Warga Sulut Demam dan Lemas Setelah Suntik Vaksin AstraZeneca, Ini Penjelasan Pemerintah

Sabtu, 03 April 2021 – 06:05 WIB
Vaksin buatan AstraZeneca. Foto: Reuters/Peter Cziborra

jpnn.com, JAKARTA - Pemerintah merespons cepat jika terdapat Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI) yang dilaporkan masyarakat termasuk soal vaksin AstraZeneca yang baru-baru ini terjadi Sulut.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan bahwa vaksin Covid-19 adalah vaksin baru. Oleh karena itu upaya surveilans terus menerus dilakukan terkait temuan.

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: Sesama Napi Teroris Bertengkar, Jokowi Singgung Kapolri dan Panglima TNI, Partai Ummat Kuda Hitam

Menurutnya, KIPI Monitoring ini menjadi penting dan bermanfaat dalam suksesnya program vaksinasi. Seperti yang baru-baru ini terjadi di Sulawesi Utara terkait vaksin AstraZeneca, yang telah dilaporkan ke Kementerian Kesehatan dan sudah ditangani dengan baik. 

Menurut Prof Wiku, Komnas KIPI telah mengeluarkan surat rekomendasi yang ditujukan kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara melalui Tim Komisariat Daerah KIPI, untuk melanjutkan program vaksinasi Covid-19

BACA JUGA: Usai Disuntik Vaksin AstraZeneca, Sejumlah Warga Sulut Demam, Menggigil, Sakit Kepala, Lemas

"Masyarakat yang mengalami KIPI sudah memperoleh penanganan. Temuan KIPI ini masuk dalam kategori ringan," kata Wiku dalam keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19.

Satgas Penanganan Covid-19 kembali mengedukasi tentang penjelasan reaksi simpang atau efek samping vaksin dan KIPI.

BACA JUGA: Ketua DPD Mengingatkan Tidak Boleh Ada Drama Bisnis Vaksin

Dia mengatakan terdapat dua indikator besar yang menentukan efektivitas vaksin dalam menimbulkan kekebalan pada seseorang. Yakni dari kualitas vaksin dan prosedur vaksinasi yang baik.

Dalam prosedur pemberian vaksin, penerima vaksin berhak mendapatkan pelayanan. Di antaranya pertama, skrining mandiri yang meliputi riwayat penyakit, kontak erat, perjalanan dan konsumsi obat.

Kedua, pemeriksaan tanda vital seperti tekanan darah. Ketiga, komunikasi terkait keamanan vaksin, untuk meningkatkan rasa aman pasien.

Keempat, penyediaan fasilitas dan pelayanan yang memberikan kenyamanan pada pasien, misalnya bilik khusus penerima vaksin yang berhijab, maupun posisi penyuntikan yang nyaman.

Yang tak kalah penting adalah tahapan pra vaksinasi. Tahapan ini bertujuan memastikan prosedur medis dapat mencegah kejadian yang tidak diinginkan.

Para petugas lapangan harus melakukan skrining yang tepat kepada peserta vaksinasi sebelum memberikan vaksin. Vaksin hanya diberikan untuk individu yang sehat.

"Apabila ada yang tidak memenuhi syarat, agar tidak divaksin. Kepada masyarakat peserta vaksinasi harus benar-benar memperhatikan kondisi tubuhnya sebelum menerima vaksin. Apabila tidak memenuhi syarat, konsultasikan dengan petugas vaksinasi," tambah Wiku.

Selanjutnya, setelah vaksinasi dilakukan, ada dua peluang kemunculan kejadian yang tidak diharapkan yaitu KIPI maupun reaksi simpang atau efek samping.

Adanya KIPI paska vaksinasi adalah sesuatu yang tidak diharapkan. Namun, KIPI tidak berkaitan langsung secara sebab akibat dengan vaksin. Misalnya karena pengaruh genetik, pengaruh obat lain maupun kesalahan medis dan faktor lainnya.

Sementara reaksi simpang adalah juga kejadian yang tidak diharapkan. Terbukti secara ilmiah berkaitan langsung secara sebab akibat dengan vaksin.

Secara umum, kemunculan efek samping suatu produk farmasi lebih sedikit dibandingkan dengan kejadian ikutannya, mengingat perjalanan produksinya yang cukup kompleks dan pengawasan yang sangat ketat, yaitu standar keamanan yang tinggi di tiap tahap pengembangannya, produksinya maupun distribusinya.

Sejauh ini terkait temuan KIPI di lapangan, umumnya berupa rasa nyeri, timbul kemerahan maupun pembengkakan di area lokal penyuntikan.

Pada sisi lain, efek secara sistemik yang muncul ditemukan adalah keletihan, sakit kepala, rasa nyeri otot atau sendi dan demam.

Namun, kata Prof Wiku, masyarakat tidak perlu khawatir jika mengalami hal serupa setelah divaksinasi. Rasa sakit dan rasa tidak nyaman tersebut dapat dikurangi dengan beberapa upaya seperti pengompresan di area suntik dan menjaga hidrasi tubuh terjaga dengan baik.

"Namun kembali saya ingatkan, walaupun kejadian-kejadian tersebut terbilang umum ditemukan, apabila dirasakan dalam waktu yang cukup lama, atau lebih dari satu bulan, atau mengakibatkan efek yang berat pada tubuh, maka masyarakat diharapkan secara proaktif melaporkan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk penanganan segera," ujar Wiku. (ngopibareng/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler