TNI AD dan Akademisi Kembangkan Alutsista Dalam Negeri

Selasa, 08 April 2014 – 05:00 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) meluncurkan sejumlah hasil riset pengembangan alat utama sistem pertahanan (alutsista) berbasis teknologi tinggi yang digarap bersama Surya University (SU).

Hasil riset tersebut diperuntukkan selain untuk mendukung rekayasa teknologi modern di lingkungan TNI AD, juga untuk mewujudkan cita-cita kemandirian persediaan alutsista di dalam negeri.
    
Sedikitnya terdapat 22 hasil riset pengembangan alutsista yang dipamerkan oleh berbagai direktorat TNI AD dan SU di Markas Besar TNI AD (Mabesad), Jakarta Pusat (Jakpus) kemarin (7/4).

BACA JUGA: Saksi Mengaku Tahu Bank Century Bermasalah dari Boediono

Hasil riset tersebut antara lain dikeluarkan oleh Direktorat Perhubungan AD (Dithubad) bersama SU berupa nanosatelit sebagai perangkat komunikasi modern, Open BTS (Base Transceiver Station) yang memungkinkan TNI untuk membuat jaringan seluler sendiri, dan Battle Management System (BMS).
    
Dari Direktorat Peralatan AD (Ditpalad) juga mempertontonkan hasil risetnya bersama SU seperti sepeda motor berbahan bakar gas (BBG), simulasi modifikasi mobil tempur antipanas, dan simulasi senjata api antipanas.

Selain itu, Dinas Penelitian dan Pengembangan AD (Dislitbangad) mengembangkan pesawat nirawak atau Unmaned Aerial Vehicles (UAV) Autopilot, laser gun, dan Integrated Optronic Defence System atau sistem pertahanan dengan memanfaatkan sistem optik dan elektronika.
    
Kepala Staf TNI AD (Kasad) Jenderal TNI Budiman mengatakan bahwa seluruh hasil riset pihaknya bersama SU telah menghabiskan dana anggaran negara sebesar Rp 31 miliar.

BACA JUGA: Mantan Sekretaris KSSK Bantah Jadi Inisiator Perubahan Kebutuhan Century

Sedangkan masa penggarapan untuk masing-masing riset pada tiap direktorat beragam, yaitu berkisar enam bulan hingga satu tahun.
    
Budiman menjelaskan bahwa tujuan utama riset tersebut adalah untuk mewujudkan kemandirian pengadaan alutsista dalam negeri. "Kita yang mendorong, bisa mengembangkan kemudian memperbesar hasil teknologi kita. Sehingga tidak berpikir dari luar saja kebutuhan alutsistanya, ternyata kita bisa membuat kualitas yang lebih baik dengan harga yang lebih murah," ujar Budiman.
    
Selain menguntungkan dari sisi ekonomis, pria yang memiliki empat bintang dipundaknya tersebut juga mengatakan bahwa kemandirian alutsista juga diperlukan untuk menghindari pengawasan militer negara asing terhadap kekuatan militer nasional.

Selain itu, dia menambahkan bahwa dampak ketergantungan kebutuhan alutsista kepada negara lain yaitu penerapan standar ganda dari negara penyedia alutsista kepada negara dunia ketiga seperti Indonesia.
      
"Risiko kalau kita beli di luar, pasti alat terhebatnya dipakai sendiri. Layer kedua dia berikan kepada sekutunya dan layer ketiga baru diberikan kepada kita, itu pun kalau kita dianggap sebagai sahabatnya," ujar mantan Sekjen Kementerian Pertahanan (Kemenhan) tersebut.
      
Dalam pameran hasil riset alutsista yang juga disaksikan oleh seluruh Pangdam melalui teleconference tersebut, Budiman berujar bahwa hasil riset tersebut juga sekaligus sebagai lahan pelatihan bagi prajuritnya untuk mengenal teknologi persenjataan modern.
      
Sementara itu, Rektor Surya University Yohanes Surya prihatin bahwa hingga tahun 2010, aplikasi paten internasional dari Indonesia hanya ada 13 buah. Angka tersebut sangat njomplang jauh jika dibandingkan dengan Korea Selatan yang telah memiliki 10.446 hak paten internasional, Tiongkok dengan 16.403 hak paten, Jepang dengan 38.873 hak paten, apalagi Amerika Serikat yang memiliki 48.896 hak paten internasional.

BACA JUGA: Prabowo Raih Dukungan Paguyuban Pekerja Seni

"Apa yang harus dilakukan? Harus ada terobosan besar untuk mengakselerasi perkembangan riset-riset di tanah air," ujar Surya.
      
Menurutnya, melalui inisiatif Kasad Jenderal Budiman-lah inisiasi kerjasama riset antara lembaganya dengan kesatuan baret hijau tersebut terjalin. "TNI AD sudah memulai," ucapnya yakin.
      
Dia menjelaskan bahwa tahap pertama kerjasama dimulai denag 15 program riset. Dalam riset tersebut, para peneliti dari SU melatih para serdadu terpilih untuk mengerjakan riset berbiaya miliaran tersebut bersama-sama. Surya pun berharap, hal tersebut dapat menciptakan proses transfer alih teknologi dari lembaga akademis ke TNI AD.
      
"Ambil contoh pada pembuatan nanosatelit. Tentara dilatih untuk belajar membuat nanosatelit dari nol. Merakit, menyolder, membuat program elektronika, dan lain-lain. Semua dikerjakan sendiri," ujar Surya yang namanya digunakan sebagai nama universitas yang didirikannya itu. (dod)

BACA ARTIKEL LAINNYA... MPR: Semoga Ada UU Larang Presiden jadi Ketum Partai


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler