Ada sejumlah warga asing yang tidak pulang ke negaranya dan memilih untuk tetap tinggal di Indonesia saat pandemi virus corona. Mereka ikut membantu warga Indonesia dalam menolong sesama yang mengalami kesulitan.

Semangat gotong-royong yang dilakukan oleh sesama warga negara Indonesia selama pandemi COVID-19 telah menginspirasi warga ekspatriat, atau warga negara asing di Indonesia.

BACA JUGA: Tiongkok Anggap Australia Selalu Membuat Masalah

Seperti yang diakui Tara McGowan, dosen di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yang tergerak membantu warga setelah melihat orang-orang membagikan kebutuhan pokok kepada pengendara motor di jalanan.

"Hampir setiap kali dalam perjalanan ke supermarket, saya melihat sebuah mobil berhenti di pinggir jalan dan ada keluarga yang membagikan kardus makanan kepada pengendara motor yang lewat," kata Tara yang sudah tinggal di Yogyakarta sejak tahun 2006.

BACA JUGA: Reuters: Lebih dari 2.200 PDP di Indonesia Meninggal Dunia

"Ada juga teman saya … pemilik restoran, setiap hari Rabu ia membagikan sekitar 150 makanan untuk perawat dan dokter di UGD sebuah rumah sakit," kata Tara memberikan contoh lain.

Tara mengatakan, apa yang dilakukan warga Indonesia ini telah mendorongnya untuk juga berbagi.

BACA JUGA: Prediksi Menteri Australia soal Lapangan Pekerjaan Pascawabah Corona

Photo: Tara dan keluarganya telah melakukan apa yang bisa mereka lakukan untuk menolong tetangga mereka. (Supplied)

 

"Saya tahu bahwa orang Indonesia itu sangat, sangat baik, dan adalah pemberi. Inilah mengapa saya dan suami mau mencoba memberi juga."

Bersama seorang teman lainnya, yang terpaksa pulang ke Indonesia, Tara sudah membagikan bahan pokok kepada warga di sekitar lingkungannya.

"Saya ingin melakukan sesuatu, tapi tidak memiliki uang dan waktu yang banyak," ujarnya.

"Kemudian teman saya bilang ia tahu beberapa orang yang menjahit APD sampai berjam-jam dalam sehari," kata ibu dua anak ini.

Tara pun kemudian membantu juga para penjahit dengan menyumbangkan makanan sebagai tanda terima kasih. Mengubah kehidupan ribuan orang dengan modal Rp15 ribu

Tara bukan satu-satunya ekspatriat yang khawatir akan nasib warga setempat.

Amanda Rialdi, ekspatriat asal Queensland, Australia yang sudah menjadikan Bali rumahnya sejak tujuh tahun lalu, juga merasakan hal yang sama.

"Sejujurnya saya tidak bisa tidur memikirkan bagaimana orang yang kehilangan sumber penghasilannya bisa bertahan hidup," kata Amanda kepada Tasha Wibawa dari ABC News.

"Keluarga saya beruntung karena [masih] ada saudara dan teman yang dapat menolong kami."

Ide berbagi dari Amanda dimulai saat ia meminta keluarga dan teman-temannya di Facebook menyumbangkan AU$1,5 (Rp15 ribu) untuk membelikan makanan bagi orang-orang di jalan. Photo: Amanda dan timnya telah membantu ribuan keluarga yang membutuhkan di Bali. (Supplied)

 

"Dan sekali kami tahu di mana kawasan tempat tinggal orang yang membutuhkan bantuan, kami segera mengantarkan kebutuhan pokok [kepada mereka], seperti nasi, telur, sayur-sayuran dan sebagainya yang cukup untuk dikonsumsi selama satu bulan."

Hingga kini, Amanda dan temannya yang membantu dari Australia, telah membagikan 3.000 paket makanan dan lebih dari 4.000 masker gratis kepada warga di kota dan pedesaan Bali yang terpukul pandemi COVID-19.

Salah satu warga asing yang juga membantu warga Bali adalah Kylie Parmley, setelah ia menyaksikan ribuan warga Bali yang mayoritas bekerja di industri pariwisata yang kehilangan pekerjaannya. Gotong Royong di Tengah Pandemi
Cerita inspiratif dari warga Indonesia yang memilih membantu satu sama lain saat menghadapi pandemi virus corona.

 

Melalui organisasi amal Crisis Kitchen Bali yang ia bentuk dua minggu lalu, ia membagikan 500 bungkus makanan gratis kepada warga Bali.

"Saya merasa tidak tenang menyaksikan semua orang di Bali kelaparan." kata Kylie kepada ABC.

Di dalam sebuah video di halaman pengumpulan dana organisasi yang didirikannya, Kylie menceritakan rasa ibanya melihat warga Bali yang tidak mampu memberi makan keluarga mereka karena kehilangan sumber pendapatan.

Sebagai ibu dengan dua anak, Kylie mengaku tidak dapat membayangkan harus bangun di pagi hari berhadapan dengan kenyataan tidak bisa makan.

"Setiap hari kami menerima pesan dari warga, dan hal pertama yang mereka katakan adalah … 'Bisakah Anda menolong saya? Kami butuh makan'," tambahnya. External Link: Liputan Anne Barker

  Ikut membantu perekonomian

Para ekspatriat yang membantu warga di Indonesia tidak bergerak sendiri dalam menyalurkan sumbangan mereka.

Amanda, misalnya, telah melibatkan beberapa warga Bali yang kehilangan pekerjaan mereka dalam proses penyaluran bahan-bahan pokok.

"Banyak orang menawarkan jasa menyalurkan bantuan ke orang terdekat mereka. Akhirnya tanpa mengambil keuntungan, kami menggunakan jasa beberapa sopir dan membayar ongkos antar sepenuhnya untuk mereka," kata dia.

"Kami juga membeli beberapa barang dari warung-warung yang berbeda untuk membantu bisnis mereka bertahan, sekaligus berbagi kebaikan." Photo: Warga berkebangsaan Australia telah mengirimkan sejumlah paket bahan makanan dan keperluan lain untuk orang-orang di Bali yang melayani mereka selama berlibur di sana. (Supplied)

 

Hingga saat ini, terdapat 4.445 Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kota Denpasar yang terdampak COVID-19, menurut data dari Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali (29/04).

Melihat hal ini, Tara dan suaminya juga berusaha sebaik mungkin untuk membeli produk petani setempat, sekaligus membantu perekonomian mereka di tengah pandemi.

"Jadi saya berusaha membeli makanan langsung dari sumbernya agar mereka yang kurang mampu ini juga bisa makan." Tidak pernah terlintas pikiran untuk meninggalkan Indonesia Photo: Aksi tolong-menolong dan saling bantu, biasa dikenal dengan istilah gotong-royong, telah dikenal sebagai salah satu budaya Indonesia. (Supplied)

 

Sebagai seorang ekspatriat yang sudah memiliki ikatan yang kuat dengan desa tempat tinggalnya di Yogyakarta, Tara yang menyaksikan sendiri kesulitan warga di sekitarnya tidak dapat tinggal diam.

"Di satu sisi, saya adalah warganegara Australia yang tinggal di Indonesia. Namun, di sisi lain, saya merasa sangat dekat dengan orang-orang di sini," kata Tara kepada Natasya Salim dari ABC News.

"Jadi, saya bisa melihat aktivitas mereka dan apa yang mereka makan. Hati saya hancur melihat warga harus berbuka puasa setiap hari dengan mie instan."

Sementara bagi Amanda yang menikah dengan seorang pria Bali, meninggalkan provinsi yang sudah dekat dengan hatinya tidak pernah menjadi pilihan.

"Keluarga dan teman-teman saya sudah menyuruh saya pulang [ke Australia], tapi Bali adalah rumah saya dan tidak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk meninggalkannya."

Simak berita lainnya di ABC Indonesia dan ikuti kami di Facebook dan Twitter.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Australia Berikan Bantuan kepada Mahasiswa Internasional

Berita Terkait