Tetap Optimis Ekspor Tembus Rp 240 M

Jumat, 15 Oktober 2010 – 06:49 WIB

JAKARTA -- Ekspor mi instan nasional pada 2010 diperkirakan sanggup menembus Rp 240 miliar atau naik sekitar 15 persen dibandingkan 2009Kasus Indomie di Taiwan diyakini tidak akan mengganggu kinerja ekspor produk ini.

Ketua Asosiasi Roti, Biskuit, dan Mi Instan (Arobim), Sribugo Suratmo, mengatakan kasus penarikan mi instan Indonesia di Taiwan tidak mengganggu kinerja ekspor karena kasus tesebut akibat aksi pararel impor

BACA JUGA: Taiwan Siap Klarifikasi Indomie

"Ekspor mi instan tidak terganggu
Justru pasarnya lebih establish (kuat)

BACA JUGA: Desak Uji Sampel Secara Periodik

Jika total omzet mi instan tahun 2010 diprediksi mencapai Rp 2,4 triliun maka sekitar 10 persen di antaranya merupakan nilai ekspor
Secara volume, konsumsi tahun 2010 diperkirakan 16-17 miliar bungkus," ujar Sribugo di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, konsumsi mi instan nasional tergantung pada kinerja panen produksi bahan kebutuhan pokok yaitu beras

BACA JUGA: Profit Taking Bayangi Transaksi Akhir Pekan

Jika kondisi perdagangan dan distribusi beras berjalan baik biasanya berpengaruh pada berkurangnya konsumsi mi instan"Kalau panen berasnya bagus, pasti tetap mengonsumsi nasi kan," imbuhnya.

Sribugo berpendapat kasus Indomie di Taiwan bukan merupakan perang dagangSebab produk mi instan Indonesia membidik kelas pasar berbeda dengan produk mi instan asal negara lain"Sampai saat ini, belum ada pernyataan yang memicu bahwa konsumsi mi instan itu burukKondisi masih normalBahkan, dari PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (Indofood) menegaskan, tidak ada kendala ekspor atau penjualan," tuturnya.

Sribugo memaparkan, dari total omzet mi instan nasional, Indofood dengan berbagai merek menguasai 55-60 persenMenyusul Wings Group (Mie Sedaap) dengan 25-30 persen"Dari total pasar Indofood, Indomie menguasai pasar mi instannya 35 persen," terusnya.

Sekjen Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman (Pipim) Franky Sibarani mengatakan pada tahun 2006 nilai ekspor mi instan Indonesia mencapai USD 36,5 juta kemudian melonjak pada 2009 menjadi USD 95 juta"Indonesia sanggup memenuhi targetnya tahun ini jika bisa selesaikan kasus di Taiwan secepatnya," katanya.

Menurut Franky, produk mi instan asal Indonesia sangat laris di negara yang banyak terdapat tenaga kerja Indonesia (TKI)Termasuk di Taiwan, Hong Kong, Singapura, Malaysia, dan Arab SaudiSeperti di Taiwan, katanya,ceruk pasarnya adalah 125 ribu TKI dan pekerja Indonesia"Di Arab Saudi bahkan seingat saya ada pabriknya (Indofood)," ungkapnya.(gen)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Standar CAC, RI Ultimatum Taiwan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler