Terungkap Kejadian saat Putri Candrawathi Merasa Pusing, Ada 2 Kejanggalan, Alamak!

Rabu, 14 Desember 2022 – 07:25 WIB
Terdakwa kasus pembunuhan berencana Nofriansyah Yosua Hutabarat, Putri Candrawathi saat mengikuti sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (13/12). Bharada Richard Eliezer menjadi saksi pada sidang tersebut. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - JAKARTA - Richard Eliezer mengaku melihat Putri Candrawathi sempat menepis Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J ketika hendak mengangkat istri Ferdy Sambo itu yang terbaring di sofa saat berada di rumah Magelang, Jawa Tengah.

Richard mengatakan hal itu saat menyampaikan kesaksiannya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (13/12).

BACA JUGA: Richard Membongkar Perintah Putri Candrawathi, Dilap pakai Tisu, Waduh

Richard Eliezer menjadi saksi untuk terdakwa Putri Candrawathi dan Ferdy Sambo.

“Baru saya lihat almarhum memang mau angkat ibu (Putri Candrawathi), tetapi ditepis sama ibu,” kata Richard Eliezer ketika menyampaikan kesaksiannya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa.

BACA JUGA: Richard Ungkap Gerakan Putri Candrawathi saat Yosua Mendekat ke Sofa, Oh Jangan

Richard Eliezer mengaku saat itu dia dipanggil oleh Yosua untuk membantu Yosua mengangkat Putri Candrawathi ke lantai 2 di kediaman Ferdy Sambo di Magelang.

Saat itu, Putri Candrawathi sedang berbaring di sofa karena merasa pusing.

BACA JUGA: Putri Candrawathi Blak-blakan Mengaku Dipaksa Ferdy Sambo, Oalah

“Kami berdua masuk, Yang Mulia. Sampai di ruang tamu ada Susi (asisten rumah tangga/ART) dan Kuat (ART),” kata Richard Eliezer.

Richard Eliezer mengatakan, Susi dan Kuat sedang berdiri di dekat Putri Candrawathi yang saat itu berbaring di sofa.

Yosua kembali mengajak Richard untuk membantu Yosua mengangkat Putri.

Saat menyampaikan ajakan tersebut, kata Richard, posisi Yosua sudah berada di sisi Putri Candrawathi.

“Waktu itu, saya melihat ibu, ibu menggerakkan tangan ke saya. Langsung (saya) mengartikan, wah kayaknya ibu tidak mau diangkat, jadi saya mundur,” tutur Richard.

Saat itulah Putri Candrawathi menepis Yosua yang ingin mengangkat dirinya.

Hakim pun mempertanyakan kira-kira apa niat Yosua yang ingin mengangkat Putri Candrawathi saat itu.

“Saya tidak tahu, Yang Mulia,” ucap Richard Eliezer.

Richard menjelaskan, karena Putri Candrawathi menepis tangan Yosua, dia pun mundur dan membiarkan Kuat mengobrol dengan Putri Candrawathi.

“Saya mundur, Yang Mulia. Baru Om Kuat sempat ngobrol sama ibu, saya kembali lagi ke samping rumah,” kata Richard Eliezer.

Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel mengungkap beberapa kejanggalan dari pengakuan Putri Candrawathi bahwa dirinya mengalami kekerasan seksual oleh Brigadir J di Magelang.

Pertama, Putri Candrawathi Mencari Yosua

Reza menjelaskan ada tahap-tahap pulih dari trauma akibat kejahatan seksual, yakni dimulai dari mengatasi perasaan takut, kemudian memulihkan ingatan dan berinteraksi kembali dengan orang yang disebut menjahati secara seksual (reconnecting to others).

Kejanggalan itu, menurut Reza, berdasarkan keterangan Ricky Rizal dalam kesaksiannya, bahwa Putri Candrawathi mencari Brigadir J.

Lantas, Brigadir J diketahui menghadap Putri setelah disebut-sebut melakukan perkosaan.

"Secepat itukah PC bisa langsung pulih dan melompat ke fase ketiga? Dan reconnecting to others itu adalah berinteraksi kembali dengan orang yang dia sebut telah menjahatinya secara seksual beberapa menit sebelumnya," kata Reza.

Dia mengatakan, dalam situasi ini, singkat sekali jeda waktu sejak momen Putri Candrawathi diperkosa sampai kemudian mau bertemu lagi dengan pelaku perkosaan tersebut.

"Masuk akalkah?" tanya Reza.

Kedua, Putri Candrawathi Bertemu Yosua 15 Menit

Ahli psikologi forensik pertama di Indonesia itu mengungkap kejanggalan kedua.

Pertemuan empat mata antara Putri Candrawathi dan Brigadir J selama sekitar 15 menit di kamar Putri, menimbulkan tanda tanya, apa yang diobrolkan oleh keduanya.

Sebagai ahli psikologi forensik, Reza mempertanyakan apa obrolan tersebut setara.

Reza berpendapatan, kemungkinan obrolan merupakan obrolan di mana satu pihak mengendalikan pihak lain.

"Dalam obrolan yang diwarnai relasi kuasa semacam itu, didiktekanlah skenario untuk menutup-nutupi apa yang telah terjadi. Skenario itu yang terwakili oleh perkataan Y (Brigadir J) saat dia dipanggil FS, 'Kenapa, Pak? Ada apa, Pak?'" ungkap Reza.

Namun, lanjut Reza, pada sisi lain memahami bahwa sudah telanjur ada kegegeran di rumah Magelang, Putri Candrawathi berpikir ulang.

Mengingat klaim tidak terjadi apa-apa, tidak akan dipercayai oleh siapa pun. Apalagi, jika asisten rumah tangga dan ajudan sendiri yang mengabarkan kepada Ferdy Sambo ihwal kegemparan yang mencurigakan di Magelang yang bakal memicu kemurkaan suaminya.

Reza berpendapat, pada titik itulah boleh jadi Putri Candrawathi berpikir tentang menyelamatkan dirinya sendiri dengan strategi relabelling atau tuduhan (narasi) palsu (false accusation) tentang apa yang dilakukan Brigadir J.

"Tragisnya, relabelling itu lantas ditelan bulat-bulat oleh FS. Pengalaman investigasinya selaku anggota Polri tak berfungsi. Relasi kuasa akhirnya makan korban, Y kehilangan nyawa," ujar Reza. (antara/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : Soetomo Samsu

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler