Tokoh Timor Leste Penerima Nobel Diduga Cabuli Bocah

Kamis, 29 September 2022 – 09:39 WIB
Uskup Ximenes Belo memimpin misa Jumat pagi di Dili, Timor Timur, pada 8 Oktober 1999. Pemimpin Keuskupan Dili itu kembali ke Timor-Leste pada tanggal 6 Oktober setelah diasingkan karena kekerasan di area pelayanannya. Foto: Jason Reed / Reuters

jpnn.com - Media Belanda De Groene Amsterdammer mewartakan soal peraih Nobel Perdamaian Uskup Carlos Filipe Ximenes Belo sebagai pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak. 

Uskup Belo -panggilan kondangnya- merupakan mantan pemimpin Keuskupan Agung Dili.

BACA JUGA: Presiden Jokowi Dinilai Layak Dapat Nobel Perdamaian Dunia

Sosok Uskup Belo punya peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Timur Leste. 

Keberaniannya menyerukan cara-cara damai dan rekonsiliasi mengantarnya menjadi penerima Nobel Perdamaian 1996.

BACA JUGA: JA yang Mengidap HIV Diduga Korban Pelecehan Seksual, Pacar Ibunya Terlibat

Namun, tokoh asal Wailakama, Timor Leste, itu diduga melakukan pelecehan seksual selama bertahun-tahun. 

De Groene Amsterdammer dalam laporan hasil investigasnya yang ditayangkan dengan judul ‘What I want is apologies’ mendedahkan pengakuan para korban pelecehan Uskup Belo.

BACA JUGA: WNA Asal Timor Leste Ini Ditolak Masuk ke Indonesia, Oh Ternyata

Salah satu korban -sebut saja Paulo- kini sudah berusia 42 tahun. 

De Groene menggunakan nama itu sebagai identitas samaran. 

Paulo mengungkapkan dirinya masih berusia sekitar 15-16 tahun saat menghadiri misa Minggu pagi yang dipimpin Uskup Belo di sebuah taman di Dili yang saat itu masih menjadi ibu kota Provinsi Timor Timur.

Setelah misa itu selesai, Paulo mengaku didekati Uskup Belo. 

"Dia meminta saya datang ke tempatnya," tutur Paulo.  

Permintaan itu membuat Paulo merasa terhormat. 

Uskup Belo adalah sosok yang dihormati dan dikenal berani melindungi pejuang Timor Leste -dahulu masih bernama Timor Timur- yang menentang pendudukan Indonesia selama periode 1975-1999.  

"Saya sangat bahagia," tutur Paulo. 

Pada suatu sore hari, Paulo tanpa merasa curiga sedikit pun mendatangi kediaman Uskup Belo di Dili. 

Rumahnya berada di pinggir pantai dengan pemandangan laut yang indah.

Paulo menuturkan setelah malam tiba, Uskup Belo mengajaknya masuk ke kamarnya.

"Uskup melepaskan celana saya, memulai kotak seksual dengan menyentuh saya," paparnya. 

Sontak Paulo kaget dan bingung. 

Dia tetap menginap di tempat Uskup Belo.

Pagi keesokan harinya, Paulo menerima pemberian.  

"Dia (Uskup Belo) memberiku uang," katanya mengenang. 

Namun, pagi itu Paulo ketakutan. Dia merasa aneh setelah mengalami kejadian pada malam hari sebelumnya. 

"Saya lari cepat," ujarnya. 

Semula Paulo menganggap Uskup Belo adalah orang baik yang selalu memberinya makan. 

Namun, Paulo menyebut tokoh agama itu telah mengambil keuntungan dari situasi tersebut. 

"Saya pikir ini menjijikkan. Saya tidak akan pergi ke sana lagi," katanya.

Paulo mengaku memperoleh pengalaman menjijikkan itu sekali saja. 

Namun, dia memilih memendam rahasia itu. 

Walakin, Paulo bukan satu-satunya korban. 

Ada pula Roberto -nama samaran- yang juga mengaku pernah dilecehkan Uskup Belo. 

Saat ini Roberto berusia 45 tahun. Dia masih berusia 14 tahun saat menjadi korban pelecehan seksual.

Kisahnya dimulai ketika Roberto masih tinggal di kota lain. Suatu saat, di kota kelahirannya ada pesta.

Orang-orang pun merasa senang karena pada saat itu Uskup Belo juga datang dari Dili. Namun, Roberto lebih asyik menikmati permainan dan musik.

Ternyata Roberto menarik perhatian Uskup Belo. Syahdan, pria kelahiran 3 Februari 1948 itu meminta Roberto datang ke biara. 

Roberto memenuhi permintaan itu. 

Malam pun tiba, tetapi sudah cukup larut bagi Roberto untuk pulang. 

Selanjutnya, Roberto mengaku diajak Uskup Belo ke dalam kamar. 

Dalam kondisi lelah, Roberto pun tertidur lelap.

"Uskup memerkosa dan melecehkan saya secara seksual pada malam itu," katanya. 

Pada hari selanjutnya, Roberto mengaku disuruh pergi oleh Uskup Belo saat masih pagi buta. 

Menurut Roberto, saat itu hari masih gelap.

"Jadi, saya harus menunggu sebelum bisa pulang," katanya. 

Roberto mengaku diberi sejumlah uang yang cukup banyak pada waktu itu. 

"Maksudnya untuk tutup mulut dan memastikan saya akan kembali," tuturnya.

Setiap Uskup Belo datang ke kota tempat tinggal Roberto, pasti ada utusan yang menjemput bocah malang itu.

Roberto pun merasa diakui dan menjadi pilihan. 

"Dicintai dan istimewa," katanya.

Namun, akhirnya Roberto menyadari bahwa dirinya hanya menjadi pemuas nafsu. 

Dia menganggap Uskup Belo sama sekali tidak tertarik kepadanya.

"Kemudian ini hanya tentang uang bagi saya. Uang yang  kami sangat membutuhkannya," ucapnya.

Saat Roberto pindah ke Dili, pelecehan yang dialaminya berlanjut. 

Pelecehan itu terjadi di rumah Uskup Belo.

Roberto mengaku sering melihat bocah-bocah yatim piatu  di kompleks tempat tinggal Uskup Belo. 

Dia menduga bocah-bocah itu juga menjadi korban pelecehan.

Baik Paulo maupun Roberto mengatakan ada orang bermobil membawa bocah-bocah yang diinginkan Uskup Belo. 

Namun, keduanya memilih merahasiakan hal itu.

"Kami takut membicarakannya. Kami takut menyampaikan informasi," katanya.

De Groene Amsterdammer menduga korban pelecehan oleh Uskup Belo tidak hanya dua orang.

Majalah mingguan itu mewawancarai 20 orang yang mengetahui kasus pelecehan yang melibatkan Uskup Belo.

Narasumber De Groene Amsterdammer pun dari berbagai kalangan, antara lain, pejabat terhormat di pemerintahan Timor Leste, politisi, aktivis lembaga swadaya masyarakat, kalangan gereja, dan profesional. 

Lebih dari setengah dari mereka secara pribadi mengenal korban pelecehan seksual yang dilakukan Uskup Belo. 

Sisanya mengetahui kasus tersebut dan kebanyakan mendiskusikannya di tempat kerja. 

De Groene juga mewawancarai korban lain yang tak mau kisahnya dipublikasikan. 

Baik Paulo maupun Roberto mengenal korban tersebut. 

Paulo mengaku mengetahui korban tersebut dari sepupu maupun teman-temannya.

Ada korban pelecehan yang terpaksa melayani Uskup Belo karena terjerat kemiskinan. 

"Mereka pergi ke tempatnya (Uskup Belo, red) hanya demi memperoleh uang," kata Paulo.

Kini baik Paulo maupun Roberto telah meninggalkan Timor Leste dan menetap di luar negeri. 

Mereka bersedia diwawancarai media untuk mengajak korban lainnya berbicara terbuka demi mengakhiri perbuatan keji itu.

"Apa yang saya inginkan adalah permintaan maaf dari Uskup Belo dan gereja. Saya ingin mereka mengakui penderitaan yang menimpa saya dan orang lain, sehingga kekerasan dan penyalahgunaan kekuasaan ini tidak terjadi lagi," kata Paulo.

De Groene telah berupaya menghubungi Uskup Belo untuk mengonfirmasi pengakuan Roberto maupun Paulo. 

Namun, padri yang ditahbiskan pada pertengahan 1980 itu langsung meletakkan teleponnya. (De Groene/jpnn.com)


Redaktur : M. Kusdharmadi
Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler