Tiket Pesawat Mahal, Omzet Pengusaha Oleh-Oleh Terjun Bebas

Kamis, 23 Mei 2019 – 05:14 WIB
Ilustrasi toko oleh-oleh di bandara. Foto: Kaltim Post/JPNN

jpnn.com, BALIKPAPAN - Harga tiket pesawat yang mahal memberikan dampak negatif bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), khususnya penyedia oleh-oleh, di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan.

Sepinya masyarakat yang bepergian berdampak pada permintaan. Pemilik Abon Kepiting Ansori mengatakan, usaha yang dia jalankan sepi pembeli sejak awal tahun lalu.

BACA JUGA: Menhub Pastikan Awasi Terus Tarif Tiket Pesawat

“Sekarang penumpang yang berangkat dari Balikpapan sepi. Lihat saja di bandara aktivitasnya mulai menurun akibat sepi penumpang,” ungkapnya, Selasa (21/5).

BACA JUGA: Menhub Pastikan Awasi Terus Tarif Tiket Pesawat

BACA JUGA: Dirjen Udara Pantau Tarif Pesawat di Bandara Soetta, Hasilnya..

Sejak awal tahun ini tiket memang mahal dan membuat banyak masyarakat mengurangi aktivitasnya ke luar kota. Akibatnya yang membeli oleh-oleh juga sepi.

“Penurunan yang kami rasakan lebih dari 20 persen,” ucapnya.

BACA JUGA: Harga Tiket Pesawat Sejumlah Rute setelah Tarif Batas Atas Diturunkan, Tipis

Permintaan di beberapa outlet di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan saja berkurang.

Biasanya bisa tiga sampai empat kali pengambilan dalam satu bulan. Sekarang hanya satu kali atau bahkan tidak ada karena stok lama belum habis.

“Saya masih melihat nanti sebelum Lebaran, biasanya H-7 mulai banyak permintaan. Setelah Lebaran juga cukup banyak,” tuturnya.

Dia menjelaskan, sepinya permintaan bukan semata-mata karena mahalnya harga tiket.

Penurunan penumpang dari Balikpapan juga karena mulai beroperasinya Bandara APT Pranoto Samarinda.

“Kami akui permintaan dari Samarinda lebih tinggi. Saya juga mulai melakukan penjualan di Samarinda. Ada toko yang sudah saya bangun di Samarinda,” terangnya.

Owner Peyek Kepiting Kampoeng Timoer Filsa juga mengakui sepinya bandara Balikpapan memengaruhi pendapatan usahanya.

Dia menyebutkan, penurunan pendapatan dan penjualan yang dicatatkan hingga 50 persen.

Di sisi lain, dirinya tidak bisa menaikkan harga jual. Sebab, daya beli masyarakat masih belum sepenuhnya membaik.

“Harga saya naikkan, konsumen saya bisa teriak,” ujarnya.

Selain itu, bagasi berbayar memberikan imbas. Masyarakat yang membeli oleh-oleh volumenya berkurang.

Masyarakat yang biasanya mebeli dua kotak besar sekarang hanya satu paper bag.

Dia berharap pemerintah bisa merumuskan kebijakan terkait polemik transportasi udara itu. (aji/ndu2/k15)

BACA ARTIKEL LAINNYA... WALAH! Tarif Batas Atas Resmi Berlaku, Tetapi Harga Tiket Tetap Mahal


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler