Tiga Generasi Keluarga Holocombe Tewas di Gereja Texas

Selasa, 07 November 2017 – 07:06 WIB
First Baptist Church lokasi penembakan maut pada Minggu (5/11). Foto: Independent

jpnn.com, TEXAS - Penembakan di Gereja First Baptist, Sutherland Springs, negara bagian Texas, Amerika Serikat (AS), Minggu (5/11) menghilangkan nyawa tiga generasi Holcombe sekaligus.

Total delapan nyawa anggota keluarga mereka tewas akibat aksi brutal Devin Patrick Kelley yang belakangan diketahui mengalami gangguan mental.

BACA JUGA: 26 Warga Texas Tewas, Trump Sibuk Bela Donatur

Joe Holcombe berkisah, saat itu putranya, Bryan, tengah berjalan ke mimbar dan bersiap memimpin pujian ketika penembakan terjadi.

Pria 60 tahun tersebut tewas di lokasi bersama istrinya, Carla Holcombe, 58. Putra Bryan dan Carla, Marc Daniel Holcombe, juga masuk daftar korban tewas.

BACA JUGA: Pria Bersenjata Berondong Gereja di Texas, 26 Jemaat Tewas

Begitu pula dengan putra Marc, Noah Halacombe, yang masih berusia satu tahun. Dia meninggal di lokasi karena tubuhnya tertembus peluru.

Putra Bryan yang lainnya, yaitu John Holcombe, berhasil selamat dan hanya terluka di bagian kaki. Tapi, istri John, Crystal, yang tengah hamil lima bulan tak luput dari tembusan peluru.

BACA JUGA: Pencegahan Gatot ke AS Diharap Tak Ganggu Hubungan 2 Negara

Menantu Bryan itu tewas bersama janin yang dikandungnya. Tiga di antara lima anak Crystal dan John, yaitu Emily, Megan, dan Greg, ikut tewas.

Joe baru mengetahui insiden tersebut sejam setelah kejadian. Pria 86 tahun itu memang tidak pergi ke gereja yang sama dengan anaknya, melainkan ke Gereja Baptis di dekat Floresville, Texas.

Rekannya sesama jemaat yang mengabarkan berita duka tersebut. ”Dia berkata ada penembakan dan tidak berkata banyak tentang hal itu. Saat saya tanya tentang Bryan dan Karla, pendeta menjawab mereka berdua di surga,” terang Joe.

Penembakan yang terjadi sekitar pukul 11.30 waktu setempat itu membuat shock banyak pihak. Sebab, Sutherland Springs selama ini terbilang sebagai kota kecil yang tenang, penduduknya kurang dari 400 orang.

Total 26 orang tewas dan 20 lainnya luka-luka atas insiden brutal tersebut. Sebanyak 23 korban tewas di dalam gereja, dua di area luar, dan satu orang tewas saat di rumah sakit. Versi polisi, korban tewas berusia 5–72 tahun.

Jumlah korban jiwa bisa jauh lebih tinggi seandainya saja Stephen Willeford tidak melawan dan Johnnie Lagendorff tidak mengejar pelaku yang melarikan diri.

Lagendorff mengungkapkan, saat kejadian, dirinya tengah lewat di depan gereja. Saat itu, dia melihat pelaku sedang baku tembak dengan Willeford.

Kelley mengenakan baju hitam dan memakai rompi antipeluru. Merasa terdesak, Kelley masuk ke mobil jenis Ford Explorer dan melarikan diri.

”Willeford Red menghampiri saya dan mengatakan bahwa kami harus mengejarnya. Itulah yang saya lakukan,” ungkap Lagendorff saat diwawancarai beberapa media.

Willeford masuk ke mobil Lagendorff dan mengejar pelaku. Saat pengejaran berlangsung, Kelley sulit mengontrol kendaraan dan akhirnya menabrak kendaraan yang terparkir.

Willeford mendekati mobilnya, tapi Kelley sudah tidak bergerak. Dia tewas karena luka tembak. Belum diketahui apakah itu karena bunuh diri ataukah terkena saat baku tembak dengan Willeford.

Polisi mengungkapkan bahwa ada beberapa senjata di mobil pelaku. Dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa Kelley adalah mantan anggota Pasukan Angkatan Udara AS. Dia bertugas di Pangkalan Udara Holloman di New Mexico mulai 2010 sampai dibebastugaskan pada 2014.

Pada 2012, dia sempat menjalani sidang di pengadilan militer karena menyerang pasangannya dan anak mereka. Saat itu, dia sempat ditahan setahun.

Mudahnya mendapatkan senjata api langsung menjadi perbincangan pasca terjadinya kasus penembakan terburuk sepanjang sejarah Texas tersebut. Dibanding negara bagian lainnya, undang-undang kepemilikan senjata api di Texas memang paling longgar.

Menangapi hal itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa yang menjadi masalah bukanlah senjata, tapi pemiliknya. Suami Melania itu menegaskan bahwa pelaku memiliki masalah kesehatan mental.

”Ini bukanlah masalah tentang senjata. Maksud saya, bisa saja diarahkan ke sana, tapi itu sedikit terlalu cepat,” ujar Trump yang tengah melawat ke Jepang.

”Itu adalah masalah kesehatan mental yang parah,” tambahnya.

Penembakan Minggu lalu berbarengan dengan peringatan delapan tahun kejadian serupa di Pangkalan Militer Ford Hood, Texas. Saat itu pula terjadi penembakan di lokasi tersebut yang mengakibatkan 13 orang tewas. (Reuters/AP/SMH/CNN/The WashingtonPost/sha/c21/any)

BACA ARTIKEL LAINNYA... AS Sewot, Iran Masa Bodoh


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler