Waduh, Afghanistan Setuju Bebaskan 400 Anggota Taliban Paling Berbahaya

Minggu, 09 Agustus 2020 – 21:40 WIB
Anggota Taliban. Foto: Reuters

jpnn.com, KABUL - Pemerintah Afghanistan akhirnya bersedia membebaskan 400 tahanan Taliban yang sangat berbahaya, guna membuka jalan dimulainya pembicaraan damai yang bertujuan untuk mengakhiri perang selama lebih dari 19 tahun di negara itu.

Di bawah tekanan yang dihadapi Presiden AS Donald Trump menjelang pemilihan presiden AS tahun ini untuk mencapai kesepakatan yang memungkinkan dia membawa pulang pasukan Amerika, majelis besar Afghanistan, atau Loya Jirga, pada Minggu menyetujui pembebasan tersebut.

BACA JUGA: Konspirasi Jahat Intel Rusia dan Taliban Terungkap, Tentara Amerika Dalam Bahaya

Pembebasan seluruh tahanan itu merupakan kondisi kontroversial yang diajukan oleh Taliban untuk bergabung dalam pembicaraan perdamaian.

"Untuk menghilangkan rintangan, memungkinkan proses perdamaian dimulai dan mengakhiri pertumpahan darah, Loya Jirga menyetujui pembebasan 400 anggota Taliban," kata majelis dalam sebuah resolusi.

BACA JUGA: Gencatan Senjata Afghanistan dan Taliban Disambut Sukacita 5 Negara

Beberapa menit kemudian, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengatakan akan menandatangani perintah pembebasan 400 tahanan ini.

Pekan lalu, Ghani mengundang sekitar 3.200 pemimpin komunitas dan politisi Afghanistan ke Kabul untuk mendapat masukan mengenai para tahanan tersebut.

BACA JUGA: Kesepakatan Damai Amerika-Taliban Tak Bertahan Sampai Sepekan

Dengan pembebasan tersebut, pemerintah Afghanistan telah memenuhi janjinya untuk membebaskan seluruh 5.000 tahanan Taliban.

Pembicaraan antara Taliban dan pemerintah akan dimulai di Doha minggu ini, kata diplomat Barat. Ghani mengimbau kelompok gerilyawan itu berjanji untuk menerapkan gencatan senjata total menjelang pembicaraan itu.

Musyawarah atas pembebasan kelompok terakhir tahanan Taliban itu, yang dituduh melakukan beberapa serangan paling berdarah di Afghanistan, telah memicu kemarahan di antara warga sipil dan kelompok hak asasi yang mempertanyakan moralitas proses perdamaian.

Pada 2019 saja, lebih dari 10.000 warga sipil tewas atau terluka dalam konflik di Afghanistan, menjadikan total korban dalam dekade terakhir lebih dari 100.000, menurut laporan PBB tahun lalu.

Menjelang pemilu AS November mendatang, Trump bertekad memenuhi janji kampanyenya mengakhiri perang terpanjang dalam sejarah Amerika.

Penarikan itu akan membuat jumlah anggota pasukan AS menjadi kurang dari 5.000 pada akhir November.

Dalam pakta Februari yang membuka jalan bagi penarikan pasukan AS, Washington dan Taliban menyetujui pembebasan tahanan Taliban sebagai syarat untuk melakukan pembicaraan dengan Kabul. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler