Warga Rohingya: Di Depan Mata Saya, Adik & Paman Ditembak

Rabu, 06 September 2017 – 00:05 WIB
Para Pengungsi Rohingya di Rumah Deteksi Imigrasi (Rudenim) Belawan, Senin (4/9). Foto: Fachril/Sumut Pos/JPNN.com

jpnn.com - Warga etnis Rohingya yang menjadi korban kekejaman rezim Myanmar yang kabur ke luar neger dan saat ini masih di Rumah Deteksi Imigrasi (Rudenim) Belawan, Medan, merasakan trauma yang mendalam.

Salah satu imigran Rohingya, Muhammad Jabar mengaku sudah berada di Indonesia selama 5 tahun. Pelariannya dari Myanmar karena tidak tahan melihat kekejaman pemerintah dan militer yang melakukan kekerasan kepada mereka.

BACA JUGA: Besok, FPI Bekasi Sambangi Kedubes Myanmar

"Di depan mata saya, adik dan paman saya ditembak, ayah saya diculik dan rumah-rumah dibakar. Semua keluarga saya habis, makanya saya memilih kabur ke negara luar," kata Jabar kepada Sumut Pos (Jawa Pos Group), di Rudenim Belawan, Senin (4/9).

Peristiwa sadis dialami keluarganya terjadi pada 5 tahun silam. Masa itu, pemerintahan Myanmar menolak keberadaan etnis Rohingya.

BACA JUGA: Kada Diminta Antisipasi Aksi Solidaritas terhadap Etnis Rohingya

Akibatnya, seluruh warga Rohingya menjadi sasaran kekerasan dan kekejaman para militer Myanmar.

"Banyak masjid, Alquran dan rumah dibakar pada masa itu, mereka cukup kejam. Kami warga Rohingya mau dihabisi oleh pemerintah," kata Jabar yang sudah fasih berbahasa Indonesia ini.

BACA JUGA: Pernyataan Sikap Forum Pemuda Lintas Agama Terkait Rohingya

Diabisa sampai ke Indonesia dengan cara menggunakan sampan mengarungi laut hingga menyasar ke daratan Indonesia. Kepergiannya ke Indonesia meninggalkan seorang anak dan istri.

Belakangan, istrinya telah meninggal setahun lalu ditembak oleh militer Myanmar. "Saya dengar dari teman satu negara saya, setahun lalu istri saya sudah meninggal ditembak militer, mamak, adik dan anak saya tidak tahu sekarang bagaimana. Karena rumah kami sudah habis dibakar," ungkap pria berusia 38 dengan nada sedih.

Pembantaian dan kekejaman yang terus-menerus terjadi, menyisakan trauma mendalam bagi Jabar. Makanya, dia memilih hidup di dalam penjara Rudenim Belawan daripada hidup di Myanmar dengan kondisi tersiksa. "Kami tak mau pulang ke Myanmar, kami lebih baik hidup seperti ini," ungkap Jabar.

Harapan Jabar yang mewakili sebanyak 27 imigran Rohingya Myanmar ini, mereka bisa menjadi warga negara lain yang bisa diakui oleh pemerintah.

"Kami sangat berharap pemerintah Indonesia bisa memberikan kami kehidupan dan mengakui menjadi warga negara, agar kami bisa bekerja dan berkeluarga," harapnya.

Disinggung dengan adanya peristiwa yang belakangan ini terjadi, Jabar mengaku sangat sedih dengan penderitaan saudara-saudara mereka. Bahkan, dia yakin pemerintah Myanmar akan terus membantai etnis Rohingya di Myanmar.

"Kami sebenarnya adalah bagian dari Myanmar, nenek moyang kami sudah ada 900 tahun lalu di Myanmar. Cuma, kami Rohingya Muslim tidak diakui dan bakal terus dibunuh. Jadi, apa yang terjadi saat ini merupakan kejadian yang sama pada masa kami kabur dari Myanmar," cerita Jabar.

Hal senada juga disampaikan Mussrof Husein, pria berusia 21 tahun yang sudah 9 bulan di Indonesia. Dia mengaku trauma dengan kekejaman para militer Myanmar yang membantai warga Rohingya.

"Saya kabur dari Myanmar karena rumah dan semua keluarga saya dibunuh. Sebelumnya, saya sudah berada di Malaysia 3 tahun, belakangan ini saya coba mencari kerja dan kabur ke Indonesia," kata Mussrof.

Dikatakan Mussrof, seluruh warga Rohingya yang berada di Myanmar mengalami pembantaian sadis.

Mereka sangat mengharapkan perhatian dunia untuk keselamatan warga dan keluarga mereka yang masih berada di Myanmar.

"Ini sudah lama terjadi, saudara-saudara kami bakal terus disiksa dan dibunuh. Militer Myanmar sangat kejam, kami tahu apa yang mereka rasakan di sana, mereka pasti terancam dan tersiksa," ungkap Mussrof.

Terpisah, Kepala Rudemin Belawan, Abdul Karim SH, MH mengatakan, adanya isu yang sedang hangat mengenai pembantai warga Rohingya tidak mempengaruhi psikologis bagi penghuni Rohingya di Rudemin Belawan.

"Mereka tahu ada peristiwa yang terjadi di negara mereka, tapi kita terus memberikan terapi dan pemahaman secara psikologis melalui lembaga IOM yang datang berjumpa dengan para imigran," kata Abdul Karim.

Dijelaskan Abdul Karim, di Rudenim Belawan ada sebanyak 27 imigran Rohingya Myanmar. Mereka dapat berbaur dengan para imigran lain dan tidak pernah melakukan tindakan di luar akal sehat.

"Untuk saat ini, tidak ada masalah khusunya bagi warga Rohingya Myanmar. Kita terus melakukan pengawasan dan memberikan pencerahan dengan pelatihan sosial, seni, penidikan dan olah raga,” jelas Abdul Karim.

Ditanya jumlah seluruh penghuni di Rudenim Belawan dan apakah ada perselisihan atau kendala yang terjadi, Abdul Karim mengatakan, ada sebanyak 309 penghuni imigran dari berbagai negara seperti Srilangka, Myanmar, Somalia, Pakistan, dan Palestina.

"Seluruh imigran yang berada di Rudenim dapat berbaur dan bersosialisasi dengan baik, jadi, selama ini tidak ada perselisihan atau tekanan mental yang mereka hadapi," jelas Abdul Karim di ruang kerjanya. (fac/bam/adz)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jokowi-Kiai Said Bahas Tragedi Rohingya


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler