Ulama Ukraina Bertemu Delegasi Masyarakat Sipil Indonesia, Ungkap Perlakuan Rusia

Kamis, 14 Desember 2023 – 19:13 WIB
Sheikh Said Ismagilov, ulama muslim Ukraina yang juga bertugas secara sukarela sebagai prajurit pertahanan udara menemui delegasi masyarakat sipil Indonesia. Foto dok. Delegasi Masyarakat Sipil Indonesia 

jpnn.com, JAKARTA - Ulama Muslim Ukraina Sheikh Said Ismagilov mengungkapkan keprihatinannya atas upaya Rusia yang menekan hak asasi muslim yang tinggal di Semenanjung Krimea.

Hal ini dilakukan melalui penangkapan, intimidasi, dan hal lain yang ditutup-tutupi melalui propaganda terstruktur.

BACA JUGA: Ulama dan Habaib se-Kalimantan Selatan Sepakat Mendukung Anies Baswedan

Rusia tidak hanya menyasar umat Islam yang menjalankan ibadahnya, termasuk penangkapan ulama, Rusia juga menghalangi anak-anak kami belajar secara tradisional dengan membubarkan pesantren,” kata Said Ismagilov kepada delegasi masyarakat sipil Indonesia yang berkunjung ke Ukraina pada Senin (11/12).

Delegasi masyarakat sipil Indonesia terdiri dari KH Arif Fahrudin (Wakil Sekjen MUI Pusat Bidang Ukhuwah Islamiyah), H. Mokhamad Mahdum (Wakil Ketua BAZNAS RI), Yanuardi Syukur (Manajer Harian Komisi Hubungan Luar Negeri MUI Pusat), Moses Caesar Assa  (Ahli Komisi 1 DPR RI ), Radityo Dharmaputra (Dosen Universitas Airlangga Surabaya) dan DR Algooth Putranto (Dosen Universitas Pembangunan Jaya).

BACA JUGA: Lora Nasih: Ulama dan Rakyat Madura Membutuhkan Anies

Said Ismagilov merupakan ulama yang juga bertugas secara sukarela sebagai prajurit pertahanan udara.

Dia juga meminta maaf atas ketidaknyamanan yang dialami delegasi masyarakat sipil Indonesia akibat serangan rudal dan drone yang dilakukan Rusia pada tengah malam.

BACA JUGA: Lagi, Israel Mengebom Sekolah di Palestina, Isinya Ribuan Warga Sipil

Serangan yang menargetkan Kyiv pada Senin subuh membuat delegasi masyarakat sipil Indonesia berlarian ke tempat perlindungan serangan bom (bomb shelter) di bawah hotel mereka sampai sirene peringatan serangan udara berakhir.

"Kejadian ini secara jelas menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Ukraina yang tidak tenang," kata KH Arif Fahrudin dalam keterangannya dikutip Kamis (14/12).

Setelah rezim Komunis Uni Soviet runtuh tahun 1991, wilayah Krimea menjadi bagian dari Ukraina.

Pada 2014, intervensi militer Rusia dilakukan terhadap Republik Otonom Krimea dan Kota Sevastopol pada Maret 2014.

Invasi tersebut dilanjutkan dengan diadakannya referendum sepihak yang menghasilkan keputusan bergabungnya wilayah tersebut dengan Rusia. 

Komunitas Muslim Tatar Krimea merupakan pihak yang menentang referendum tersebut karena di masa Uni Soviet terus menerus menjadi sasaran penindasan. 

Perwakilan Tetap Presiden Ukraina di Republik Otonomi Krimea Tamila Tasheva menuturkan Muslim Krimea sebagai minoritas menentang pendudukan tersebut.

Namun, tidak bisa berbuat banyak sehingga terpaksa mengulangi nasib mereka sebagai warga kelas dua, termasuk dalam menjalankan kehidupan beragama.

“Sejumlah penangkapan hingga proses hukum dilakukan oleh pemerintah Rusia termasuk deportasi secara diam-diam ke luar wilayah Krimea dialami oleh masyarakat. Mereka kemudian dipaksa tinggal dengan kondisi menyedihkan,” kata Tamila Tasheva, di kantor Perutusan Presiden Ukraina untuk Republik Otonomi Krimea dalam kesempatan terpisah.

Kepala Departemen Platform Krimea di Perutusan Presiden Ukraina untuk Republik Otonomi Krimea Mariia Tomak memahami mayoritas masyarakat Indonesia tidak cukup memiliki pengetahuan terhadap Muslim Krimea disebabkan propaganda terstruktur dan besar-besaran yang dilakukan pihak Rusia.

Sementara itu, Mokhamad Mahdum menyatakan persoalan yang dialami minoritas Muslim Krimea seharusnya mendapatkan perhatian yang besar dari sesama muslim di Indonesia yang selama ini kurang dekat dengan saudara-saudara mereka di wilayah Eurasia

“Keprihatinan dan solidaritas sebagai sesama muslim dari belahan dunia lain sangat diperlukan untuk disalurkan kepada kaum muslimin yang terdampak perang di Krimea, tidak saja bagi masyarakat Muslim Palestina,” terangnya.

Delegasi Indonesia dijadwalkan berkunjung ke lokasi pembantaian di kota Bucha tidak jauh dari Kiev.

Lebih dari 300 penduduk Bucha dibantai secara biadab oleh Angkatan Bersenjata Rusia selama pendudukan wilayah tersebut hingga kemudian dipukul mundur oleh pasukan Ukraina.

Kisah kelam ini baru terungkap pada 1 April 2022, setelah pasukan Rusia mundur dari kota tersebut. (esy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Koalisi Masyarakat Sipil Nilai Prabowo Tak Peduli Hak Warga Rempang


Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Mesyia Muhammad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler