Terpidana Mati Dimakamkan Berdampingan

Minggu, 20 Juli 2008 – 08:22 WIB
Dua liang kubur digali sebelum pemakaman Sumiarsih dan Sugeng. Foto: Bagus/Radar Malang.
MALANG – Jenazah Sumiarsih dan Sugeng, pelaku pembunuhan keluarga Letkol Mar Purwanto, 13 Agustus 1988, dimakamkan berdampingan di TPU Samaan, Kota Malang, Sabtu (19/7) pagiMakam berdampingan itu sesuai dengan wasiat Sumiarsih kepada anaknya, Rusmawati dan Pdt Andreas Nurmandala, salah seorang pembimbing rohani Sumiarsih.
Iring-iringan dua mobil jenazah dari RSU dr Soetomo Surabaya tiba di Kompleks Tempat Pemakaman Umum (TPU) Samaan sekitar pukul 05.25

BACA JUGA: SBY: Danau Toba Objek Wisata Dunia

Mobil jenazah jenis Kijang nopol L 8065 AP mengangkut jenazah Sugeng
Jenazahnya telah dimasukkan ke peti kayu cokelat biasa

BACA JUGA: Sumiarsih-Sugeng Ditembak Bersama

Sugeng yang beragama Islam mendapat peti tanpa ornamen

Kemudian ambulans Kijang nopol L 8007 QP mengangkut jenazah Sumiarsih

BACA JUGA: Usut Pejabat Selewengkan Upah Pungut

Perempuan kelahiran Jombang itu ditempatkan dalam peti kayu cokelat berselimut kain putih dengan tanda salib merah
Pemakaman keduanya dilakukan secara bergantianPukul 05.30 peti jenazah Sugeng digotong terlebih dahulu menuju liang lahat yang digali sehari sebelumnyaJarak antara pemberhentian kendaraan dengan liang kubur sekitar 75 meterCuaca sedikit mendung dan sinar matahari yang mulai muncul belum bisa menerangi kawasan TPU seluas 10 hektare itu
Sugeng dimasukkan ke liang sisi timur dari dua liang yang bersebelahanSebelum ditimbun tanah, tutup peti dibuka untuk memalingkan posisi jenazah ke arah barat (kiblat)Termasuk menata kembali jenazah yang telah dikafani itu
Upacara pemakaman Sumiarsih dan Sugeng diikuti sedikitnya 70 orangSekitar 20 orang yang hadir adalah wartawan dan pekerja persSisanya adalah jemaat Gereja Bethel Indonesia (GBI), rombongan pengiring jenazah, warga sekitar, aparat Kejaksaan Negeri Kota Malang, dan beberapa pegawai Lembaga Pemasyarakatan Wanita Sukun, Malang
Rusmawati tidak terlihat dalam rombongan pelayatMenurut beberapa jemaat GBI, Wati minta diantar pulang ke Siloam, Jalan Bendungan Sigura-gura, Kota MalangMungkin Wati masih shock sekaligus kecapekanHanya Felicia, teman dekat Sugeng, tampak hadir dengan wajah sembab.
Prosesi pemakaman Sugeng dipimpin MSyafik, Sekjen Forum Kerukunan Antarumat Beragama (FKAUB) Kota MalangSyafik diminta datang memimpin proses pemakaman Islam
Suara azan dan kalimat tahlil berkumandang saat pemakaman SugengPara pelayat yang beragama Islam mengamini doa yang dibacakan Syafik
Pukul 05.45 giliran peti jenazah Sumiarsih digotong dari ambulansSebelum diturunkan ke dalam lubang, peti dibuka dan digelar doaDoa dipimpin Pdt Gatot dan Pdt Yani Lim (gembala Sumiarsih)Yani Lim adalah pembimbing Sumiarsih sebelumnya yang baru dua hari tiba dari Kanada.
Nenek satu cucu itu mengenakan pakaian putih-putihKain transparan menutupi wajahnya yang dirias lengkap dengan lipstikSelimut putih bergambar salib merah ditutupkan pada perut hingga kakiUsai doa pertama, peti ditutup.
Sebelum diturunkan ke liang lahat, digelar kebaktian pemakaman yang dipimpin Pdt Yani Lim dan dilanjutkan Pdt GatotKalimat Haleluya dan Puji Tuhan didengungkan para jemaat GBIDalam kebaktian itu, Yani juga mengajak jemaat mengumandangkan lagu pujian Allah KuasaPujian itu, kata Yani, adalah kesukaan Sumiarsih
Yani juga mengutarakan pesan terakhir Sumiarsih kepadanya”Hidup ini sementara dan singkatSetiap kita harus senantiasa siapDatangnya kematian seperti pencuri yang tidak bisa diduga,” ungkap pendeta perempuan itu menirukan ucapan Sumiarsih
Sekitar pukul 06.45 peti jenazah Sumiarsih pun dikebumikanNisan salib bertulisan ”Sumiarsih” dengan spidol biru tertancap di pusaranyaBegitu pula di atas pusara Sugeng, ditancapkan nisan berbentuk kubah dengan tulisan ”Sugeng”, juga dengan spidol biruBunga beraneka warna dan harum ditabur di atas kedua pusara(yos)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Penembakan Misterius Tewaskan Mahasiswa


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler