti sejenak.

BACA JUGA: Jamaah Tiba Berlinang Air Mata

“Itu makanya kabut asap lebih tebal dan jarak pandang lebih parah di Pekanbaru,” jelas Slamet.

Sementara untuk pola angin barat, menurut Slament Riyadi, akan terjadi  akhir Desember mendatang, ketika matahari lebih cenderung berada di belahan bumi bagian selatan.

BACA JUGA: MENGHARUKAN! Wajah Jamaah Haji Penuh Keringat dan Air Mata

“Ketika masuk akhir Desember, Januari, Februari dan Maret mendatang, maka matahari akan lebih cenderung berada di bagian selatan. Ini akan membuat belahan bumi bagian selatan lebih panas dan tekanan udara rendah di bagian selatan,” ujar Slamet.

Pola angin barat ini, angin lebih banyak bertiup dari utara yang lebih lembab menuju bagian bumi bagian selatan yang lebih kering karena lebih panas. Karena melewati Laut Cina Selatan, maka angin yang bertiup ke Indonesia itu lebih banyak uap airnya sehingga membuat musim hujan di Indonesia.

Namun demikian, jika terjadi kebakaran hutan di bagian utara kota Pekanbaru, maka tetap saja angin akan membawa kabut asap dari bagian utara menuju kota Pekanbaru.

“Jadi jika pada bulan Januari, Februari dan Maret mendatang ada bagian utara kota Pekanbaru seperti Rokan Hilir, Dumai Meranti Bengkalis yang lahan gambutnya lebih tebal terbakar, maka kabut asap akan dibawa angin ke Pekanbaru. Ini dua pola angin yang berdampak buruk yaitu berpotensi membawa kabut asap dua kali dalam setahun menuju Kota Pekanbaru,” kata Slamet Riyadi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau Edwar Sanger membenarkan adanya dua pola angin yang mempengaruhi kabut asap atau jerebu ke Pekanbaru.

“Kalau kondisi alam pola angin itu kita tidak bisa tanggulangi lagi. Tinggal sekarang bagaimana pemadaman yang harus dilakukan di hulu. Semua titik api harus padam,” kata Edwar.

Edwar mengatakan sudah mengajak Menteri Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH) dan Pangdam Bukit Barisan untuk melihat kondisi yang sebenarnya di Riau. Bahkan keduanya sudah melihat bahwa tidak ada titik api di Riau, namun kabut asap tetap banyak di Riau terutama di pusat kota Pekanbaru.

Jadi karena kondisi dua pola angin itu, harus dipahami asap yang ada di Pekanbaru itu dari luar Riau. Jadi jangan salahkan kami, semua bentuk penanganan sudah kami lakukan.

Edwar juga berharap penanganan kebakaran lahan yang terjadi di Sumatera Selatan dan Jambi dilakukan dengan cara yang terbaik.

“Ada metode pemadamannya, pakai busa sehingga tidak ada kabut asap ke Riau. Jadi jangan pakai water bombing terus. Kita di Riau ini sudah mabuk karena asap. Pemadaman dengan water bombing itu membuat asap lebih banyak,” kata Edwar.

Edwar juga berharap kepada pemerintah pusat untuk betul-betul melakukan penegakan hukum.

“Tindak siapa saja yang melakukan pembakaran lahan. Kalau perusahaan benar-benar cabut izinnya. Jangan Riau ini disalahkan. Kami sudah menekan agar tidak ada titik api lagi di Riau. Tapi kemarin ada 1.296 titik api di Sumatera Selatan. Sekarang ini kabut asap tebal lagi di Pekanbaru. Jadi intinya padamkan titik apinya,” kata Edwar.

Soal potensi yang sama yang akan melanda Pekanbaru pada Januari, Februari dan Maret jika terjadi kebakaran hutan di sebelah utara Kota Pekanbaru, Edwar mengatakan selama itu di Riau, pihaknya akan berusaha secepat mungkin.

“Kami sudah berkoordinasi dengan segala pihak. Jangan ada pembakaran lagi,” kata Edwar.(rpg/jpg)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Unggah Video Polantas Diduga Minta Uang, Mahasiswa Gondrong Ini Ditangkap


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler