Upaya Penyelamatan UMKM oleh Tim Ekonomi Jokowi Dinilai Gagal

Selasa, 22 September 2020 – 14:02 WIB
Ilustrasi UMKM. Foto: Ahmad Fikri/Antara

jpnn.com, JAKARTA - Sandiaga Salahudin Uno melihat, belakangan ini banyak small-medium enterprise (SME) dan startup di Indonesia mengaplikasikan survival mode agar usahanya dapat kembali melesat ketika pandemi Covid-19 telah berakhir nanti.

Sandi menegaskan, memang patut disayangkan model bisnis survival mode tidak akan bertahan. Sebab, tidak seorang pun tahu kapan krisis ini akan berlalu.

BACA JUGA: Pak Ganjar Berharap TVRI Bantu Membangkitkan UMKM Jateng

"Bahkan, apa yang disebut normal di masa pra-pandemi harus mengalami pendefinisian ulang," kata pengusaha nasional itu dalam keterangannya, Selasa (22/9).

Oleh karena itu, Sandi menegaskan, yang semestinya dilakukan oleh SME dan startup agar menjadi champion di era New Normal ialah pebisnis harus reinvent pengetahuan bisnis mereka untuk memunculkan model bisnis yang baru.

BACA JUGA: Warganet Geram, Desak Gelar Putri Pariwisata Kalteng untuk Thisia Dicabut

Sandi mencontohkan, layaknya pertandingan basket, kalau jalan di kanan akan ditutup maka kita harus pintar pivot ke kiri.

Dia menegaskan, bahwa SME dan startup mau tidak mau harus mengedepankan aspek kesehatan dan digitalisasi dalam setiap tahapan bisnis mulai dari pemesanan, pembayaran, produksi, hingga penyediaan barang.

BACA JUGA: SMK Model PGRI 1 Majayen Garap Pesanan 186 Mobil Listrik UMKM Mokasi

“Zaman sekarang data dan tren bisnis bisa didapatkan dengan mudah. Tinggal mengamati, meniru, dan memodifikasi tren yang ada sehingga memiliki model bisnis baru,” tegasnya.

Dikatakan Sandi, jika dilihat dari aspek dukungan kebijakan pemerintah untuk menyelamatkan ekonomi nasional khususnya UMKM, maka tampaknya jauh dari harapan.

"Tim ekonomi pemerintah telah gagal membangun rumusan kebijakan stimulus fiskal untuk menyelamatkan UMKM. Faktanya, daya beli terus menurun. Semoga Banprea (Bantuan Presiden) bisa menolong ultramikro," tegas Sandi.

Menurut dia, bisnis yang saat ini dibutuhkan masyarakat ialah di bidang kesehatan, teleconferencing, course terbuka, biotech, legal, dan clear energy.

Meski begitu, Sandi mengaku sempat kebingungan menghadapi perubahan perilaku konsumen pada awal pandemi, kini dia sudah berhasil menyesuaikan model bisnisnya.

Ada empat kekuatan yang bisa digaungkan dalam dunia entrepreneurship tegas Sandi, yaitu pencapaian atau target, stimulasi, arah atau tujuan, dan keamanan bisnisnya.

“Bila ini semua bisa digapai maka apa pun usahanya pasti akan sangat maju,” ujarnya.

Anggota DPR Komisi XI dari Fraksi Gerindra Kamrussamad mengatakan, di era digitalisasi saat ini, para pengusaha muda harus bisa beradaptasi.

Salah satunya membuka kemitraan dengan elemen atau komunitas seperti asosiasi industri kreatif.

"Kemitraan dengan komunitas berbasis industri kreatif ini menjadi penting terutama agar produk wirausaha bisa ikut terpasarkan dengan baik," katanya.
 
Kamrussamad mengaku, tantangan bisnis saat ini memang lebih tinggi dari biasanya. Sebagai pebisnis dituntut untuk berpikir out of the box dan memanfaatkan teknologi online agar bisnis tetap bisa berjalan dan tak berujung merugi.

Manfaatkan setiap sumber daya yang ada, serta gunakan berbagai software yang bisa mendukung kelancaran bisnis selama covid-19 masih merajalela.

“Intinya adalah terus mau belajar, research dan mampu melihat tren serta meraba tren yang akan datang,” pungkasnya. (rdo/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Rasyid Ridha

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler