Varian Covid-19 Mu Kebal Antibodi? Pakar Imunologi Unair Bilang Begini

Selasa, 21 September 2021 – 15:02 WIB
IPakar Imunologi Unair Dr Agung beri penjelasan mengenai varian Covid-19 yang disebut kebal terhadap antibodi. Ilustrasi: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, SURABAYA - Mutasi virus corona memunculkan varian baru bernama Mu yang kabarnya kebal dari antibodi.

Varian jenis baru itu muncul pertama kali di Kolombia pada Januari 2021 dan saat ini menyebar luas di 46 negara.

BACA JUGA: Mengenal Varian Mu, Apakah Bisa Masuk ke Indonesia?

Pakar Imunologi Universitas Airlangga (Unair) Dr Agung Dwi Wahyu Widodo angkat bicara.

Menurut dia, beberapa penelitian yang dihimpun WHO, varian itu dilaporkan memiliki kekebalan terhadap antibodi dari plasma konvalesen.

BACA JUGA: Gelombang Kepulangan PMI Dimulai, Pemda Waspadai Varian Mu

"Ini menunjukkan bahwa dia (varian Mu, red) mampu melakukan escape dari antibodi,"kata Agung tertulis, Selasa (21/9).

Menurut dia, varian baru itu mirip dengan jenis Beta. Namun, dilihat dari pemetaan geografisnya muncul pada area Gamma dan Lambda.

BACA JUGA: Fahira Idris: Segera Terapkan Strategi Cegah Varian Mu Masuk Indonesia

"Kemungkinan ketiganya memiliki kemiripan sifat," ujar dia.

Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Unair itu menjelaskan virus yang menyebar secara natural bisa mengalami mutasi. Prosesnya dapat terjadi secara acak mau pun pada daerah-daerah tertentu.

Misalnya, saat mutasi pada daerah spike, titik tangkap antibodi dapat dilakukan pemeriksaan. Apakah antibodi mampu menempel pada daerah tersebut atau tidak.

Apabila mutasi menghasilkan protein baru atau peptida yang berbeda, antibodi akan sulit menempel pada daerah tersebut.

"Inilah kenapa beberapa varian yang mengalami pada spike tidak mampu ditempeli antibodi, sehingga yang dinyatakan mampu menghindar didapatkan dari pasien,” jelas dia.

Dibandingkan dengan varian Delta, Mu lebih lemah. Berdasarkan penggolongan dari WHO, jenis baru itu termasuk dalam kategori VOI atau Variant of Interest.

"Kalau varian Delta termasuk VOC atau Variant of Concern. Dari tingkatannya saja menunjukkan lebih kuat dan hebat dari varian Mu," imbuh dia.

Upaya pencegahan tetap harus dilakukan dengan ketat. Apabila terjadi lonjakan kasus pada skala kota, maka perlu dilakukan PPKM.

"Dibatasi keluar masuknya orang, supaya tidak menyebar seperti pada lonjakan kasus kedua,” kata dia. .

Pada skala besar, sambung Agung, diperlukan rangkaian pencegahan dengan screening dan karantina bagi warga asing yang hendak masuk ke Indonesia seperti pekerja imigran.

“Karantina dan identifikasi atau tracing itu harus super ketat. Supaya kita tahu mereka tidak membawa varian-varian baru dan bisa menyebar ke Indonesia,” tandas Agung. (mcr12/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur : Elvi Robia
Reporter : Arry Saputra

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler