Ukraina

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Sabtu, 29 Januari 2022 – 19:02 WIB
Dhimam Abror Djuraid. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - Ingat Ukraina, ingat Andriy Shevchenko. Legenda sepak bola yang menjadi bintang AC Milan dan kemudian menjadi pelatih Ukraina yang membuat sejarah dengan lolos ke perempat final turnamen Euro 2020, sebelum dihentikan oleh Inggris.

Shevchenko dipuja sebagai pahlawan di Ukraina. Pada perhelatan Piala Eropa itu warga Ukraina bangga karena bisa membuktikan kehebatan mereka di ajang sepak bola internasional dengan menembus 8 Besar.

BACA JUGA: Bos Intel Jerman Ungkap Rencana Invasi Rusia ke Ukraina, oh Ternyata

Hal yang lebih membuat warga Ukraina bangga adalah mereka bisa berprestasi lebih baik dari Timnas Rusia.

Dua negara itu bertetangga, tetapi bermusuhan. Persaingan politik berimbas pula pada persaingan di lapangan sepak bola. Pada perhelatan Piala Erop itu Rusia memprotes UEFA, otoritas tertinggi sepak bola Eropa, gegara jersei yang dikenakan oleh Timnas Ukraina di bawah asuhan Andriy Shevchenko.

BACA JUGA: Ukraina Mencekam, Insiden Berdarah di Pabrik Rudal Gegerkan Publik

Pada bagian depan jersei itu tertampang logo biru bertuliskan ‘’Ukraina’’ dan dilingkari oleh peta wilayah Ukraina yang menyertakan wilayah semenanjung Krimea sebagai bagian dari Ukraina. Rusia marah karena mengeklaim Krimea sebagai wilayah Rusia.

Negara beruang merah itu menginvasi Krimea pada 2014 dan menganeksasi menjadi bagian dari Rusia. Ukraina melawan aneksasi itu dan terjadi perang dahsyat. Rusia memenangi perang dan merebut Krimea dan memasukkan ke dalam wilayah kekuasaannya. Dunia internasional tidak mengakui aneksasi itu dan Krimea tetap diakui sebagai wilayah Ukraina.

BACA JUGA: WN AS Diimbau Tinggalkan Ukraina, Kedubes: Situasi Dapat Memburuk dengan Cepat

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dengan bangga memakai jersei desain baru itu dan memamerkannya kepada publik melalui swafoto yang diunggah di Instagram pada akunnya.

Pada logo jersei itu tertulis narasai ‘’Glory to Ukraine’’, keagungan untuk Ukraina. Di bagian belakang jersei tertulis narasi ‘’Glory to Heroes’’, keagungan untuk para pahlawan.

Narasi itu dianggap sindiran oleh Rusia yang melihatnya sebagai provokasi politik. Rusia mendesak UEFA untuk meminta Ukraina mengganti logo dan narasi. UEFA menolak permintaan Rusia, karena Krimea diakui sebagai wilayah Ukraina oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). UEFA juga tetap memperbolehkan Ukraina memasang logo ‘’Glory to Ukraine’’, tetapi logo ‘’Glory to Heroes’’ dihilangkan.

Perseteruan tidak berhenti sampai di situ. Sekarang perseteruan malah makin panas. Rusia sudah menyiapkan ribuan pasukannya di perbatasan Ukraina dan siap melakukan serangan militer. Konflik ini membuat dunia cemas karena dikhawatirkan bisa berkembang menjadi konflik yang lebih besar yang melibatkan Amerika Serikat.

Rusia sudah panas dan gatal tangan untuk segera menyerang Ukraina. Amerika mengingatkan Rusia supaya tidak mengganggu Ukraina. Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin yang dikenal sebagai presiden yang ekspansionis tampaknya tidak takut oleh gertakan Amerika dan lebih memilih agresi militer untuk memulihkan kehormatannya.

Konflik wilayah perbatasan yang bertetangga masih banyak terjadi di berbagai negara. Arab Saudi menggempur Yaman sejak 2015 karena membela salah satu faksi yang bertempur dalam perang saudara. Kelompok sunni bertarung melawan kelompok syiah yang didukung Iran. Saudi menyerang Yaman dan perang berkobar sampai sekarang belum bisa diselesaikan.

Di bawah kendali Pangeran Muhammad bin Salman, Arab Saudi menerapkan kebijakan luar negeri yang lebih agresif. Dalam konflik di Yaman, Arab Saudi terlibat langsung dengan mengirim pasukan dan pasokan senjata. Perang ini menjadi perang yang berkepanjangan dan membuat wilayah Timur Tengah makin tidak stabil.

Peperangan militer memperebutkan wilayah yang saling berbatasan langsung adalah bagian dari sejarah panjang geopolitik internasional. Di masa perang dingin Amerika dan Uni Soviet saling gertak dan tidak pernah terlibat perang secara langsung.

Uni Soviet bisa menembakkan rudal langsung ke Finlandia yang berbatasan langsung. Finlandia yang dilindungi oleh Amerika karena menjadi bagian dari NATO (pakta pertahanan Atlantik Utara) selalu merasa terancam oleh Uni Soviet, karena letak wilayahnya yang berbatasan langsung.

Kendari demikian selama perang dingin hampir setengah abad tidak pernah insiden serangan langsung dari Uni Soviet ke Finlandia. Hal yang sama terjadi antara China dan Taiwan yang hanya dipisahkan oleh selat kecil. China bisa menyerang Taiwan setiap saat. Taiwan juga selalu merasa terancam oleh serangan China.

Namun, sejak Taiwan memisahkan diri dari daratan China pada 1949 sampai sekarang tidak pernah terjadi perang terbuka. Konflik kecil seringkali terjadi, tetapi belum pernah terjadi sekalipun perang terbuka.

China tentu berhitung karena Taiwan mendapat perlindungan penuh dari Amerika. Setiap saat China menyerang Taiwan, Amerika pasti siap sedia untuk membela. Karena sama-sama tahu kekuatan masing-masing maka konflik terbuka tidak pernah terjadi. Kedua belah pihak sama-sama melakukan deterrence, tindakan menahan diri.

Faktor deterrence ini menjadi salah satu rem yang pakem untuk menghindari perang. Rasa takut terhadap lawan menjadi faktor deterrence yang sangat penting. Kendati demikian, ada faktor deterrence lain yang lebih penting untuk menghindari perang, yaitu faktor keinginan untuk maju dan modern.

Ahli Politik Kishore Mahbubani menyebut faktor ini sebagai ‘’march to modernity’’ derap menuju modernitas. Setiap orang ingin merasakan modernitas dan kemajuan eknonomi supaya bisa merasakan kesejahteraan hidup dan meninggalkan kesengsaraan akibat kemiskinan.

Derap menuju modernitas ini menjadi faktor yang tumbuh sangat kuat di wilayah Asia. Negara-negara Asia sekarang tengah berpacu menuju modernitas, dan karena itu mereka fokus untuk mengejar kemajuan ekonomi dan menghindari konflik dan peperangan.

Faktor ini akan menjadi sumber kekuatan Asia, yang oleh Mahbubani disebut akan menjadi ‘’hemisphere baru dunia’’ atau punjer dunia. Selama ini punjer kemajuan dunia berpusat di Barat dan Amerika. Namun, dalam waktu dekat punjer itu akan bergeser ke Asia.

Hal itu diprediksi Mahbubani dalam buku ‘’Asia Hemisfer Baru Dunia’’ yang terbit pada 2008. Ketika itu sudah mulai terlihat ada kebangkitan demokrasi di wilayah Timur Tengah yang selama ini dianggap sebagai ‘’dead spot’’ demokrasi.

Namun, Mahbubani melihat optimisme terhadap demokratisasi di dunia Arab. Ia justru melihat bahwa kesadaran masyarakat Arab terhadap hegemoni Barat di Timur Tengah yang harus dilawan, tidak harus dimulai dari luar negara mereka sendiri, tetapi dimulai dengan mengubah status quo dengan mengganti rezim sehingga bisa melawan hegemoni Barat.

Artinya, Barat yang cenderung mempraktikkan standar ganda dalam sistem demokrasi mereka, harus dilawan dengan “demokrasi ala Arab”, yaitu menumbangkan rezim-rezim pro-Barat. Menurut Mahbubani, proses dewesternisasi global sedang terjadi dengan amat kuat di dunia Islam.

Dunia Islam yang sebelumnya dilanda krisis identitas belakangan justru mulai menguat kembali akibat kekecewaan yang besar terhadap Barat. Awalnya bangsa Timur Tengah bangga dengan identitas “kedaerahannya” baru kemudian keislamannya.

Muslim Turki pertama-tama melihat diri sendiri sebagai orang Turki, baru kemudian sebagai muslim.

Orang Iran juga cenderung memprioritaskan identitas nasionalnya di atas identitas agama. Meskipun ini bukan berarti ada kontradiksi dalam dua identitas itu. Ketika identitas Islam terusik maka identitas nasional bisa dikalahkan.

Dunia Islam sesunggunya tidak boleh hanya dilihat di wilayah Timur Tengah ataupun Afrika Utara. Masyarakat muslim Arab sekarang ini hanya sejumlah seperenam dari 1,5 miliar umat muslim dunia. Ada tujuh negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia yaitu Indonesia (200 juta), India (144 juta), Pakistan (140 juta), Bangladesh (115 juta), Nigeria (94 juta), Turki (66 juta) dan Iran (65 juta).

Mayoritas muslim hidup di Asia Selatan dan Tenggara, dan mereka semua sedang menuju ke derap modernitas.

Kekuatan yang sedang bangkit di dunia Islam, bukanlah fundamentalisme, melainkan modernisasi. Masyarakat Islam kontemporer berkomitmen pada modernisasi dan bukan westernisasi.

Terlepas dari munculnya gejala Islam fundamentalis di Afganistan, negara-negara mayoritas muslim di Asia mengadopsi Islam moderat yang modern tetapi tidak sepenuhnya melakukan sekularisasi.

Sekularisasi di Turki dianggap sebagai contoh yang kurang berhasil, karena sekarang muncul arus balik dari masyarakat. Mereka menolak sekularitas, tetapi tidak secara otomatis menginginkan negara agama.

Ada kecenderungan muncul kekuatan religius yang mengarah pada modernism.

Gejala yang kurang lebih sama terjadi di Indonesia. Gelombang religiusitas sangat kencang terjadi, tetapi hal itu tidak dengan sendirinya menjadi arus utama untuk menjadikan Indonesia sebagai negara agama.

Memang ada kekuatan politik Islam yang mengarah kepada negara agama, tetapi gerakan itu kalah oleh arus moderat yang menghendaki Islam yang modern dan moderat.

Derap menuju modernitas diprediksi akan menjadi arus utama yang bisa menghindarkan manusia dari peperangan. Derap menuju modernitas ini juga menjadi kekuatan besar yang bisa menggulingkan kekuasaan zalim yang antagonistis terhadap Islam.

Indonesia juga mengalami arus yang sama, dan karena itu rezim yang tidak mewaspadai fenomena ini ini bisa menjadi korban terjangan arus perubahan. (*)


Redaktur : Adek
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler