Ukraina Hanya Korban Perang Antarnegara Adidaya

Kamis, 03 Maret 2022 – 15:39 WIB
Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Anis Matta. Foto: Fathra/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta menilai Ukraina hanya korban.

Perang yang sebenarnya terjadi beberapa hari terakhir adalah antara Rusia dengan Amerika Serikat dan Eropa.

BACA JUGA: Wacana Tunda Pemilu 2024 Harus Segera Diakhiri

Dia menilai kondisi yang ada saat ini harus dipandang sebagai perang supremasi, bukan lagi sekadar proxy.

Ini perang antarnegara adidaya, sementara Ukraina menjadi korban atau collateral damage," kata Anis dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

BACA JUGA: 4 Pesawat Tempur Rusia Terobos Wilayah Udara Swedia, Langsung Siaga Tinggi

Dia mengemukakan hal itu dalam Gelora Talk bertajuk Perang Rusia vs Ukraina, Apa Dampaknya pada Peta Geopolitik Dunia? pada hari Rabu (2/3).

Menurut Anis, ketika negara berperang, maka tidak ada aturan lagi dan tidak ada yang bisa mengatur.

BACA JUGA: Hanya 5 Negara yang Tolak Resolusi PBB Terkait Invasi Rusia ke Ukraina

Bahkan, dalam hal ini Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan mengalami disfungsi, termasuk Dewan Keamanan PBB.

Karena itu, kata dia, perang tersebut akan mendekati titik ledak yang lebih besar sehingga Indonesia perlu mengantisipasinya.

Masalahnya, cepat atau lambat Indonesia bisa terseret dalam dampak perang tersebut.

Anis Matta mengatakan dunia saat ini menantikan tatanan dunia baru di tengah krisis berlarut, mulai dari pandemi COVID-19 hingga perang Rusia dan Ukraina, yang akan berujung pada konflik berlarut secara global.

"Jadi, sekarang sedang menantikan tatanan dunia baru, ini yang dikhawatirkan. Ini yang akan terjadi pemenang yang akan menentukan aturan, ini arah dunia yang sedang terjadi," katanya.

Dia mengemukakan bahwa pembentukan tatanan dunia baru berbeda dengan tatanan dunia lama oleh pemenang Perang Dunia II.

Menurut dia, pembentukan tatanan dunia baru akan ditentukan oleh proses rasional masyarakat global karena dunia makin terintegrasi.

"Akan tetapi, bisa kah sampai pada tatanan dunia baru yang tidak terlalu berdarah? Ini arah yang diinginkan," ujarnya.

Anis mengemukakan bahwa Indonesia bisa mencoba membangun satu kekuatan baru di tengah konflik global ini dengan politik bebas aktif, seperti yang telah digagas para pendiri bangsa Indonesia.

Dia menilai perang Rusia dan Ukraina bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk membuat satu peta jalan atau road map sejarah baru bagi dunia.

"Indonesia sedang menghadapi konflik berlarut yang akan melemahkan semua negara."

"Perang Rusia dan Ukraina seperti gong yang mengatakan, selamat tinggal tatanan dunia lama dan selamat datang tatanan dunia baru," katanya.

Dia berharap Indonesia mengambil peran untuk menentukan tatanan dunia baru ini, yakni sebagai kekuatan besar dunia pascaruntuh negara adidaya nanti.

Diskusi yang digelar secara daring ini menghadirkan narasumber pakar hukum internasional Hikmahanto Juwana, mantan Duta Besar Indonesia untuk Australia dan Tiongkok Imron Cotan dan mantan Dubes Indonesia untuk Ukraina Yuddy Chrisnandi.(Antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler