Tinggalkan Australia demi Mengurus Anak Miskin di Tanah Air

Merasa Bahagia Dipanggil Mama oleh Anak Jalanan

Jumat, 12 Desember 2014 – 15:35 WIB
Henny dan Yoanes saat menemui anak-anak di Nusa Tenggara Timur. Pasutri itu kini merasa hidupnya lebih berarti. Henny Kristianus for Jawa Pos/JPNN.com

jpnn.com - Pasangan Yoanes dan Henny Kristianus dianugerahi soul yang sama di bidang kemanusiaan. Suami istri itu rela meninggalkan bisnis dan sejumlah fasilitas sebagai permanent residence di Australia untuk membantu anak-anak kurang beruntung di Indonesia.

Laporan Gunawan Sutanto, Jakarta

BACA JUGA: Menikmati Pesona Alam Desa Nanai, Balangan

HENNY Kristianus terkesima ketika mobil yang dikendarainya berhenti di persimpangan Jalan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dia melihat begitu banyak anak yang berkeliaran di keramaian lalu lintas. Ada yang mengamen dan mengemis.

Henny bingung bercampur sedih. Sebab, dia tidak mengira jumlah anak yang dieksploitasi di jalanan semakin banyak jika dibandingkan sebelum dirinya meninggalkan Indonesia untuk tinggal di Australia selama 10 tahun. Ya, saat itu, tahun 2006, Henny baru melahirkan anak kembar dan pulang ke tanah air.

BACA JUGA: Penjual Sayur Pencetak Rekor Dunia Renang

’’Saya pulang untuk menunjukkan anak pertama saya yang baru lahir dan kebetulan kembar kepada orang tua. Tapi, saya sedih begitu melihat banyak anak kecil yang dibawa ibunya untuk mencari simpati pengguna jalan,’’ ujar Henny mengenang titik balik kehidupan sosialnya kepada Jawa Pos yang menemuinya Selasa malam (10/12).

Henny bersama sang suami, Yoanes, sempat bimbang melihat kenyataan yang kontras. Di satu sisi, saat itu dirinya sudah mempunyai kehidupan sosial yang mapan di Sydney, Australia. Di sisi lain, masih banyak warga di tanah air yang perlu uluran tangan. Namun, setelah berdiskusi panjang, pasutri itu akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

BACA JUGA: Kebakaran Dua Tahun Lalu Bikin Penasaran Tamu

’’Kami merasa terpanggil untuk membantu mereka yang kurang beruntung itu. Bagaimanapun, mereka berada di sekitar tempat kami tumbuh,’’ timpal Yoanes.

Tidak lama kemudian, pria 37 tahun tersebut memboyong keluarga kecilnya untuk pulang ke tanah air. Mereka meninggalkan kehidupan yang mapan di Australia. Termasuk, bisnis pengiriman dan coffee shop yang mereka rintis di Negeri Kanguru itu. Padahal, dari dua bisnis tersebut, pasutri tersebut tiap bulan mendapat penghasilan sekitar Rp 80 juta.

Keputusan Henny-Yoanes itu pun mengundang kontroversi di internal keluarga. ’’Kami dibilang gila. Sebab, sebagai permanent residence (PR) di Australia, kami mendapatkan fasilitas yang luar biasa. Banyak orang yang ingin mendapatkan PR di sana, tapi kami justru melepaskannya begitu saja,’’ ungkap Yoanes.

Henny-Yoanes memulai misi sosial mereka di Bandung. Saat itu, Yoanes bekerja di gereja, sedangkan Henny menjadi pengajar bahasa Inggris. ’’Kami tinggal tak jauh dari kampung kumuh di Bandung. Saat itu, kami sering bertemu dengan anak-anak putus sekolah yang aktivitasnya hanya bermain thok setiap hari,’’ cerita Henny.

Dia lalu mendekati anak-anak remaja itu. Perempuan kelahiran Jakarta, 23 Januari 1978, tersebut menawari mereka untuk belajar bahasa Inggris secara gratis. ’’Pikiran saya simpel saja. Meskipun mereka tak sekolah, kalau bisa bahasa Inggris, kan bisa untuk modal bekerja di hotel atau di tempat-tempat pariwisata,’’ paparnya.

Tidak disangka, anak-anak seusia siswa SMP itu ternyata menyambut tawaran Henny. Mereka dengan senang hati mendatangi rumah kontrakan Henny untuk belajar bahasa Inggris setiap hari. Dari hari ke hari, jumlah anak yang belajar pun semakin banyak.

Lain lagi cerita Henny di Cimahi. Dia bertemu keluarga miskin yang memiliki seorang anak yang bertahun-tahun tidak berani keluar rumah. Anak itu, rupanya, mengalami trauma akut. Dia pernah dipukuli warga karena tertangkap sedang mencuri susu.

’’Dia mengaku terpaksa mencuri karena tidak tega melihat tidak ada makanan untuk adiknya di rumah,’’ jelas Henny.

Saat itu, Henny lalu menyisihkan uang hasil keringatnya untuk membantu sembako kepada warga di kampung tersebut. Dari situlah dia mulai bisa menggerakkan teman-temannya hingga bantuan dermawan ikut berdatangan.

’’Sejak di Bandung dan Cimahi itu, saya bertekad untuk terus membantu warga yang membutuhkan. Tidak hanya berupa uang dan barang yang akan habis dalam sekejap, tapi juga pikiran dan ilmu yang kami punya,’’ paparnya.

Sayangnya, Henny dan Yoanes hanya setahun berada di Bandung. Dia kemudian kembali ke Jakarta. ’’Saat itu, pengusaha yang menggaji suami saya kerja di Bandung memberi proyek di Australia. Tapi, suami saya menolak karena kami sudah bertekad untuk kembali ke Indonesia dan berbuat sesuatu untuk masyarakat kurang mampu,’’ tegas ibu tiga anak tersebut.

Di Jakarta, pasutri itu kembali terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Bahkan, keduanya sempat dipercaya LSM luar negeri untuk menjalankan kegiatan kemanusiaan di bidang pendidikan anak-anak. ’’LSM itu support untuk makanan anak-anak, sedangkan lainnya kami yang tanggung,’’ timpal Yoanes.

Awalnya, kegiatan-kegiatan yang mereka adakan hanya di sekitar Jakarta. Misalnya, mereka membuka kelas-kelas belajar untuk anak jalanan. Tapi, seiring waktu, kebutuhan dasar tersebut juga banyak dibutuhkan anak-anak di pelosok daerah.

Karena itu, keduanya lalu melakukan survei ke sejumlah daerah terpencil. Salah satunya desa terpencil di Kau Barat, Galela, Halmahera Utara, Maluku Utara. Di sana, mereka membuat sejumlah program kemanusiaan seperti makan untuk belajar, sekolah keterampilan, dan children rescue home.

’’Kegiatan kami berkesinambungan. Kami menunjuk warga setempat untuk membantu sebagai koordinator wilayah,’’ ujarnya.

Sejak 2012, Henny-Yoanes menjalankan misi sosial itu secara mandiri, tanpa keterlibatan LSM. Kerja sama dengan LSM asing hanya berjalan lima tahun. Meski begitu, kini desa binaan mereka justru semakin banyak. Berdasar catatan administrasi mereka, saat ini sudah ada 40 desa dengan empat ribu anak binaan.

’’Konsentrasi kami kini desa-desa di NTT (Nusa Tenggara Timur). Sebab, provinsi itu termasuk yang termiskin. Infrastruktur di sana juga belum terbangun dengan baik,’’ terang Yoanes.

Henny dan Yoanes mengaku menemukan kebahagiaan tersendiri ketika mengunjungi anak-anak binaannya dan melihat mereka mengalami perubahan signifikan. ’’Rasanya senang ketika mereka menjemput kami, memanggil saya mama dan berucap dalam bahasa Inggris,’’ ungkap Henny. (*/c5/ari)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jago Fisika yang Punya Cita-Cita Jadi Manajer


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler