Tolong...Aktivitas Ekonomi Warga Banaran Lumpuh Total

Minggu, 09 April 2017 – 15:09 WIB
Longsor di Ponorogo, Jatim. Foto: JPG/Pojokpitu

jpnn.com, PONOROGO - Bencana tanah longsor di Desa Banaran, Pulung, Ponorogo, tidak hanya merenggut korban jiwa dan kerugian material.

Namun, juga berdampak ke sektor lain. Mulai pendidikan hingga perekonomian. "Anak-anak kami pindahkan ke masjid sebagai antisipasi,'' kata Kepala SDN Banaran Sukarti.

BACA JUGA: Ada Retakan Baru di Ponorogo, 269 Jiwa Diungsikan

Sebab, ancaman longsor susulan masih berpotensi terjadi. Apalagi, jarak material longsor hanya sekitar 50 meter dari sekolah.

Sukarti tidak mau ambil risiko. Kegiatan belajar-mengajar (KBM) wajib terus berjalan. Masjid setempat pun menjadi pilihan.

BACA JUGA: Allah Menyelamatkannya..Bayi Itu Lahir Setelah Longsor

Tak pelak, KBM dilakukan seadanya. Mulai meja hingga papan tulis, bahkan serambi masjid berukuran 10 x 8 meter dipakai anak didiknya dari kelas I-VI.

Jika masuk semua, jumlahnya 169 siswa.

BACA JUGA: Mensos: Suara Gemuruh Membuat Korban Longsor Trauma

"Sementara memang belum semua siswa masuk. Baru 86 yang masuk,'' ujarnya.

Sukarti belum mewajibkan peserta didiknya masuk sekolah. Terutama yang menjadi korban terdampak langsung.

Mulai yang kehilangan rumah hingga anggota keluarga dan orang tua.

Ada beberapa siswa yang ikut keluarganya di luar Desa Banaran. Bahkan, ada yang luar kecamatan.

Sukarti menyebutkan, KBM belum berlangsung normal. Pelajaran lebih banyak tentang permainan. Prinsipnya mengembalikan semangat belajar dan menghilangkan trauma.

"Ada beberapa anak didik kami yang datang dengan tidak memakai seragam. Memang hilang tertimbun longsor,'' ungkapnya.

Anak didiknya secara tidak langsung terdampak bencana. Mereka mendengar gemuruh material.

Jaraknya cukup dekat dengan ujung material. Bahkan, debu material sudah sampai di sekolah.

Anak-anak yang panik keluar kelas dan langsung diminta menghadap ke selatan membelakangi arah longsor.

Mereka lantas diarahkan ke selatan untuk menjauhi material hingga satu per satu dijemput keluarganya.

"Anak-anak juga mendengar dahsyatnya longsor. Pastinya trauma,'' terangnya.

Terpisah, Kepala Desa Banaran Sarnu menyatakan, sementara perekonomian warga lumpuh.

Segala aktivitas terhenti. Sebagian besar warga merupakan petani jahe.

Hasil panen yang harusnya dikeringkan dibiarkan menumpuk di rumah.

Apalagi, warga terdampak diminta mengungsi. Hasil pertanian ditinggal begitu saja.

Kini warga mengandalkan bantuan para dermawan. Namun, perekonomian warga di dusun lain malah terkerek.

Terutama yang memiliki usaha warung dan toko. Sebab, mobilitas masyarakat di luar Desa Banaran cukup tinggi.

"Kerugian materi belum dapat ditaksir sampai kini,'' ujarnya. (agi/sat/c21/end/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Warga Ponorogo: Wah, Bu Menteri Ini Merakyat Tenan Yo..


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler