Viral Labkes Kirim Hasil Tes PCR Palsu, ILKI Berkomentar Begini

Rabu, 09 Februari 2022 – 17:38 WIB
Tes PCR. Ilustrasi Foto: Ricardo/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Ikatan Laboratorium Kesehatan Indonesia (ILKI) DKI Jakarta Ampi Retnowardani menanggapi sejumlah kasus salah kirim hasil tes PCR yang viral di media sosial.

Beberapa kasus pengiriman hasil tes PCR palsu di antaranya melibatkan laboratorium kesehatan (labkes) Bumame Farmasi dan KalGen Innolab.

BACA JUGA: Konon Ada Hasil Tes PCR yang Tak Tepat, Menkes Merespons Begini

Dua perusahaan labkes Covid-19 itu pun mengeklaim bahwa ada human error atau kesalahan dari stafnya.

Ketua Pengurus Wilayah ILKI DKI Jakarta Ampi Retnowardani mengatakan kesalahan hasil pemeriksaan termasuk akibat human error seharusnya bisa dihindari.

BACA JUGA: Konflik di Desa Wadas, Aktivis Walhi Bereaksi Keras

Dia menyebut kesalahan akibat human error umumnya terjadi karena petugas tidak menjalankan prosedur pemeriksaan dengan baik dan benar.

"Jika prosedur dijalankan dengan baik dan benar maka kemungkinan human error-nya kecil, bahkan ketika kondisi overload sekalipun," kata Ampi kepada JPNN.com, Senin (7/2).

BACA JUGA: PPKM Level 3, Perkantoran Nonesensial di Jakarta Cuma Bisa WFO 25 Persen

Ampi kemudian menguraikan proses pemeriksaan di laboratorium yang kemungkinan menyebabkan human error.

Pertama, saat proses input data pelanggan diperlukan pengecekan berulang untuk memastikan kebenaran datanya. Setelah input, petugas dapat membacakan data pelanggan dan mengkonfirmasikan apakah sudah benar atau belum.

Sebab, apabila terjadi kesalahan input data, bakal berdampak pada seluruh proses berikutnya.

Pada saat pengambilan sampel dari pasien, penggunaan sistem barcode dan konfirmasi kesesuaian data pelanggan dengan barcode perlu untuk menghindari kesalahan.

"Proses pengolahan atau pemisahan sampel. Sampel yang dipisahkan untuk diperiksa harus sama identitasnya dengan bahan baku atau darah yang diambil dari pasien,” jelasnya.

Proses pengontrolan hasil pemeriksaan (quality validation) merupakan saringan terakhir. Pada tahap ini, kompetensi petugas sangat dibutuhkan.

"Saat ini, laboratorium dapat menggunakan laboratory information system dan laboratory automation system yang terintegrasi untuk mengurangi human error,” kata dia.

Sebelumnya, sebuah video beredar di media sosial mengenai seorang perempuan yang marah karena menerima hasil tes PCR yang diduga palsu dari Bumame Farmasi.

Perempuan tersebut menerima hasil antigen dan PCR padahal belum melakukan tes.

Selain Bumame Farmasi, KalGen Innolab juga pernah salah mengirimkan hasil pemeriksaan swab test kepada customer. (mcr4/fat/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Ryana Aryadita Umasugi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler