Wapres JK: Ini Peluang Bagus!

Jumat, 08 Mei 2015 – 07:23 WIB
Wapres Jusuf Kalla. Foto: dok.JPNN

JAKARTA - Muncul kekhawatiran jika ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini bakal tumbuh di bawah 5 persen, seiring dengan rendahnya realisasi pertumbuhan ekonomi pada Triwulan I 2015. Namun, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) punya kalkulasi lain.           
        
Menurut wapres, tahun ini ekonomi Indonesia menghadapi tantangan berat dari faktor global. Meski demikian, dia optimistis jika ekonomi Indonesia akan segera bangkit (rebound).

"Jadi tentu (pertumbuhannya) di atas 5 persen," ujarnya usai menjadi pembicara dalam Institute International Finance (IIF) Asian Summit 2015 di Jakarta kemarin (7/5).
        
Sebagaimana diketahui, Selasa lalu (5/5), Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Triwulan I 2015 yang hanya 4,71 persen (year on year/dibanding periode sama tahun sebelumnya). Angka ini mengejutkan karena banyak pihak berharap ekonomi Indonesia bisa membaik di era pemerintahan baru Jokowi - JK.
            
Realisasi 4,71 persen memang bisa membuat kening berkerut. Selain pertumbuhan triwulanan terendah sejak 2009, angka itu juga berarti mengkonfirmasi laju ekonomi Indonesia yang terus melambat sejak Triwulan II 2011. Usai tumbuh 6,58 persen pada triwulan tersebut, grafik laju pertumbuhan ekonomi memang terus turun.
      
JK yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia bisnis, sepertinya paham betul kekhawatiran itu. Karena itu, dia mencoba mengajak para pelaku usaha untuk melihat dari perspektif yang berbeda. "Ekonomi melambat karena harga komoditas melemah, itu justru peluang bagus," katanya.
         
Politikus senior yang sukses membangun kerajaan bisnis Kalla Group di sektor otomotif, keuangan, konstruksi, transportasi, logistik, hingga energi itu menyebut, harga komoditas yang rendah sama dengan harga bahan baku yang murah, sehingga menurunkan komponen biaya produksi.

BACA JUGA: Terobosan Daihatsu untuk Ekspor Diapresiasi Menperin

"Karena itu, inilah saat tepat berinvestasi," ucapnya mantap di depan ratusan eksekutif dari dalam dan luar negeri.
         
Menurut JK, keputusan pemerintah memangkas belanja subsidi untuk dialihkan ke belanja infrastruktur, akan segera terlihat dampaknya dalam waktu dekat. Karena itu, dia optimistis ekonomi Indonesia akan kembali bergerak naik. "Tiga - empat tahun lagi, (ekonomi Indonesia) akan tumbuh pesat," ujarnya.
          
Dengan kondisi tersebut, pelaku usaha yang saat ini menggelontorkan modal investasi, akan menangguk untung saat investasinya mulai masuk tahap operasional seiring kembali bergairahnya ekonomi domestik. Adapun pelaku usaha yang menunda investasi akan ketinggalan start. "Dua tahun lagi, kami sudah targetkan (ekonomi tumbuh) tujuh persen," katanya.

JK pun memastikan jika belanja pemerintah yang sepanjang awal tahun ini masih rendah, bakal digenjot melalui pembangunan infrastruktur. Dia mengakui, pada periode Januari - Maret, proyek-proyek memang masih baru memasuki tahap lelang, sehingga belum ada dana yang mengucur.

BACA JUGA: Wow.... Produksi Daihatsu Tembus Empat Juta Unit

"Tapi, Mei ini proyek-proyek perumahan, jalan tol, irigasi, semua mulai jalan, harus sudah jalan," ucapnya.
              
Namun, menggenjot proyek infrastruktur untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi bukan pekerjaan mudah. Karena itu, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro pun mulai realistis jika target pertumbuhan ekonomi 5,7 persen yang dipatok dalam APBN Perubahan 2015 akan sangat sulit dikejar. "Tapi tetap di level 5 persen (5,0 persen, Red) ke atas," ujarnya.
         
Sementara itu, dalam laporan terbarunya, International Monetary Fund (IMF) menyatakan perekonomian Indonesia dalam fase melemah. Menurut Deputi Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Kalpana Kochlar mengatakan, realisasi 4,71 persen pada Triwulan I 2015 mengindikasikan ekonomi akhir tahun, bisa lebih rendah dari proyeksi 5,2 persen yang sebelumnya dibuat IMF. "Sekarang kemungkinan hanya pada kisaran 5 persen," sebutnya.
        
Kochlar menyebut, pertumbuhan ekonomi pada Triwulan I 2015 di negara-negara yang bergantung pada harga minyak dunia, pasti berada di bawah ekspektasi. Salah satunya Indonesia. "Ini karena faktor turunnya ekspor," katanya.  (owi/ken/kim)

 

BACA JUGA: Pengelolaan Bangunan Publik Kurang Diperhatikan

BACA ARTIKEL LAINNYA... Setelah Bos RNI, Kini Giliran Dirut PT Pos Dilengserkan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler