Wamenag: Pembelajaran Agama yang Keliru Picu Intoleransi

Minggu, 04 April 2021 – 22:19 WIB
Wamenag Zainut Tauhid Sa'adi. Foto Humas Kemenag

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa'adi meyakini pesantren adalah tonggak utama dalam mengawal moderasi beragama.

Menurut dia, moderasi beragama tidak akan bisa tercipta tanpa prinsip adil dan berimbang.

BACA JUGA: Musisi Sekaligus Aktor Senior Ini Sedang Kritis, Mohon Doanya

Prinsip seperti itu yang selama ratusan tahun diajarkan di lingkungan pesantren.

Islam wasathiyah atau Islam tengahan, lanjut Wamenag, sesungguhnya menjadi solusi antara dua ekstremitas beragama.

BACA JUGA: Wamenag Sebut Umat Islam Mudah Dipecah-belah

Pertama, ekstrimitas beragama yang bersumber dari tafsir agama yang tekstualis, literer, dan hanya berdasar pada dhohir nash. 

"Ini menyebabkan pemahaman agama yang sempit, konservatif dan ultrakonservatif, yang pada titik tertentu dapat membenarkan kekerasan dan kebencian atas nama agama," terang Zainut dalan pesan elektroniknya, Minggu (4/4).

BACA JUGA: Brigjen Hendro Sebut Intoleransi dan Radikalisme Persoalan Serius Bangsa

Kedua, kata Wamenag, ekstremitas agama yang ingin melepaskan diri dari teks-teks agama dan mengarah pada pemahaman agama yang bebas dan liberal.

"Pemerintah meyakini pengetahuan agama Islam secara menyeluruh dan mendalam yang adil dan berimbang, banyak bermula dari tradisi pembelajaran di pesantren," jelas dia.

Zainut optimistis pendidikan model pesantren bisa menjadi jawaban atas meningkatnya semangat masyarakat untuk belajar agama saat ini.

Fenomena yang ditemui, meningkatnya gairah belajar agama di masyarakat seringkali tersalurkan melalui pembelajaran lewat internet dan media sosial.

Akibatnya sulit untuk dipastikan kesesuaian metode pembelajaran, sanad keilmuan, dan kapasitas pengajar agamanya.

Pembelajaran agama yang keliru terbukti berpengaruh pada munculnya eksklusivisme beragama dan intoleransi, yang berpotensi konflik di tengah masyarakat, serta mengancam kesatuan bangsa dan nilai-nilai kemanusiaan. 

"Kami mengajak seluruh masyarakat pesantren untuk memasyarakatkan dan memelihara Islam wasathiyah, yang merupakan solusi paling tepat menghadapi kemajemukan bangsa," jelas dia.

Zainut Tauhid mengatakan misi kenabian yang diemban pesantren sepatutnya memberi inspirasi menghadapi segala kesulitan yang hadir utamanya pada masa pandemi Covid-19 ini. (esy/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mau Salat Subuh, Tamrin Dibacok dari Belakang, Sontak Tempat Wudu Banjir Darah


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler