Terungkap Penyebab Banjir Bandang di Lebak

Senin, 06 Januari 2020 – 21:33 WIB
Kondisi akses jalan menuju Kampung Muhara, Desa Ciladaeun, Kecamatan Lebakgedong, Minggu (5/1), pascalongsor pada Rabu (1/1) lalu. Foto: Radar Banten

jpnn.com, LEBAK - Kerusakan yang terjadi di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang berada di perbatasan Kabupaten Bogor, Jawa Barat dan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, disinyalir menjadi penyebab banjir bandang dan tanah longsor di enam kecamatan di Kabupaten Lebak pada Rabu (1/1).

Luas lahan TNGHS berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003 seluas 11.367 hektare. Dari data yang dihimpun, pada 2009 sedikitnya 21,7 persen atau 24.550 hektare luas lahan di TNGHS dalam kondisi rusak. Bahkan, seluas 8.550 hektare di antaranya dalam kondisi rusak berat sehingga harus direhabilitasi secara intensif.

BACA JUGA: Total Korban Meninggal akibat Banjir Bandang di Lebak Jadi 9 Orang

Informasi yang dihimpun Radar Banten, aktivitas penambangan emas di hulu dan anak Sungai Ciberang sebagian besar berada di TNGHS. Sungai Ciberang melintasi empat kecamatan, yakni Cipanas, Lebakgedong, Curugbitung, dan Sajira. Aliran bermuara di Sungai Ciujung di bagian barat Kota Rangkasbitung Ibukota Kabupaten Lebak.

Sejak lama, hulu sungai ramai dipenuhi aktivitas pertambangan, secara geologis tanah di bagian hulu mengandung sumber daya mineral logam mulia. Sedikitnya, empat lokasi penambangan emas di kawasan TNGHS termasuk wilayah Kabupaten Lebak yakni Cisoka, Cikidang, Cidoyong (Kecamatan Lebak Gedong) dan Cikidang, Kujangsari (Kecamatan Cibeber).

BACA JUGA: Kepala BNPB Ungkap Penyebab Banjir Lebak

Aktivitas penambangan ini menjadi salah satu mata pencaharian warga enam desa di Kecamatan Lebak Gedong. Keberadaan ‘glundung’ atau tempat pengolahan emas di pinggir sungai Kampung Muhara dari lima glundung empat di antaranya hanyut terbawa banjir bandang. Satu glundung tersisa tanpa aktivitas. Biasanya, glundung menampung hasil tambang dari tambang Cisoka. Penambang membutuhkan, waktu sekira tiga jam untuk mencapai lokasi tambang menggunakan motor.

Tak kalah memprihatinkan, kondisi bukit-bukit dulunya dipenuhi pohon-pohon besar di antaranya durian. Kini, sebagian besar beralih fungsi tanaman industri di antaranya pohon albasiah. Alih fungsi tanaman ini terjadi berkisar sejak 2000.

Pemicu banjir bandang lantaran aktivitas penambangan pun diungkap Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo saat berkunjung ke lokasi banjir di Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Sabtu (4/1).

“Terkait penyebab banjir yang sangat masif dan baru pertama terjadi selama beberapa puluh tahun. Laporan dari Polda Banten penyebab utama selain faktor hujan di wilayah hulu, adalah sejumlah tambang yang longsor membawa bebatuan dan juga lumpur. Ini yang menyapu rumah penduduk di bantaran sungai sehingga mengakibatkan kerugian yang masif,” kata Doni yang ikut mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy.

Doni menjelaskan, banjir bandang dan longsor di Kabupaten Lebak telah mengakibatkan kerusakan yang masif. Ribuan rumah rusak berat dan hanyut, delapan orang meninggal dunia dan satu orang masih hilang, bangunan sekolah dan pesantren rusak, serta infrastruktur hancur.

"Pendistribusian bantuan dilakukan melalui udara agar masyarakat yang terisolasi mendapatkan bantuan logistik yang cukup," katanya. (fauzan/mastur)

VIDEO: Banjir Terparah Sepanjang Sejarah


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler