Wakil Ketua MPR Tekankan Ketersediaan Bahan Pokok Harus Dibarengi Stabilitas Harga

Rabu, 06 Maret 2024 – 23:13 WIB
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat saat membuka diskusi daring bertema 'Pemenuhan Kebutuhan Pokok Menjelang Puasa dan Lebaran' yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (6/3). Foto: Dokumentasi Humas MPR RI

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mengatakan jaminan ketersediaan stok kebutuhan pokok harus disertai dengan stabilitas harga untuk meredam kekhawatiran masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat membuka diskusi daring bertema 'Pemenuhan Kebutuhan Pokok Menjelang Puasa dan Lebaran' yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (6/3).

BACA JUGA: Mendag Zulhas Pastikan Persediaan Bahan Pokok Aman Menjelang Ramadan

Dia mengungkapkan pasca-Pemilu 2024, khususnya sepekan terakhir, harga kebutuhan pokok melonjak.

"Lonjakan harga itu seringkali dikaitkan dengan lonjakan permintaan dan kurangnya ketersediaan pangan buntut dampak El Nino di sejumlah daerah," kata Lestari Moerdijat.

BACA JUGA: Presiden Soroti Harga Bahan Pokok yang Meroket, Cabai Paling Parah

Menurut Rerie yang akrab disapa, fenomena panic buying sempat terjadi di sejumlah daerah karena masyarakat khawatir kehabisan pasokan beras.

Dia menyebut kenaikan harga menjelang Ramadan dan Lebaran selalu berulang, seperti sebuah siklus.

BACA JUGA: Lestari Moerdijat Ungkap Manfaatan Kearifan Lokal Demi Mewujudkan Ketahanan Nasional

"Para pemangku kepentingan harus konsisten mengkaji berbagai faktor terkait penyebab kenaikan harga-harga bahan pokok di tanah air agar segera menghadirkan solusi," ujarnya.

Rerie pun mengajak semua pihak untuk berperan secara aktif dalam mengatasi fenomena kenaikan harga bahan pokok yang terjadi sehingga mampu meredam kekhawatiran masyarakat.

Sebagai informasi, diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Kementerian Perdagangan (Kemendag) Bambang Wisnubroto, Deputi Ketersediaan dan Stabilitas Pangan Badan Pangan Nasional I Gusti Ketut Astawa.

Hadir juga Kepala Divisi Perencanaan Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Epi Sulandari, dan Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung Prof Bustanul Arifin sebagai narasumber.

Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Kemendag Bambang Wisnubroto mengungkapkan dalam memantau kenaikan harga sejumlah kebutuhan bahan pokok, pihaknya bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait secara rutin melakukan pertemuan setiap Senin dalam rangka mengendalikan inflasi.

Dia menilai koordinasi dengan sejumlah kementerian dan lembaga dalam upaya mengendalikan harga bahan pokok tahun ini relatif lebih baik jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

"Tahun ini harus diwaspadai harga beras, minyak goreng curah, daging ayam dan telur ayam ras," kata Bambang.

Terkait harga minyak goreng, ujar Bambang, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan sekitar 24 produsen minyak goreng.

Bambang menegaskan bahwa harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng tetap Rp 14 ribu per kilogram, dan dia membantah akan terjadi kenaikan HET.

Diakuinya, isu kenaikan HET minyak goreng membuat sejumlah distributor minyak goreng menahan pasokan.

Bambang mencatat kenaikan harga sejumlah bahan pokok menjelang Ramadan dan Lebaran sekitar 27,25 persen.

"Menyikapi kondisi itu, pemerintah mengarahkan agar para pelaku usaha dan asosiasi bahan pokok melakukan penambahan pasokan," ungkap Bambang.

Selain itu, pemerintah juga mendorong kelancaran distribusi salah satunya dengan meminta Kemendag untuk mempercepat bongkar muat beras impor.

Sementara itu, Kepala Divisi Perencanaan Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Epi Sulandari mengungkapkan untuk memperkuat stok beras pihaknya mengupayakan pengadaan dari dalam negeri dan luar negeri.

"Stok beras Bulog saat ini tercatat 1,17 juta ton," sebutnya.

Dalam upaya mengurangi demand, tambah Epi, pihaknya sudah ikut menyalurkan bahan pangan ke sekitar 22 juta kepala keluarga yang membutuhkan.

Diakui Epi, distribusi beras pada dua bulan terakhir jumlahnya lebih dari dua kali jumlah pasokan bulan-bulan sebelumnya.

Menurut Epi, pada Februari 2024, Bulog menyalurkan 212 ribu ton beras dan pada Maret 2024 ditargetkan untuk menyalurkan 250 ribu ton beras.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapenas I Gusti Ketut Astawa mengungkapkan stok beras cukup menjelang Ramadan.

Apalagi, tambah dia, ada cadangan sekitar 1 juta ton beras sehingga ketersediaan beras hingga Lebaran terjamin.

"Selain itu, komoditas jagung sudah mulai panen di beberapa daerah sehingga harga jagung lebih terjangkau," terangnya.

Pasokan kedelai terbilang cukup, sedangkan impor bawang putih juga masih berlangsung untuk menjaga ketersediaan di pasar.

Ketut Astawa memperkirakan harga cabai akan berfluktuasi. Harga cabai besar diperkirakan naik, karena petani cabai di Jawa Timur waktu panennya mundur dari jadwal.

Sedangkan harga telur dan daging ayam ras, jelas dia, akan mengalami kontraksi karena terjadi peningkatan permintaan yang dibarengi dengan peningkatan harga pakan ayam.

Ketut Astawa berharap ada jaminan kecepatan dan kelancaran dalam pelaksanaan gerakan pangan murah di setiap daerah, mengoptimalkan penggunaan anggaran untuk memfasilitasi dan pendistribusian pangan ke sejumlah daerah yang mengalami defisit pangan.

Prof Bustanul Arifin berpendapat tantangan terberat pada 2024 ini adalah bagaimana kita mewujudkan kinerja ekonomi makro dan pertanian dengan baik.

"Fenomena kenaikan harga bahan pokok jelang Ramadan dan Lebaran merupakan gambaran dari timpangnya antara pertumbuhan pertanian dan ekonomi kita," ujar Prof Bustanul.

Menurut Prof Bustanul, jika pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 5,05 persen, pertumbuhan sektor pertanian nasional hanya 1,3 persen.

Dia menegaskan pengaruh El Nino ikut menekan pertumbuhan sektor pertanian dan mengerek harga komoditas pertanian.

"Harga beras yang terkerek naik tidak bisa hanya diatasi dengan impor semata, permasalahan di sektor distribusi juga harus segera diperbaiki," ungkapnya.

Apalagi, tambah Prof Bustanul, negara eksportir beras seperti India menjelang Pemliu pada Mei mendatang pemerintahnya melarang ekspor beras untuk menahan harga beras di dalam negerinya tetap terjangkau.

Bustanul memperkirakan harga beras tidak akan kembali ke Rp 12 ribu per kilogram, tetapi akan terjadi keseimbangan baru.

Pada kesempatan itu, wartawan senior Saur Hutabarat berpendapat dalam jangka pendek untuk kebutuhan Ramadan ketersediaan beras kemungkinan tidak ada masalah.

Namun, ujar Saur, untuk jangka panjang India dengan populasinya yang tumbuh 0,9 persen memiliki kewajiban di dalam negerinya untuk memperkuat pasokan pangannya.

Menurut Saur, Indonesia harus mempersiapkan diri dengan bijaksana, jangan sampai kebijakan di sektor pangan nasional tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Apalagi, tegasnya, pemerintah ada rencana memberi makan gratis kepada masyarakat.

"Harus dipikirkan berasnya dari mana?," tegas Saur mengingatkan. (mrk/jpnn)


Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler