Undang Investor Singapura ke Morowali, Luhut Janjikan Hal Mengagumkan

Selasa, 22 Maret 2022 – 22:34 WIB
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam dialog bersama investor Singapura di Singapura, Selasa (22/3/2022). Foto: ANTARA/HO Kemenko Kemaritiman dan Investasi

jpnn.com, SINGAPURA - Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengundang para investor Singapura melihat langsung industri pengolahan nikel di Morowali.

Hal itu disampaikannya untuk meyakinkan mereka bahwa transformasi ekonomi di Indonesia sedang berlangsung melalui program hilirisasi dan efisiensi.

BACA JUGA: Luhut Binsar Orang Sibuk, Haris Azhar dan Fatia KontraS Tidak Menghormati Itu

"Makro ekonomi Indonesia berada dalam kondisi yang sangat baik sekarang ini. Inflasi maupun nilai tukar terkendali karena untuk pertama kalinya neraca transaksi berjalan Indonesia mengalami surplus,” ujar Menteri Luhut saat berdialog dengan para investor di Hotel Marriott Singapura, sebagaimana dikutip dari keterangan pers Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura, Selasa.

Luhut mengatakan terkendalinya nilai tukar dan inflasi tersebut bukan hanya disebabkan oleh kenaikan harga komoditas, tetapi juga berkat program hilirisasi yang dilakukan pemerintah untuk memberikan nilai tambah.

BACA JUGA: Dituduh Cemarkan Nama Baik Luhut, Haris Azhar Cs Malah Minta Hadiah Rp 100 Juta

"Saya tunjukkan satu data saja mengenai hilirisasi besi dan baja. Apabila lima tahun nilai ekspor sekitar 1,3 miliar dollar AS, tahun lalu hampir mencapai 21 miliar dollar AS," kata dia.

Dengan program hilirisasi yang dilakukan terhadap mineral lain, dia percaya angka ekspor Indonesia akan semakin meningkat.

BACA JUGA: Lobi Singapura, Menko Luhut: Kami Punya Ribuan Hektare di Sumsel dan Sulteng

Dia menyebutkan bahwa tahun lalu nilai ekspor mencapai angka 232 miliar dollar AS. Pencapaian itu berkat upaya pemerintah untuk menekan biaya logistik untuk bisa di bawah 20 persen dari total biaya.

Sementara itu, untuk menjawab keraguan beberapa investor terhadap data ekonomi yang ditunjukkan, Luhut mengundang mereka untuk melihat langsung kemajuan yang tengah berlangsung di Indonesia.

“Anda boleh melihat apa yang dilakukan di Morowali untuk industri nikel. Anda akan kagum karena setidaknya ada 50 ribu orang yang bekerja di sana dan itu akan menjadi basis untuk pembuatan baterai untuk mobil listrik," kata Luhut.

Selain bertemu dengan para investor, Luhut juga menyaksikan pengelolaan sampah yang dijadikan listrik serta solar panel terapung di Tuas.

Saat meninjau pembangkit listrik dari sampah, Luhut didampingi Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu. Sementara saat berada di solar panel terapung, Luhut bertemu dengan Menteri Senior Bidang Keuangan Tharman Shanmugaratnam.

Saat kunjungan tersebut, Luhut menekankan pentingnya kerja sama antara Indonesia dan Singapura untuk merumuskan standardisasi dan tata cara pengukuran yang akan dipakai sebagai patokan penetapan perdagangan karbon dari mangrove.

Perguruan tinggi Indonesia dan Singapura, kata dia, bisa diminta untuk membuat kajian yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam perumusan kebijakan.

"Saya setuju kalau perguruan tinggi kedua negara kita tugaskan untuk melakukan standarisasi dan merumuskan tata cara pengukuran carbon capture yang bisa ditangkap mangrove. Bahkan kalau perlu kita ajak juga perguruan tinggi di Eropa seperti Jerman," katanya.

"Kita harus mempunyai rujukan sendiri karena kita memiliki sekitar 200 jenis mangrove yang kemampuan menangkap karbonnya tentu berbeda-beda. Ini tentunya akan membedakan juga penghitungan perdagangan karbonnya," kata Luhut lebih lanjut. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler