Uhui... Ada Kabar Gembira, Bank Mulai Turunkan Bunga

Selasa, 29 Maret 2016 – 08:01 WIB
Foto/ilustrasi: JPNN.Com

jpnn.com - JAKARTA - Ini kabab gembira bagi yang punya pinjaman dari bank. Kuatnya dorongan pemerintah ditambah langkah Bank Indonesia (BI) yang tiga kali memangkas suku bunga acuan (BI Rate) hingga level 6,75 persen rupanya cukup ampuh menggerakkan perbankan menurunkan suku bunga.

Staf Khusus Wakil Presiden bidang Ekonomi dan Keuangan Wijayanto Samirin mengatakan, perkembangan kebijakan pemerintah untuk mendorong penurunan suku bunga kini terlihat hasilnya. "Bank-bank BUMN mulai menurunkan suku bunga," ujarnya, Senin (28/3).

BACA JUGA: Alhamdulillah, Bank Turunkan Bunga, Termasuk KPR

Penurunan suku bunga kredit perbankan memang menjadi target pemerintahan Jokowi - Jusuf Kalla (JK). Bahkan, Presiden Jokowi berulang kali meminta suku bunga kredit korporasi yang di kisaran 12 persen, bisa diturunkan sehingga bisa sejajar dengan negara-negara Asean di kisaran 6 - 7 persen.

Teknis kebijakan mendorong penurunan suku bunga pun dikoordinir oleh Tim Kantor Wapres. Menurut Wijayanto, penurunan suku bunga kredit perbankan, khususnya bank BUMN yang sejak awal tahun turun sekitar 0,25 - 0,50 persen, merupakan respons atas penurunan BI Rate dan rendahnya inflasi.

BACA JUGA: Kementerian PUPR: Perlu Zona Kuning untuk Perumahan

"Apalagi, BI mengirim sinyal bahwa masih ada ruang bagi BI rate untuk turun lagi dalam waktu dekat," katanya.

Dari empat bank pelat merah, dua di antaranya sudah merilis data penurunan suku bunga dasar kredit (SBDK), yakni Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Tabungan Negara (BTN). Adapun manajemen Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga sudah menyatakan komitmen penurunan suku bunga.

BACA JUGA: Hari ini, Pelni Tambah Kapal Tol Laut

Misalnya, data SBDK BNI per Maret 2016 adalah kredit Korporasi sebesar 10,50 persen (turun 0,25 persen dibanding Januari), kredit ritel sebesar 11,50 persen (turun 0,25 persen), kredit pemilikan rumah (KPR) 10,50 persen (turun 0,50 persen), dan kredit konsumsi non-KPR tetap 12,50 persen.

Sementara itu BTN mematok SBDK per Maret sebesar 11,25 persen untuk kredit korporasi (turun 0,25 persen dibanding Januari), 12,00 persen untuk kredit ritel (turun 0,25 persen), KPR 10,75 persen (turun 0,25 persen), dan kredit konsumsi non-KPR 11,75 persen (turun 0,25 persen).

Penurunan suku bunga kredit sepertinya memang bakal berlanjut seiring kemungkinan BI kembali memangkas BI Rate. Dalam riset Bank UOB Group, Ekonom Ho Woei Chen menyebut terkendalinya inflasi dan tren penguatan nilai tukar rupiah, bisa menjadi alasan BI untuk kembali menurunkan BI Rate pada Triwulan II 2016.

"BI Rate berpotensi diturunkan lagi 0,25 persen ke level 6,50 persen," ucapnya.

Wijayanto menambahkan, pemerintah sendiri mengaku senang karena BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga kompak mendorong penurunan suku bunga. Targetnya agar perputaran mesin ekonomi kian cepat jika pelaku usaha mendapat bunga murah untuk ekspansi.

"Melihat trend yang terjadi, target bunga kredit korporasi satu digit (di bawah 10 persen) insya Allah akan tercapai tahun ini," jelasnya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, meski sudah menunjukkan penurunan, suku bunga kredit di Indonesia masih menjadi yang tertinggi di kawasan Asean. “Ini sangat tidak kompetitif bagi dunia usaha,” ujarnya.

Hariyadi menyebut rata-rata suku bunga kredit korporasi di Indonesia masih di kisaran 11 persen. Sementara di negara-negara di Asean lain, semuanya di bawah 8 persen.

Misalnya, Thailand sekitar 7,1 persen, Filipina 5,8 persen, Singapura 5,3 persen, dan Malaysia 4,5 persen. “Di Indonesia, untuk turun single digit (di bawah 10 persen) saja masih susah,” katanya. (owi)

BACA ARTIKEL LAINNYA... 2019, Pemerintah Target Backlog Perumahan Berkurang


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler