Tiga Paus Mati di Wilayah Bali, BPSPL Sebut Ini Penyebabnya

Minggu, 09 April 2023 – 20:42 WIB
Dokter hewan melakukan nekropsi bangkai Paus Sperma (Physeter macrocephalus) yang terdampar di Pantai Yeh Leh, Jembrana, Bali, Minggu (9/4/2023). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

jpnn.com, DENPASAR - Tiga ekor paus ditemukan mati di wilayah Bali.

Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar menyebut paus itu sakit.

BACA JUGA: Hiu Paus Terdampar di Kota Larantuka Dilepaskan Kembali ke Laut

"Tiga kasus yang terjadi di Bali dalam waktu beberapa hari dari 31 Maret sampai 9 April 2023. Ada tiga kasus yang mencuat, dua di antaranya kami sudah nekropsi (bedah mayat). Yang satu kami tidak lakukan karena itu sudah busuk saat kami temukan di Tabanan. Dua yang kami nekropsi itu indikasinya sakit," kata Kepala BPSPL Denpasar Permana Yudiarso saat dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu.

Namun demikian, dirinya belum memastikan secara jelas apa sakit yang menimpa mamalia yang hidup di laut tersebut.

BACA JUGA: Paus Mati Terjebak di Kawasan Mangrove Muara Raja Ampat

Saat ini, kata dia, Kementerian Kelautan tengah bekerja sama dengan dokter hewan dan ahli forensik dari Universitas Airlangga Surabaya untuk menjelaskan secara pasti penyakit yang menyerang tiga paus yang ditemukan di wilayah Bali tersebut.

"Sakitnya apa, ini sementara didalami oleh dokter ahli hewan dan akan dilakukan uji laboratorium," katanya.

BACA JUGA: Motif RS Membunuh Mahasiswi Polmed, Astaga

Yudiarso mengatakan dalam kurun waktu seminggu, ada tiga kejadian paus yang terdampar dengan kondisi mati yakni Paus Bryde di Pantai Batu Lumbang, Kabupaten Tabanan pada Sabtu (1/4), Paus Sperma di Pantai Yeh Malet, Kabupaten Karangasem pada Rabu (5/4), dan Paus Sperma di Pantai Yeh Leh, Kabupaten Jembrana pada Sabtu (8/4).

Secara teknis, kata dia, Kementerian Kelautan akan mempublikasikan hasil penelitian penyebab dari dua paus yang sudah dinekropsi tersebut.

Setelah dilakukan uji laboratorium, kata dia, untuk dua kasus paus mati di dua wilayah berbeda yakni di Jembrana dan Karangasem ditemukan paus jenis sperma (Physeter macrocephalus), sementara untuk paus di Pesisir Pantai Batu Lumbang, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali itu jenisnya bryde atau Paus Edeni (Balaenoptera Brydei).

Yudiarso mengatakan dalam penelitian yang dipelajari, ada beberapa penyebab kematian hewan mamalia tersebut, yakni kebisingan suara di laut, perubahan cuaca ekstrem, perubahan kontur laut dan arus, serta bencana alam.

Dengan adanya fenomena kematian paus tersebut, kata dia, pihaknya menaruh perhatian lebih terhadap kesehatan laut Indonesia.

Yudiarso menyatakan bahwa ada sesuatu yang memengaruhi kesehatan laut walaupun secara teknis paus ini bermigrasi ke mana pun untuk menjadi bahan evaluasi.

Yudiarso menjelaskan dalam pengamatan Kementerian Kelautan fenomena kematian mamalia laut tersebut telah terjadi selama 19 kali di wilayah BPSPL Denpasar yang membawahi empat provinsi.

"Dari akhir Maret sampai awal April ini total ada 19 kejadian. 3 di Bali, satu di Jawa Timur di Sumenep, sisanya beberapa kejadian di NTT," katanya.

Dia mengatakan setelah dilakukan beberapa pemeriksaan akan adanya polusi suara seismik di dalam perairan, pihaknya tidak menemukan adanya fenomena seperti itu di selatan wilayah Samudra Hindia yang menjadi wilayah kerja BPSPL Denpasar.

Namun demikian, ada indikasi karena adanya pencemaran lingkungan khususnya wilayah perairan khususnya karena sampah.

"Ada memang indikasi ke arah sana (sampah laut). Tetapi, pastinya kami masih dalami dan mencatat ada hal seperti itu. Plastik ini kan jadi momoknya kita Indonesia penyumbang sampah plastik. Kita memang tidak tahu puasnya makan plastik di perairan kita atau di mana belum tahu, tetapi dengan adanya fakta bahwa pausnya mati di wilayah kita, itu kan jadi pertanyaan," katanya.

"Pada tahun 2022 lalu ada sembilan kejadian serupa di wilayah Provinsi Bali," katanya. (antara/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... 2 Pria dan Satu Wanita di Dalam Penginapan, Ada Alat Kontrasepsi


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler