Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat Tekankan Pentingnya Memasyarakatkan Mitigasi Bencana

Minggu, 05 November 2023 – 17:29 WIB
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menekankan pentingnya memasyarakatkan mitigasi bencana sebagai persiapan menghadapi cuaca ekstrem. Foto: Dokumentasi Humas MPR RI

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mengingatkan cuaca ekstrem pada peralihan musim harus diantisipasi dengan meningkatkan pengembangan mitigasi bencana yang mudah dipahami masyarakat luas.

"Memasyarakatkan mitigasi bencana di negeri yang dikelilingi gunung berapi dan potensi cuaca ekstrem ini merupakan upaya yang sangat penting," kata Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Minggu (5/11).

BACA JUGA: Mitigasi Bencana Perlu Diperkuat karena Indonesia Rawan Gempa

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Nino moderat akan berakhir di Februari 2024.

Pada Maret tahun depan, El Nino masih ada, tetapi sudah lemah semakin menuju netral.

BACA JUGA: Ketua MPR Bamsoet Ungkap Alasan Pentingnya Mitigasi Bencana Masuk Kurikulum Pendidikan

Ketika El Nino mulai berakhir, suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur akan mulai mendingin.

Hal ini menyebabkan pusat pertumbuhan awan kembali bergeser ke wilayah Indonesia.

BACA JUGA: Direktorat GTK Madrasah Ingatkan Pentingnya Kurikulum Mitigasi Bencana

Akibatnya, curah hujan di Indonesia akan meningkat.

Menurut Lestari, berbagai dampak perubahan cuaca yang berpotensi menimbulkan bencana harus diantisipasi dengan sebaik-baiknya.

"Dengan kondisi geografis Indonesia yang rawan bencana alam, sudah seharusnya setiap warga negara dibekali dengan pengetahuan dan pemahaman yang memadai dalam memitigasi ragam bencana yang dihadapi," kata Rerie yang akrab disapa.

Anggota Komisi X DPR dari Dapil Jawa Tengah II itu mengatakan upaya peningkatan pemahaman mitigasi bencana bisa dilakukan melalui proses belajar mengajar di berbagai jenjang pendidikan.

"Selain itu, berbagai sosialisasi terkait mitigasi bencana juga bisa diberikan kepada kelompok-kelompok masyarakat sehingga pengetahuan dan pemahamannya bisa meluas," imbuhnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah berupaya mewujudkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana, antara lain dalam bentuk program Desa Tangguh Bencana (Destana).

Capaian Destana yang diinisiasi BNPB sejak 2012 sampai dengan 2024, baru sebanyak 1.506 desa dari total 53 ribu desa di Indonesia.

"Semakin banyak masyarakat di segala lapisan memahami mitigasi bencana, upaya penanggulangan bencana diharapkan akan semakin baik," ujarnya.

Rerie menegaskan sejatinya upaya penanggulangan bencana alam membutuhkan keterlibatan para pemangku kebijakan dan seluruh lapisan masyarakat untuk menjamin perlindungan dan keselamatan setiap anak bangsa. (mrk/jpnn)


Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler