Video Ahok-Djarot Itu Realitas Bukan Propaganda

Senin, 10 April 2017 – 15:51 WIB
Ahok-Djarot. Foto dok JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Eva Kusuma Sundari selaku anggota tim pemenangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) mengatakan video kampanye pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI nomor urut dua itu merupakan cerminan realitas yang terjadi di masyarakat.

Realitas itu berkaitan dengan isu SARA yang berkembang selama Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017. "Jadi video itu cerminan realitas, jangan diframe sebagai propaganda," kata Eva saat dihubungi, Senin (10/4).

BACA JUGA: Mau Tahu Apa Persiapan Pak Djarot Buat Debat? Klik Saja

Eva mengatakan, fakta-fakta itu seperti pengadangan pada saat kampanye dan spanduk bernada provokasi di rumah ibadah. Menurut dia, politisasi SARA membuat gangguan fasilitas umum.

"Semua jadi disfungsi karena politisasi SARA yang tidak sesuai Pancasila dan Bineka Tunggal Ika," ucap Eva.

BACA JUGA: Mbak Eva: Basuki-Djarot Korban Politisasi SARA

Politikus PDI Perjuangan itu menjelaskan, situasi di lapangan selama pilkada merupakan pengalaman pahit. Pasalnya, Eva menambahkan, Jakarta terobek isu SARA dan politik identitas sekretarian mengemuka.

Selain itu, Eva menyatakan ada penggunaan ayat-ayat suci guna menghalangi hak WNI untuk dipilih dan memilih menjadi materi dalam kampanye. Dia menuturkan, pendukung pasangan calon juga terkena imbasnya.

BACA JUGA: Video Kampanye Dikecam Habis, Ini Kata Tim Ahok-Djarot

"Pendukung paslon pun terima getahnya, diusir dari kontrakan dan diputus listriknya," ujar Eva.

Menurut Eva, Ahok-Djarot akan menjadikan Jakarta sebagai rumah bersama, tanpa melihat SARA dan gender. "Jakarta akan jadi miniatur Indonesia yang ber-Bineka Tunggal Ika berlandaskan Pancasila," ucapnya.

Video kampanye Ahok-Djarot berdurasi dua menit. Video itu diunggah di akun Twitter @basuki_btp pada Minggu (9/4).

Di awal video terlihat para pemuda menggedor mobil yang berisi ibu dan anak. Para pemuda itu tampak membawa kayu dan penuh dengan ekspresi kemarahan. Ibu dan anak itu terlihat takut.

Kemudian di dalam video itu digambarkan aksi demonstrasi. Massa aksi tersebut terlihat membawa spanduk bertuliskan Ganyang Cina.

Selain itu digambarkan seorang petugas polisi perempuan tengah berusaha menjinakan bom. Ada juga sosok atlet bulu tangkis yang digambarkan berasal dari etnis Tionghoa. Kemudian, ada orang-orang yang mengenakan pakaian daerah.

Sekelompok anak SD juga digambarkan sedang belajar di dalam kelas. Mereka membahas mengenai Bineka Tunggal Ika. Video itu ditutup dengan Ahok-Djarot berada di tengah-tengah masyarakat. Kemudian ada tulisan Basuki Djarot 2 19 April 2017 Pilih Keberagaman.

Pidato Djarot di Konser Gue 2 menjadi salah satu latar suara dalam video. “Saudaraku-saudaraku seluruh warga Jakarta waktu sudah mulai mendekat. Jadilah bagian dari pelaku sejarah ini dan akan kita tunjukan bahwa negara Pancasila benar-benar hadir di Jakarta,” kata Djarot.

“Kita juga akan tunjukan Bineka Tunggal Ika betul-betul bukan hanya jargon, tapi sudah membumi di Jakarta. Siapa pun kalian, apa agama kalian, apa suku kalian, dari mana asal usul kalian, saudara-saudara semua adalah saudara kita sebangsa setanah air dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama,” lanjut Djarot.

Video kampanye itu sempat menjadi trending topic di Twitter. Bahkan, muncul #KampanyeAhokJahat.

“Iklan kampanye dengan jualan SARA dan playing victim yg paling rasis yg pernah saya lihat. Provokatif. #KampanyeAhokJahat,” tulis Rachel Maryam dalam akunnya di Twitter @cumarachel.

Namun, ada juga netizen yang mendukung video tersebut. Salah satunya adalah pemilik akun @nublialbanna.

“Scene bulutangkisnya bikin mewek. Kebayang atlit2 keturunan bela Indonesia mati2an, tapi tetap saja kena sentimen sara,” tulis dia.(gil/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ahok-Djarot Bagus, Kok Pilih Anies-Sandi...


Redaktur & Reporter : Gilang Sonar

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler