Tuberkulosis Jadi Penyebab Utama Kematian ODHA, Deteksi Lewat Uji LF-LAM 

Sabtu, 25 Maret 2023 – 08:24 WIB
Kolaborasi KemenKes dan Abbott meluncurkan uji LF-LAM bagi penderita TB-HIV. Foto dok. Abbott

jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama pihak swasta di bidang kesehatan terus berupaya menghadirkan pelayanan terbaik di bidang medis untuk masyarakat. 

Menurut dr. Endang Lukitosari, MPH dari Kemenkes, HIV dan TBC merupakan dua penyakit yang kasusnya masih terbilang tinggi, penguatan program masih dilakukan hingga akhir 2030. Indonesia terhitung masih penyumbang kedua setelah india dalam kasus ini. 

BACA JUGA: Dokter Paru Bandingkan Bahaya Tuberkulosis dan Covid-19, oh Ternyata

"Jadi, kami melakukan kolaborasi untuk mengatasi pencegahan dan mengurangi potensi penularan,” ujar dr. Endang Lukitosari dalam keterangannya dikutip Sabtu (25/3). 

dr. Endang menjelaskan 25% kematian dari Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) disebabkan oleh MB TBC. Sebab, ODHA 30 kali lebih berisiko untuk sakit TBC dibandingkan dengan orang yang tidak terinfeksi HIV.

BACA JUGA: Kemenkes Bersama Pemda Gelar Kegiatan Rembuk Desa Siaga Tuberkulosis

Untuk itu, lanjutnya, jika ODHA dengan TBC tidak segera diobati dengan cepat, kematian akan lebih cepat. Supaya bisa diobati dengan cepat, maka perlu diagnosis dini.

Senada itu, President Director Abbott Rapid Diagnostics (ARDx) Indonesia Benny George menyatakan Tuberkulosis merupakan penyebab utama kematian ODHA karena bertanggung jawab atas satu dari tiga kasus kematian terkait AIDS.

BACA JUGA: Menyikapi Penyakit Tuberkulosis dan Resistensinya

Dengan persentase 60%, jelasnya, kemungkinan orang dewasa yang terjangkit HIV-positif akan tertular TB dalam dua tahun pertama setelah diagnosis dan sebanyak 50% kemungkinan anak yang hidup dengan HIV akan tertular TB dalam dua tahun pertama setelah diagnosis.

Menurut Benny, selain itu, terdapat kasus pada 2020 lalu, beban Tuberkulosis pada ODHA mengalami peningkatan pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade karena Covid-19. 

“Maka, sebagai solusi dari permasalahan tersebut, kami mendukung WHO yang telah membuat pedoman global dengan merekomendasikan diagnosis dini dan pengobatan pasien TB dengan HIV,” katanya.

Abbott, ujarnya, sebagai perusahaan peralatan medis dan perawatan kesehatan asal Amerika meluncurkan alat deteksi antigen bernama uji Lipoarabinomannan Urin Aliran Lateral (LF-LAM) bagi penderita tuberkulosis aktif kepada pasien yang terjangkit HIV.

Di Indonesia, uji LF-LAM bagi ODHA telah diatur dalam PNPK Kemenkes 2020 sesuai anjuran WHO. 

World Health Organization (WHO) menyatakan, tes dengan uji LF-LAM melalui urin ini telah muncul sebagai tes point-of-care yang potensial untuk TB.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia Cabang Jakarta Raya (PAPDI Jaya) yang diwakili dr. Asep Saepul Rohmat, SpPD, K-GEH, FINASIM juga menyampaikan bahwa sebagai dokter, perlu memiliki ketepatan dalam mengidentifikasi pasien, lokasi, penentuan prosedur dan tepat dalam menentukan tindakan operasi untuk pasien. (esy/jpnn)


Redaktur : Elvi Robiatul
Reporter : Mesyia Muhammad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
odha   tuberkulosis   TBC   Kemenkes  

Terpopuler